Laboratorium Pangan dan Air BBPOM di Bandar Lampung akan Menambah Ruang Lingkup Pengujian Baru yaitu Deteksi Antibiotik Golongan Sulfonamida Pada Madu dan Quinilone Pada Udang dan Olahannya

13-06-2023 Bandar Lampung Dilihat 3858 kali

Jakarta—Pada Tanggal 22-26 Mei 2023 Tim Pengujian Laboratorium Pangan dan Air BBPOM di Bandar Lampung telah mengikuti pelatihan Pengujian Residu Antibiotik Golongan Sulfonamida pada Madu dan Pengujian Residu Antibiotik Golongan Quinolone pada Udang serta Produk Olahannya dengan menggunakan alat Liquid Chromatography Tandem Mass Spectrometry (LC-MS/MS). Pelatihan ini diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan (PPPOMN) di Jakarta yang juga diikuti oleh beberapa Unit BPOM lainnya yang tersebar di wilayah Indonesia.   

Tujuan diadakannya pelatihan ini untuk menambah ruang lingkup pengujian di laboratorium BBPOM Bandar Lampung, meningkatkan kapasitas laboratorium, dan juga meningkatkan kompetensi pegawai. Dalam arti lain semakin banyak ruang lingkup pengujian yang dimiliki oleh sebuah laboratorium, semakin banyak pula parameter pengujian yang bisa diuji oleh laboratorium tersebut.

Deteksi keberadaan residu antibiotik sulfonamida pada madu begitu penting mengingat madu menjadi konsumsi rutin masyarakat Indonesia. Golongan antibiotik sulfonamida lazim digunakan oleh para peternak lebah untuk mengobati penyakit pada lebah yang menghasilkan madu sehingga lebah sehat dan dapat memproduksi madu yang banyak. Pemberian antibiotik golongan sulfonamida pada lebah mengakibatkan kemungkinan terjadinya kontaminasi antibiotik sulfonamida yang terbawa dari lebah ke madu, di mana produk madu seharusnya tidak mengandung antibiotik sulfonamida.

Jika produk pangan mengandung antibiotik dikhawatirkan dapat menyebabkan resistensi antibiotik pada manusia, dalam arti lain mikroba penyebab penyakit infeksi tertentu yang menyerang manusia menjadi kebal terhadap obat antibiotik atau tidak dapat dimatikan oleh antibiotik yang diberikan sehingga penyakit infeksi tersebut sulit disembuhkan. Antibiotik sulfonamida biasanya digunakan untuk pengobatan infeksi bakteri, seperti infeksik saluran kemih, bronkitis, pneumonia, meningitis, infeksi mata atau telinga. Contoh antibiotik golongan sulfonamida antara lain sulfamethoxazole, sulfadiazine, sulfathiazole, dsb.

Dilaksanakan pula pelatihan deteksi kandungan residu antibiotik golongan quinolone secara LC-MS/MS pada udang dan proudk olahannya seperti dimsum udang, bakso udang, siomay udang, dll. Antibiotik golongan quinolone seperti ciprofloxacin, enrofloxacin, norfloxacin, levofloxacin, dan sebagainya merupakan antibiotik yang banyak digunakan untuk pengobatan penyakit infeksi yang lebih luas. Sama halnya dengan antibiotik golongan sulfonamida, quinolone pun tidak boleh terkandung pada udang dan produk olahannya karena dapat menyebabkan resistensi antibiotik.

Resistensi antibiotik ini menjadi perhatian global karena sangat penting demi Kesehatan manusia, jika semakin banyak mikroba yang kebal terhadap antibiotik akan semakin sulit penyakit infeksi disembuhkan, kenyataanya saat ini penemuan obat berjalan lebih lambat dibandingkan dengan terus meningkatnya angka antibiotik yang mengalami resistensi.

Dengan adanya penambahan ruang lingkup uji deteksi antibiotik pada produk pangan, harapannya BPOM bisa mengurangi resiko dikonsumsinya produk pangan yang mengandung kontaminasi antibiotik oleh masyarakat dan berperan serta dalam menurunkan angka kejadian resistensi yang diakibatkan oleh konsumsi produk pangan, salah satunya madu dan udang serta olahannya. Untuk itu selalu membiasakan cek KLIK (Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa) saat membeli produk, karena jika suatu produk memiliki Izin Edar BPOM kemanan dan mutunya sudah terjamin.

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana