Yogyakarta - BPOM menggelar Workshop Grand Design Penguatan Laboratorium Pengawasan Obat dan Makanan serta Launching Konsep Baru Regionalisasi Laboratorium. Kegiatan yang berlangsung dua hari pada Kamis-Jumat (13-14/07/2023) ini bertujuan memperkuat laboratorium BPOM dalam menghadapi tantangan pengawasan obat dan makanan di masa depan.
Hadir sebagai pembicara dan memberikan materi pada workshop ini adalah Founder Indonesia Water Institute, Firdaus Ali; Pakar Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor, Prof Dedi Fardiaz; dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DI Yogyakarta, Kuncoro Cahyo Aji. Kegiatan diikuti secara hybrid oleh eselon 1 BPOM, kepala unit kerja pusat, kepala unit pelaksana teknis, Tim Grand Design Penguatan Laboratorium Pengawasan Obat dan Makanan, Tim Regionalisasi Laboratorium, dan Ketua Tim Pengujian BB/BPOM seluruh Indonesia.
Kepala BPOM RI, Penny K Lukito, membuka langsung kegiatan workshop ini. Dalam sambutannya, Kepala BPOM mengatakan perlunya antisipasi untuk merespons tantangan global pengawasan jaminan mutu serta keamanan obat dan makanan yang semakin kompleks dalam 20 tahun ke depan.
"Peningkatan kredibilitas dan keandalan laboratorium sebagai backbone pengawasan obat dan makanan yang efektif adalah salah satu langkah regulatori yang terus diupayakan," jelasnya.
Laboratorium BPOM harus memiliki kapasitas terdepan untuk menghasilkan uji yang valid atas parameter keamanan, manfaat/khasiat, dan mutu obat dan makanan. "Hasil pengujian obat dan makanan tidak hanya penting untuk perlindungan kesehatan masyarakat, tetapi juga bagi praktik berusaha yang adil dan taat aturan," ucap Kepala BPOM lagi.
Saat ini, BPOM tengah menyusun Grand Design Penguatan Laboratorium Pengawasan Obat dan Makanan. Dengan adanya grand design ini, laboratorium pengawasan obat dan makanan akan semakin unggul, berdaya saing, efektif, efisien, serta berkelanjutan. Grand design ini juga diharapkan dapat menjadi acuan pengembangan laboratorium pengawasan obat dan makanan di seluruh Indonesia dalam jangka menengah dan panjang.
Selain teknologi yang terus dikembangkan, konsep green laboratory juga menjadi fokus perhatian BPOM dalam pengembangan laboratorium ini. Pasalnya, laboratorium merupakan penyumbang emisi karbon yang terbilang cukup besar. "Konsep ini harus diintegrasikan pada penerapan grand design, sehingga pengembangan laboratorium tidak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan," lanjutnya.
Tidak hanya itu, grand design penguatan laboratorium perlu mengedepankan prinsip konektivitas laboratorium melalui jejaring terpadu dan digitalisasi manajemen informasi laboratorium. Laboratorium akan menjadi sumber big data hasil pengujian obat dan makanan yang sangat penting dan menentukan dalam pengambilan kebijakan atas permasalahan yang ditemui dalam tugas pengawasan BPOM.
Kebijakan regionalisasi laboratorium telah diterapkan BPOM sejak tahun 2022 sebagai langkah strategis dalam menjawab tantangan pengujian obat dan makanan sesuai kapasitas dan kebutuhan pengujian di regional. Dalam kesempatan ini, Kepala BPOM meluncurkan tujuh laboratorium regional yang berada di Balai Besar POM (BBPOM) di Medan, BBPOM di Pekanbaru, BBPOM di Semarang, BBPOM di Surabaya, BBPOM di Samarinda, BBPOM di Makassar, dan BBPOM di Manado.
Hasil monitoring dan evaluasi penerapan sistem regionalisasi laboratorium BPOM menunjukkan perlunya penyempurnaan sistem untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi alokasi sumber daya. Sistem regionalisasi laboratorium BPOM disempurnakan dengan menetapkan satu laboratorium regional yang melaksanakan pengujian unggul, serta memiliki kemampuan pengujian terlengkap di regionalnya. (HM-Fathan)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
