2025 APAC Health and Life Sciences Summit, Kolaborasi Strategis Menjadi Kunci Masa Depan Kesehatan Indonesia

03-06-2025 Kerjasama dan Humas Dilihat 1015 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Jakarta – Kepala BPOM Taruna Ikrar menekankan pentingnya kolaborasi dalam upaya membawa perubahan dan peningkatan kualitas kesehatan di masa depan, yang mencakup kolaborasi lintas negara, lintas sektor, serta lintas disiplin ilmu. Pandangan tersebut disampaikan melalui sambutannya pada kegiatan 2025 Asia Pacific Annual Conference (APAC) Health and Life Sciences Summit pada Selasa (3/6/2025).

2025 APAC Health and Life Scences Summit merupakan platform pertemuan yang menyoroti perkembangan pesat di bidang lanskap kesehatan dan ilmu hayati Indonesia. Indonesia menjadi tuan rumah pertama kalinya untuk kegiatan yang diselenggarakan oleh ASK Health Asia dengan didukung oleh Kementerian Kesehatan RI dan BPOM.

Pertemuan yang berlangsung selama 3 hari pada 2—4 Juni 2025 ini mempertemukan lebih dari 150 pembicara dari berbagai negara, terdiri dari pejabat pemerintah, pelaku industri farmasi, akademisi, organisasi internasional, dan investor. Mengusung tema “Spotlight Indonesia”, pertemuan ini membahas beberapa topik yang mendukung visi Presiden RI, khususnya untuk mewujudkan Asta Cita ke-3 dan ke-4.

Sejumlah sesi dalam forum ini membahas berbagai isu penting yang membentuk lanskap layanan kesehatan Indonesia yang terus berkembang, mulai dari reformasi yang sedang berlangsung dan dampaknya terhadap kebijakan dan industri, hingga kemitraan lintas kawasan dari berbagai sektor (publik, swasta, dan filantropi), pengembangan kapasitas, ekosistem layanan kesehatan yang inklusif, dan peluang investasi dalam life sciences.

Hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko, Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan L. Rizka Andalucia, juga CEO & Founder ASK Health Asia Chang Liu. Hadir sebagai perwakilan BPOM dalam kesempatan ini, yaitu Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropik, Prekursor, dan Zat Adiktif (Plt. Deputi 1) Tri Asti Isnariani, Pakar Ahli Sediaan Farmasi BPOM Rita Endang, beserta jajaran pimpinan tinggi madya yang terkait.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin membuka forum dengan menegaskan komitmen pemerintah untuk mentransformasi sistem kesehatan nasional, memperkuat kemitraan global, dan mengundang investasi asing dalam sektor kesehatan Indonesia yang berkembang pesat. Ia menekankan pentingnya adopsi teknologi dan model layanan inovatif.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko menyampaikan pentingnya penelitian berbasis kerja sama untuk meningkatkan pengembangan sustainable health and life sciences di Indonesia. Ia juga menekankan fokus BRIN dalam memanfaatkan sumber alam terbarukan dan infrastruktur nasional untuk menghadapi tantangan kesehatan lokal, seperti pengembangan vaksin halal.

Sementara itu, melalui sambutannya yang disampaikan secara daring, Kepala BPOM Taruna Ikrar memaparkan mengenai reformasi regulasi yang tengah dilakukan Indonesia. Ia juga membahas perlunya perkuatan pada sistem regulasi serta mendorong inovasi di sektor life sciences sebagai langkah dalam memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat.

“Visi Indonesia tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat di dalam negeri, tetapi kami juga berupaya untuk dapat menjadi regional hub inovasi kesehatan dan manufaktur produk farmasi yang aman, bermutu, dan berkualitas,” tutur Kepala BPOM.

Taruna Ikrar menggarisbawahi bahwa Indonesia, melalui BPOM, terus berupaya menghasilkan produk farmasi sesuai kriteria cara pembuatan yang baik yang berlaku secara global serta meningkatkan standar dari regulasi yang akan dihasilkan. Salah satunya melalui upaya BPOM saat ini untuk menuju WHO Listed Authority (WLA).

“Ini tidak hanya akan meningkatkan kredibilitas obat Indonesia di tingkat global serta memperkuat daya saing di kancah internasional, namun juga menunjukkan komitmen Indonesia untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mendorong inovasi untuk kemandirian industri farmasi,” lanjutnya. Kegiatan ini, menurut Taruna lagi, menjadi kesempatan yang baik bagi Indonesia untuk kembangkan kerja sama inovasi dan transfer teknologi kesehatan di kawasan asia pasifik.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, juga dilakukan pertemuan bisnis yang menjadi ajang bagi pemimpin industri dapat berdiskusi secara langsung dengan para pemangku kepentingan di Indonesia, termasuk Kementerian Kesehatan dan International Finance Corporation (IFC). Salah satu momen utama dalam rangkaian ini adalah sesi diskusi yang dipimpin oleh Menteri Kesehatan RI dengan fokus pembahasan pada kolaborasi lintas regional serta inisiatif masa depan di Indonesia. (HM-Herma)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana