YOGYAKARTA. Petugas BBPOM di Yogyakarta berkesempatan mengikuti “Pharmacovigilance Training: Improving Pharmacovigilance Officer Competency” secara luring di Jakarta pada Rabu-Jumat (14/06/2023-16/06/2023). Pelatihan ini juga diikuti oleh UPT BPOM lainnya dari seluruh Indonesia. Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari tersebut menghadirkan narasumber dari WHO, Medical Dictionary for Regulatory Activities (MedDRA); dan Therapeutic Goods Administration (TGA). Adrien Inoubli, Nilima A. Kshirsagar, Kaye Robertson, Xinyu Weng merupakan narasumber dari WHO; Petra Bismire dari TGA; dan Nicole Fornarotto dari MeDDRA.
Pelatihan dibuka oleh Plt. Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM, Togi Junice Hutadjulu, yang diselenggarakan dalam kerangka WHO Grant Agreement on Improved Access to Essential Medicines and Vaccines-Joint Work Plan Biennium 2022-2023. Tujuan pelatihan utamanya untuk meningkatkan kapabilitas jajaran BPOM yang menangani farmakovigilans, termasuk BBPOM di Yogyakarta. Peserta mempelajari berbagai materi terkait dengan farmakovigilans, manajemen risiko, manajemen komunikasi, asesmen risiko manfaat, dan asesmen kausalitas terhadap laporan.
Delapan topik yang disampaikan yaitu: Pharmacovigilance Introduction, Medical Dictionary for Regulatory Activities (MedDRa Introduction, Coding Basics, Safety Data Analysis), Causality Assessment-Series Report, Signal Detection and Assessment, Benefit Risk Assessment, Periodic Safety Update Reports (PSUR) Assessment, Risk Management Plan, Risk Communication & Vaccine Safety Net. Melalui 8 topik tersebut petugas BBPOM di Yogyakarta mendapat pemahaman mendalam pentingnya data keamanan pasca-pemasaran untuk mengidentifikasi dan mencegah risiko serius dari penggunaan obat dan vaksin guna memastikan keselamatan pasien. Pada akhirnya pelatihan ini merupakan upaya memperkuat sistem farmakovigilans terutama di wilayah pengawasan BBPOM di Yogyakarta.
BBPOM di Yogyakarta
