BPOM Siap Kembangkan Ekosistem Pengembangan Pengobatan Tradisional di Bali

13-07-2023 Kerjasama dan Humas Dilihat 1538 kali

Bali –  Kepala BPOM RI, Penny K. Lukito menghadiri rangkaian kegiatan pada Festival Wariga Usadha Siddhi: Membumikan Sistem Perhitungan Waktu dan Keunggulan Ilmu Pengobatan Bali, di Taman Baca Sanggingan, Ubud pada Selasa (11/07/2023). Festival yang diselenggarakan oleh Yayasan Puri Kauhan Ubud ini bertujuan membumikan wariga dan usadha agar makin lestari, maju, dan berkembang, serta memberikan manfaat yang lebih besar dalam kehidupan masyarakat Bali, nusantara, dan juga dunia.

Wariga merupakan pengetahuan yang mengajarkan sistem perhitungan waktu, terutama dalam menentukan ala-ayuning dewasa (hari baik dan buruk) dalam rangka memulai suatu kegiatan. Sementara, usadha merupakan ilmu pengobatan tradisional Bali yang beragam dari sisi cara pengobatannya. 

Cara pengobatan tradisional Bali sangat terkait dengan alam, energi, dan memanfaatkan apa yang ada di alam. Festival Wariga Usadha Siddhi ini menjadi bentuk upaya dalam membangun ekosistem pengembangan obat tradisional berkualitas tinggi dan berdaya saing global dengan tetap menjunjung nilai-nilai kearifan lokal.

Festival ini dihadiri oleh Koordinator Staf Khusus Presiden RI, sekaligus Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah (AAGN) Ari Dwipayana; Kepala Organisasi Riset Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ni Luh Putu Indi Dharmayanti; Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Nyoman Kertia; Kepala Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN, Sofa Fajriah; para pelingsir (sesepuh), pembina, dan pengawas Yayasan Puri Kauhan Ubud; pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Usadha Bali; serta akademisi dan mahasiswa dari perguruan tinggi di Bali.

“BPOM mengapresiasi rangkaian program kegiatan festival yang telah disiapkan secara komprehensif untuk melestarikan warisan leluhur, yaitu keselarasan sistem perhitungan waktu (wariga) dan ilmu pengobatan tradisional Bali (usadha), dalam kehidupan modern kita saat ini,” ucap Penny K. Lukito dalam sambutannya yang bertajuk Penguatan Ekosistem Pengembangan Obat Tradisional.

AAGN Ari Dwipayana turut memaparkan bahwa festival ini mengajak para stakeholder maupun pemangku kepentingan untuk merumuskan strategi dan memperjelas  roadmap tentang perjalanan pengobatan tradisional Bali. Juga membahas riset untuk tanaman herbal dengan melihat masa lalu melalui berbagai manuskrip yang ada. Menurutnya, perlu adanya strategi bersama untuk mendukung riset pengembangan obat tradisional. 

“Saat ini, kita perlu adanya formula dalam mengolah tanaman herbal, sehingga menjamin keamanan, khasiat, dan mutu produk obat tradisional tersebut. Di samping itu, perlu adanya suatu standar pelayanan pengobatan tradisional layaknya pengobatan medis, serta membutuhkan roadmap agar kita bisa mewujudkan pengobatan tradisional ini juga ada di negara-negara lain,” ujarnya.

Merespons statement tersebut, Penny K. Lukito menjelaskan bahwa pemerintah telah menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan guna meningkatkan kemandirian sediaan farmasi nasional, termasuk obat tradisional. “Hingga saat ini, lebih dari 11.000 jamu, 81 produk obat herbal terstandar (OHT), dan 22 produk fitofarmaka berbahan alam berbasiskan uji klinik terdaftar di BPOM,” ujar Kepala BPOM kepada hadirin.

BPOM juga telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Jamu dan Fitofarmaka pada tahun 2018. Hingga saat ini, Satgas telah mendampingi 22 penelitian obat herbal, yaitu 10 penelitian pada tahap uji klinik dan 12 penelitian pada tahap uji praklinik. Selain itu, BPOM juga mendampingi 97 penelitian obat herbal lain.

Dalam mendorong pengembangan obat bahan alam, sejak tahun 2021, BPOM telah menginisiasi kegiatan penggalian informasi/jejak empiris kearifan lokal dalam rangka pelestarian jamu nusantara menjadi OHT dan fitofarmaka berdaya saing global dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada awal tahun 2023, BPOM juga meluncurkan gerakan “Membangun Kejayaan Baru Jalur Rempah Indonesia” untuk mendorong pengembangan dan pemanfaatan rempah lokal menjadi produk obat tradisional, kosmetik, dan pangan olahan berkualitas. 

BPOM senantiasa proaktif dalam memberikan pembinaan bagi UMKM obat tradisional agar dapat membangun kapasitasnya secara berkelanjutan. BPOM telah menerapkan kemudahan perizinan melalui simplifikasi persyaratan dan prosedur, cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB) bertahap, dan insentif keringanan biaya perizinan bagi UMKM, serta percepatan timeline sertifikasi CPOTB dan registrasi produk. 

“Saya berharap inisiasi ini turut bergulir di Bali, khususnya untuk turut mendukung pelestarian usadha. BPOM dengan tangan terbuka siap mendampingi pelaku usaha usadha di Bali untuk meningkatkan kapasitas serta kualitas obat tradisional,” tukas Penny. 

Terkait pengembangan obat bahan alam ini, Kepala BPOM menegaskan perlu adanya pembangunan ekosistem pengembangan obat tradisional berkualitas tinggi dan berdaya saing global dengan tetap menjunjung nilai-nilai kearifan lokal. Penny K. Lukito yakin Provinsi Bali sangat potensial menjadi pelopor perpaduan pengobatan tradisional dan pariwisata, diikuti dengan komitmen Pemerintah Provinsi Bali yang memasukkan pelayanan pengobatan tradisional integrasi dan pembangunan obat herbal Bali ke bidang program prioritas 2018-2023. 

Hal ini juga didukung dengan penetapan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) kesehatan dan pariwisata di Sanur oleh pemerintah pusat. Pembangunan KEK ini diharapkan dapat membuka peluang-peluang baru untuk melestarikan pengobatan tradisional Bali secara lebih luas, di samping pelayanan kesehatan modern bertaraf internasional. 

Pada akhir kegiatan, Kepala BPOM didampingi Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud berkesempatan mengelilingi Wariga Usadha Pustaka yang memperlihatkan peralatan dan tata cara pengobatan tradisional usadha. Selain itu, terdapat pula jajaran booth UMKM yang memamerkan berbagai ragam produk obat tradisional pada festival tersebut. (HM – Rizky)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat


Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana