Waingapu – BPOM hadir pada Rapat Koordinasi (Rakor) Pemajuan Kebudayaan, Inovasi, dan Kreativitas yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Republik Indonesia pada Selasa (23/05/2023). Rakor ini dihadiri oleh Pelaksana tugas (Plt.) Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik (OTSKK), Mohamad Kashuri; Direktur Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha OTSKK, Asih Liza Restanti; Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Utama, Reri Indriani; serta Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Madya dan Ahli Muda.
Rakor ini menghadirkan beberapa Kementerian/Lembaga (K/L) yang turut melakukan inovasi di Sumba Timur terkait dengan bidang tugas pokok dan fungsinya masing-masing. K/L yang hadir, antara lain Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi; Perpustakaan Nasional; Kementerian Pertanian; Badan Riset dan Inovasi Nasional; Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif; serta Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.
Rapat dibuka oleh Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan, dan Prestasi Olahraga, Maman Wijaya. Dalam pemaparannya, Maman menyatakan kegiatan ini bertujuan menciptakan perubahan berupa inovasi ke arah yang lebih baik, serta mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Sumba Timur. “Melalui acara ini, semoga dapat menghadirkan transformasi secara sosial di Sumba Timur, baik dari sisi kebudayaan dan inovasi maupun kesejahteraan masyarakat,” harap Maman Wijaya.
Kegiatan ini disambut baik oleh Bupati Sumba Timur, Khristofel Praing. Bapak Bupati menjelaskan bahwa jagung dan sorgum merupakan komoditi pangan di Sumba Timur yang berpeluang besar untuk dikembangkan. Selain itu, terdapat potensi juga di bidang perikanan, perkebunan, maupun kehutanan.
“Sumba Timur dalam 2 tahun berturut turut menjadi Kabupaten Paling Inovatif dalam kategori Daerah Tertinggal pada ajang Innovative Government Award 2022. Hal ini merupakan suatu upaya besar dan semoga secara nyata dapat memberikan dampak dan efek positif bagi masyarakat,” harap Khristofel.
Plt. Deputi II, Mohamad Kashuri, menyampaikan komitmen BPOM untuk mendorong pengembangan wisata kebugaran dan jamu. Wellness tourism atau wisata kebugaran merupakan bagian dari wisata kesehatan yang bertujuan menjaga kebugaran tubuh wisatawan. Kegiatan yang biasanya dilakukan, antara lain yoga, meditasi, perawatan spa, dan pemanfaatan pengobatan tradisional lainnya, termasuk melalui konsumsi jamu.
Wisata kesehatan dan wisata kebugaran memiliki multiplier effect yang menjangkau seluruh aspek dengan pemberdayaan sumber daya lokal, seperti penyediaan healthy food (makanan sehat) oleh masyarakat setempat. Bidang ini berpotensi memiliki nilai jual yang tinggi dengan pengembangan yang tepat terkait upaya promotif dan preventif kesehatan.
“BPOM senantiasa berpihak kepada UMKM obat tradisional dan kosmetika, di antaranya dengan memberikan kemudahan berusaha melalui penerapan Cara Pembuatan Obat Tradisional/Kosmetika yang Baik (CPOTB/CPKB) Bertahap, pemberian Sertifikat Pemenuhan Aspek (SPA) CPKB Bertahap, pelaksanaan sampling dan uji produk oleh Balai Besar/Balai POM sebagai persyaratan registrasi, dan pemberian keringanan biaya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pelayanan publik. Kami juga terus mendampingi dalam perkuatan ekosistem ekspor, pemanfaatan platform digital, dan peningkatan registrasi produk UMKM,” paparnya.
Setelah rapat koordinasi selesai, acara dilanjutkan dengan Gerakan Aksi Nyata Penanaman 10 juta pohon dilakukan sebagai bagian dari rangkaian agenda yang dilaksanakan di SD Negeri Rampamanu, Kabupaten Sumba Timur.
