Jakarta - Sebagai bentuk dukungan produksi dan konsumsi obat dan makanan berkelanjutan, BPOM menggelar forum “Menuju Environmentally Sustainable Corporate Governance di Industri Obat dan Makanan” pada Senin (17/07/2023). Tema yang diangkat adalah BPOM Mendukung Produksi dan Konsumsi Obat dan Makanan Berkelanjutan untuk Indonesia Maju dalam rangka world environment day (WED). Kegiatan ini diselenggarakan secara hybrid dan juga di-relay oleh 73 unit pelaksana teknis (UPT) BPOM di seluruh Indonesia.
Kegiatan ini merupakan acara puncak dalam rangkaian world environment day (WED). Sebelum acara ini, BPOM telah menyelenggarakan serangkaian kegiatan yang terkait dengan lingkungan hidup, seperti Kampanye Gerakan BPOM Peduli Lingkungan di Saparua, Ambon, dengan materi yang disampaikan terkait Gerakan Ayo Buang Sampah Obat dengan Benar, pengisian ulang kosmetik, dan upaya mengurangi food waste atau sampah makanan.
Kepala BPOM RI, Penny K. Lukito menjelaskan industri bersama BPOM menjadi garda terdepan untuk melindungi bumi di sektor obat dan makanan sesuai dengan Sustainable Development Goals 2030 (SDGs) ke-12, yaitu konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Hal tersebut menjadi salah satu strategi menuju pencapaian visi Indonesia Emas 2045 dengan salah satu pilarnya adalah pembangunan ekonomi berkelanjutan yang berkomitmen terhadap lingkungan hidup dan pembangunan rendah karbon.
“Pada hari ini, kita bersama-sama act together sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing, menyelaraskan komitmen dan langkah kita dalam bersikap arif terhadap lingkungan, khususnya pada sektor obat dan makanan,” jelas Kepala BPOM.
Dalam rangkaian kegiatan hari ini diadakan forum dialog bertajuk Menuju Environmentally Sustainable Corporate Governance. Forum dialog ini secara langsung dimoderatori oleh Kepala BPOM dengan menghadirkan beberapa narasumber ahli, yaitu Direktur Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dasrul Chaniago; Perencana Ahli Utama Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Arifin Rudiyanto; Pimpinan Indonesia Water Institute, Firdaus Ali; dan Advisor National Plastic Action Partnership (NPAP)/Country Director World Resources Institute (WRI), Nirarta Samadhi.
Pada paparannya, Dasrul Chaniago menjelaskan mengenai industrialisasi atau produksi dan dampaknya bagi lingkungan, serta penerapan produksi berbasis lingkungan. Selanjutnya, Arifin Rudiyanto menyampaikan materi mengenai peta jalan dan strategi produksi dan konsumsi berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045. Narasumber selanjutnya, Firdaus Ali menjelaskan terkait efisiensi sumber daya dalam produksi dan konsumsi berkelanjutan kebijakan nasional yang mendorong insentif dan disinsentif dalam mendukung keberlanjutan produksi dan konsumsi. Sementara, Dr. Nirarta Samadhi menyampaikan pembahasan mengenai smart and eco packaging: tantangan penerapan ke depan dan dampaknya pada lingkungan.
Setelah paparan, dilanjutkan penyampaian respons oleh penanggap, yaitu Kepala Pusat Industri Hijau Kementerian Perindustrian, Herman Supriadi; dan Sekretaris Jenderal Indonesia Environmental Scientist Association (IESA), Lina Tri Mugi Astuti. Dari perwakilan industri yang juga memberikan tanggapan adalah Presiden Direktur dan General Manager PT GlaxoSmithKline Indonesia, Manishkumar Munot; Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sidomuncul, Irwan Hidayat; dan Head of Corporate Sustainability Indofood Group, Bapak Stefanus Indrayana.
Herman Supriadi memberikan tanggapan bahwa industri farmasi yang bersaing dan berkelanjutan dapat dimulai melalui industri hijau dengan pengelolaan emisi gas rumah kaca dan efisiensi energi, penurunan intensitas penggunaan air, pengelolaan limbah, dan green procurement. Selanjutnya, Lina menyatakan limbah perlu menjadi perhatian, terutama limbah pascakonsumsi yang masih menjadi PR (pekerjaan rumah) besar bagi industri maupun masyarakat. Menurutnya, masih perlu ada perubahan perilaku masyarakat Indonesia dalam membuang sampah.
Berikutnya, Irwan Hidayat memberikan apresiasi kepada BPOM terkait acara ini karena BPOM sebagai regulator industri dapat membimbing industri untuk membawa dampak lingkungan yang lebih baik. Sementara, Stefanus Indrayana menyampaikan bahwa industri pangan dapat berperan dalam keberlanjutan melalui pengelolaan food loss, food waste, biodegradable packaging, dan eco-labelling. Penanggap terakhir, Manishkumar Munot, menyampaikan diperlukannya act together dari segi industri, pemerintah, dan masyarakat dalam menyelamatkan lingkungan.
“BPOM akan terus mengembangkan fleksibilitas dan inovasi kebijakan, serta regulasi di bidang obat dan makanan berwawasan lingkungan, termasuk kebijakan insentif dan disinsentif bagi pelaku usaha dikaitkan dengan praktik usaha berkelanjutan dan berpihak pada lingkungan,” tutup Kepala BPOM.
Sesi selanjutnya dari kegiatan ini, Kepala BPOM secara langsung memberikan Penghargaan untuk Keberlanjutan Lingkungan Industri Farmasi dan Makanan oleh BPOM (BPOM Environmental Sustainability Award for Pharmaceutical and Food Industry). Penghargaan diberikan kepada 28 industri obat dan makanan yang proaktif menerapkan produksi berkelanjutan berwawasan lingkungan, baik perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA). Selain itu, digelar pameran yang diikuti oleh 26 industri obat dan makanan peduli lingkungan yang menampilkan inovasi teknologi berwawasan lingkungan yang diimplementasikan di industri obat dan makanan.
Dalam kesempatan tersebut, BPOM juga menerima penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) untuk Gerakan Menanam 11.828 Tanaman Obat di seluruh Indonesia secara serentak yang dilakukan pada 16 Juli. Kegiatan penanaman pohon ini dilakukan di Jakarta dan di Balai Besar/Balai/Loka POM di 73 titik dengan melibatkan lintas sektor di daerah. Penghargaan diserahkan langsung oleh Pendiri MURI, Jaya Suprana, kepada Kepala BPOM.
Pemenang Penghargaan untuk Keberlanjutan Lingkungan Industri Farmasi dan Makanan
- Kategori Industri Obat
- Penanaman Modal Dalam Negeri
- Titanium: PT Biofarma
- Platinum: PT Hexpharm Jaya
- Gold: PT Soho Industri Farmasi
- Silver: Sanbe Farma Unit 3
- Bronze: Otto Pharmaceutical
- Penanaman Modal Asing
- Titanium: PT Otsuka
- Platinum: PT BII
- Gold: Glaxo Wellcome Indonesia
- Silver: PT Otsuka
- Bronze: PT BII
- Penanaman Modal Dalam Negeri
- Kategori Industri Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan
- Penanaman Modal Dalam Negeri
- Titanium: PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk
- Platinum: PT Bintang Toedjoe
- Gold: PT Kino Indonesia Tbk
- Penanaman Modal Dalam Negeri
- Kategori Kosmetik
- Penanaman Modal Dalam Negeri
- Titanium: PT Paragon Technology & Innovation
- Platinum: Wings Group
- Gold: PT Sensatia Botanicals
- Penanaman Modal Asing:
- Titanium: PT Procter and Gamble Operations Indonesia
- Platinum: PT L’oreal indonesia/PT Yasulor Indonesia
- Gold: PT Beiersdorf Indonesia
- Penanaman Modal Dalam Negeri
- Kategori Industri Pangan Olahan
- Penanaman Modal Dalam Negeri
- Titanium: Mayora Group
- Platinum: Indofood Group
- Gold: PT Santos Jaya Abadi
- Silver: Bina Karya Prima
- Penanaman Modal Asing
- Titanium: PT Nestle Indonesia
- Platinum: PT Amerta Indah Otsuka
- Gold: PT Unilever Indonesia
- Silver: Frisian Flag Indonesia
- Bronze: Danone Indonesia Group
(HM-Maulvi)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
