Jakarta - Memperingati Hari Anak Nasional, BPOM kembali mengampanyekan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Sadar Pangan Aman (GERMAS SAPA) untuk menekan laju pertumbuhan obesitas. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan kasus obesitas di Indonesia meningkat dari 15,3% pada 2013 menjadi 21,8% pada 2018. Melalui gerakan yang telah diinisiasi sejak 2011 ini, BPOM aktif melakukan edukasi pentingnya gizi seimbang kepada masyarakat luas.
Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan BPOM, Rita Endang, mengatakan pentingnya mengonsumsi pangan aman dan bergizi seimbang yang terdiri dari karbohidrat, buah, sayur, dan lauk. BPOM secara khusus telah menyusun pedoman pencapaian gizi seimbang pada anak dengan materi penurunan gula, garam, dan lemak (GGL). Pedoman ini diberikan kepada komunitas sekolah yakni kepala sekolah, guru, dan petugas kantin untuk mengedukai para murid agar memilih makanan yang sehat dan bergizi seimbang.
"Dengan program ini, diharapkan anak-anak sekolah dapat menjadi smart eater, memilih camilan yang sehat seperti buah, dari pada camilan buatan yang tinggi gula seperti permen,” jelasnya pada Forum Merdeka Barat 9 (FMB9). Kegiatan yang diselenggarakan secara hybrid ini mengusung tema ‘Bahaya Obesitas Dini, Apa Solusinya?’ pada Senin (24/07/2023).
Senada dengan itu, Wakil Menteri Kesehatan, Prof. Dante S. Harbuwono menyebut pihaknya telah memperkenalkan program gizi seimbang ''Isi Piringku''. Program ini menggambarkan porsi makanan dalam satu piring yang terdiri dari 50% buah dan sayur, serta 50% terdiri dari karbohidrat dan protein. Kampanye ‘Isi Piringku’ juga membatasi konsumsi GGL.
Dia mengingatkan masyarakat agar mencermati betul produk pangan kemasan yang akan dikonsumsi. "Harus dibaca kalorinya, sehingga bisa memperhitungkan berapa yang bisa dimakan setiap hari karena kebutuhan makanan setiap orang dewasa dan anak berbeda berdasarkan berat dan tinggi badan. Ini harus dicermati," serunya.
Sebagai upaya mendukung GERMAS SAPA, BPOM memiliki tiga program pangan aman yang merupakan program prioritas nasional. Pertama, Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS). Kedua, Desa Pangan Aman. Ketiga, Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas. Implementasinya diawali dengan advokasi penguatan komitmen pemerintah daerah, sosialisasi ke ragam komunitas, pengujian, dan sertifikasi.
"Komunitas desa, ibu-ibu, perempuan yang memiliki anak harus cerdas dan bisa membaca, kemudian melatih anak-anak memilih makanan yang sehat. Begitupun di pasar, harus menjual pangan yang bebas dari bahan berbahaya," ungkap Rita Endang.
Selain masyarakat, diperlukan peran serta seluruh pihak, termasuk pelaku usaha, untuk bergerak bersama mengatasi obesitas. BPOM telah menerapkan kebijakan bagi produsen pangan kemasan olahan agar mencantumkan label informasi nilai gizi pada kemasan produk. "Semua produk pangan kemasan, baik yang diproduksi industri besar dan usaha mikro kecil, wajib mencantumkan informasi nilai gizi," tegas Rita Endang.
Lebih lanjut, Rita Endang menyampaikan informasi yang wajib dicantumkan pada label kemasan pangan olahan mencakup jumlah energi, gula, garam, lemak, lemak jenuh, dan total lemak. Dengan membaca informasi nilai gizi pada kemasan produk, masyarakat terutama orang tua diharapkan dapat lebih memahami kebutuhan GGL untuk dirinya dan putra-putrinya.
Selain itu, kini konsumen juga bisa memilih pangan kemasan dengan Logo Pilihan Lebih Sehat. "Artinya lebih sehat dibandingkan produk sejenis, misal yogurt kandungan gulanya lebih rendah 6gram/100ml. Itu mereka boleh mencantumkan logo Pilihan Lebih Sehat. Dengan pelabelan ini juga, BPOM memberikan bimbingan teknis agar pelaku usaha mereformulasi produknya," katanya.
Menurut Rita Endang, pelaku usaha sebagai pemilik nomor izin edar harus memberikan informasi kepada masyarakat. Edukasi mengenai GGL juga harus disampaikan secara masif oleh seluruh pemangku kepentingan kepada pihak terkait, seperti dinas kesehatan, dinas pendidikan, organisasi masyarakat, kader, fasilitator, masyarakat, dan media. "Kalau semua unsur bergerak, mestinya prevalensi terkait obesitas ini bisa kita tangani bersama dengan sinergitas kementerian/lembaga pusat dan daerah,” tutupnya. (HM-Fathan)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
