Pelatihan Deteksi Molekuler Bakteri Patogen Escherichia Coli pada Pangan dengan Multipleks Polymerase Chain Reaction (PCR)

03-05-2016 Pusat Riset Obat dan Makanan Dilihat 2593 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) adalah institusi pengawas obat dan makanan yang menerapkan prinsip learning organization sehingga menempatkan peningkatan kompetensi sumberdaya manusia (SDM) dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan terkini sebagai komponen penting dalam tugas pengawasan. Secara khusus, peningkatan kompetensi SDM di bidang pengujian menjadi prioritas mengingat BPOM merupakan garda terdepan untuk pengujian pangan sebagaimana diamanahkan oleh pasal 45 ayat 2 dari Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 2004  tentang Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan. Salah satu perkembangan pesat dalam alternatif metode pengujian adalah menggunakan teknik molekuler berbasis Deoxyribonucleic acid (DNA).  Setiap makhluk hidup mempunyai DNA yang dapat diisolasi, diperbanyak, dan diidentifikasi menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR) dan elektroforesis. 

 

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan (SPKP) bekerjasama dengan Pusat Riset Obat dan Makanan (PROM) menyelenggarakan Pelatihan Deteksi Molekuler untuk Isolasi dan Identifikasi Bakteri Patogen E. coli (Enterotoxigenic E.coli (ETEC), Enterohaemorrhagic E.coli (EHEC), dan Enterophatogenic E.coli (EPEC)) dengan Multipleks PCR pada tanggal 18-22 April 2016 di Jakarta. Tujuan pelatihan ini adalah meningkatkan kapasitas peserta dalam melaksanakan uji molekuler untuk bakteri yang diduga E.coli  dari sampel pangan. Pelatihan ini merupakan suatu terobosan untuk memperkuat kapasitas pengujian pangan secara molekuler di BPOM yang selama ini telah melaksanakan uji molekuler untuk identifikasi spesifik spesies dan pangan rekayasa genetika.

 

Pelatihan diikuti oleh 9 (sembilan) orang peserta dari Balai Besar POM (BBPOM) di Banda Aceh, BBPOM di Yogyakarta, BBPOM di Surabaya, BBPOM di Makassar, BBPOM di Mataram, Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPOMN) dan PROM. Peserta mendapat materi kuliah tentang foodborne pathogen, prinsip PCR dan multipleks PCR, sequencing dan teknik penyimpanan bakteri oleh Dr Diana Waturangi, pakar teknobiologi dari Unika Atmajaya. Selain kuliah dan diskusi dengan pakar, peserta juga melakukan praktikum teknis pengujian molekuler di laboratorium untuk mengasah keterampilan mereka dalam esktraksi DNA, pengenceran DNA, optimasi primer, amplifikasi DNA dengan PCR, elektroforesis hasil PCR dan validasi metode. Peserta juga mempelajari teknik penyimpanan bakteri sehingga isolat bakteri dari pangan dapat disimpan di laboratorium Balai POM, dikirim ke PROM untuk identifikasi lebih lanjut, dan disimpan dalam bank bakteri koleksi BPOM. 

 

Ilmu dan tambahan keterampilan yang dipelajari oleh peserta BBPOM selama satu minggu pelatihan di laboratorium PROM diharapkan dapat meningkatkan kecakapan petugas pengujian molekuler ketika kembali melaksanakan tugasnya di daerah. Peserta didorong untuk mendiseminasikan materi pelatihan kepada rekan kerja di BBPOM masing-masing. BBPOM diharapkan juga membuka jejaring dengan perguruan tinggi setempat, khususnya perguruan tinggi yang memiliki pakar di bidang molekuler, untuk mendukung keberlangsungan pengembangan kapasitas pengujian molekuler di daerah. Pada lingkup yang lebih luas, hasil pelatihan ini turut berkontribusi dalam penguatan kapasitas pengujian dengan metode molekuler untuk mengonfirmasi masalah keamanan pangan yang merupakan salah satu kapasitas inti keamanan pangan yang dipersyaratkan International Health Regulation (IHR) tahun 2005.

 

 

 

Pusat Riset Obat dan Makanan

 

 



Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana