Badan POM Berikan EUA untuk 5 Vaksin COVID-19 Sebagai Booster dan Dorong Kemandirian Vaksin dalam Negeri

10-01-2022 Kerjasama dan Humas Dilihat 2206 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

Jakarta- Untuk meningkatkan imunitas tubuh dari COVID-19, Badan POM mengumumkan 5 vaksin COVID-19 yang mendapatkan Emergency Use Authorization (EUA). Kepala Badan POM, Penny K. Lukito, menjelaskan vaksin booster/lanjutan dibutuhkan untuk segera keluar dari COVID-19 dan lebih lanjut mengapresiasi kerja sama lintas sektor yang telah mewujudukan vaksinasi pada 81,5% penduduk Indonesia yang layak telah menerima dosis pertama dan 56% untuk dosis kedua dari 208 juta sasaran vaksin di Indonesia.

Ada tiga alasan vaksin booster dibutuhkan. Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), Sri Rezeki Hadinegoro, menjelaskan antibodi menurun dalam 6 bulan pasca vaksinasi dan bersamaan dengan munculnya varian-varian baru. Lebih lanjut, beliau menyampaikan belum diketahui kapan berakhirnya pandemi yang membuat masyarakat harus punya imunitas yang tinggi dan alasan yang terakhir adalah equity, dalam arti semua orang berhak mendapatkan akses pada vaksin di seluruh provinsi.

Badan POM telah mengkaji opsi vaksin booster sejak tahun lalu. Kepala Badan POM menyampaikan pihaknya telah mengkaji opsi ini dari November 2021 dengan melakukan kajian pada keamanan, khasiat, dan mutu vaksin dan bekerja sama dengan Komite Penilai vaksin COVID-19, berbagai asosiasi, dan ITAGI. Ada lima vaksin yang disetujui Badan POM untuk menjadi vaksin booster yaitu Coronavac, Pfizer, Astrazeneca, Moderna, dan Zifivax. 3 vaksin yang pertama bersifat homolog dalam arti hanya mereka yang vaksin primernya merupakan salah satu dari tiga vaksin tersebut, yang boleh mendapatkan booster tersebut. Untuk Moderna, bersifat homolog dan heterolog, bisa digunakan oleh mereka yang menerima vaksin primernya moderna atau berbeda sedangkan zifivax merupakan vaksin heterolog.

Selain itu, Badan POM juga mendukung kemandirian untuk produksi vaksin dalam negeri. Badan POM memberikan pendampingan dalam pengembangan Zifivax yang merupakan kerja sama antara Anhui dan JBio dalam tahap produksi dalam negeri. Fasilitas produksi berupa pabrik juga tengah disiapkan dan kelak pabrik tersebut akan mampu produksi bahan baku sendiri. Anhui juga bekerjasama dengan PT Biotis karena telah memenuhi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan POM. Dukungan untuk Vaksin Merah Putih juga dilakukan Badan POM melalui pembuatan self assesment tools, pendampingan untuk CPOB dan saat ini dalam tahap menunggu pelaksanaan uji klinis karena vaksin tersebut sedang dalam tahap produksi untuk uji klinis.

Dalam pelaksanaan vaksinasinya, Badan POM juga akan turut mengawal. Kepala Badan POM menyampaikan pihaknya akan melakukan pengawasan melalui seluruh UPT Badan POM di daerah yang akan memantau kelayakan vaksin, rantai dingin, tanggal kedaluwarsa dan akan melakukan sampling untuk memastikan aspek mutu, keamanan, dan khasiatnya. Lebih lanjut, beliau mengapresiasi semua pihak yang telah terlibat dalam pengembangan vaksin hingga proses vaksinasi berlangsung. (HM-Khairul)

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana