Jakarta – BPOM berkolaborasi dengan Pharmaceuticals and Medical Devices Agency (PMDA) Jepang, dan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan Simposium dan Seminar “The ASEAN-Japan Risk Management Plan (RMP)” pada Rabu—Jumat, 24—26 Mei 2023. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan harmonisasi di bidang regulasi obat untuk anggota ASEAN Member States (AMS) serta dibiayai penuh oleh Pemerintah Jepang melalui Japan-ASEAN Integration Fund (JAIF) dan didukung oleh ASEAN Secretariat (ASEC).
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif (Plt. Deputi I, Togi Junice Hutadjulu), hadir langsung pada hari pertama pelaksanaan kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, Ia menekankan bahwa keamanan, khasiat, dan mutu obat merupakan hal penting dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan masyarakat.
Risk Management Plan (RMP) yang dikembangkan oleh International Council for Harmonization of Technical Requirements for Pharmaceuticals for Human Use (ICH) menjadi sistem yang bermanfaat untuk menyediakan profil keamanan obat. Untuk itu, diperlukan kolaborasi dan kerja sama yang baik antara pemerintah, industri obat, dan akademisi, khususnya untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia yang berhubungan dengan pemastian keamanan obat.
“RMP sangat penting dalam menjelaskan sistem manajemen risiko secara komprehensif, termasuk aktivitas farmakovigilans dan intervensinya, yang dirancang untuk mengidentifikasi, mencegah, dan meminimalkan risiko terkait obat dan penilaian keefektifannya,” ujar Plt. Deputi I.
“Meskipun setiap negara anggota ASEAN telah mempertimbangkan dan menerapkan RMP, pemahaman bersama dan harmonisasi kegiatan RMP sangat penting untuk berbagi informasi keamanan obat yang efektif dan efisien di antara pihak berwenang,” tambahnya kembali.
UI sebagai lembaga akademik yang terlibat dalam penyelenggaraan simposium meyakini kegiatan ini menjadi kesempatan untuk berkontribusi dan memberikan dampak positif pada kesejahteraan masyarakat. “Kegiatan ini menjadi sarana kami untuk berkolaborasi dengan tim ahli dan praktisi di bidang farmasi dan kesehatan dari seluruh dunia. Tujuannya tidak hanya untuk memperoleh pengakuan secara internasional, tetapi juga untuk memberi dampak yang lebih besar bagi kualitas hidup bangsa,” papar Sekretaris UI, dr. Agustin Kusumayati saat menyampaikan sambutannya.
Kegiatan simposium turut dihadiri oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Jepang untuk ASEAN, Kiya Masahiko dan The Senior Executive Director PMDA, Uzu Shinobu. Acara ini diselenggarakan secara hybrid dengan dihadiri oleh 300 peserta offline dan lebih dari 1000 partisipan online, serta diikuti 40 peserta regulasi dari 10 negara ASEAN. Peserta seminar sendiri berasal dari Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
Narasumber yang mengisi acara ini adalah para ahli industri dan rumah sakit dari Jepang, termasuk materi dari BPOM yang disampaikan oleh Direktur Standardisasi Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif, Tri Asti Isnariani. Selama tiga hari kegiatan, selain menerima materi dari narasumber, peserta juga difasilitasi oleh tim PMDA untuk melakukan tugas kelompok serta diskusi aktif mengenai penerapan RMP.
“Kami optimis para peserta simposium dari negara-negara anggota ASEAN dapat memperoleh manfaat melalui informasi terkini dari para ahli dan pengalaman yang dibagikan dalam kegiatan ini. Kami juga mendorong semua peserta untuk menciptakan interaksi yang hidup dan diskusi yang bermanfaat,” harap Plt. Deputi I mengakhiri sambutannya. (HM-Devi)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
