Jakarta - “Tantangan globalisasi serta luasnya cakupan wilayah pengawasan di Indonesia dengan keterbatasan sumber daya manusia (SDM) pengawas obat dan makanan, mendorong BPOM untuk melakukan pengawasan berbasis digital agar lebih efektif dan efisien”, demikian disampaikan Sekretaris Utama BPOM Elin Herlina dalam kegiatan sosialisasi rancangan peraturan BPOM tentang penerapan 2D Barcode, Jumat (6/7).
Tujuan dari peraturan penerapan 2D barcode ini adalah untuk meningkatkan kualitas, efektivitas, dan efisiensi pengawasan obat dan makanan yang beredar di masyarakat.
2D Barcode adalah representasi grafis dari data digital dalam format dua dimensi berkapasitas decoding tinggi yang dapat dibaca oleh alat optic yang digunakan untuk identifikasi, penjejakan, dan pelacakan. Sistem ini dicetak pada kemasan dengan tinta warna hitam dengan dasar warna putih atau warna lain dan harus mampu dibaca oleh aplikasi Track and Trace BPOM.
Kegiatan sosialisasi dihadiri oleh para pelaku usaha bidang obat, kosmetik, obat tradisional dan pangan sebagai pemilik data awal dan juga pemilik izin edar yang akan bersinggungan langsung dengan sistem dan aplikasi yang akan diterapkan ini. Dengan menghadiri kegiatan ini, pelaku usaha diharapkan dapat lebih mengerti dan memahami sistem 2D barcode yang akan diberlakukan.
Proses penerbitan 2D Barcode sendiri terbagi menjadi dua, yaitu dengan melakukan permohonan langsung ke BPOM oleh pelaku usaha atau diterbitkan secara mandiri oleh Pelaku Usaha dengan mengisi form pada aplikasi Track and Trace. Kemudahan dalam akses aplikasi ini tentunya akan mempermudah para pelaku usaha untuk menerbitkan 2D Barcode produk mereka dan tentunya cakupan pengawasan ini akan lebih luas karena bisa diakses kapan saja dan dimana saja.
Elin Herlina juga menjelaskan bahwa sistem 2D barcode ini akan menyediakan pelayanan untuk masyarakat yang akan berpartisipasi langsung dalam pengawasan obat dan makanan. "Dengan partisipasi dan keterlibatan aktif dari pelaku usaha dan masyarakat, pengawasan obat dan makanan dapat berjalan lebih optimal", tutup Elin Herlina. (HM- Chandra)
Biro Humas dan Dukungan Strategis Pimpinan
