Badan POM Terus Kawal Keamanan, Khasiat, dan Mutu Vaksin COVID-19

04-01-2021 Kerjasama dan Humas Dilihat 2143 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

Jakarta - Vaksin COVID-19 telah tiba di Indonesia pada 6 Desember 2020 lalu (tahap I) dan 31 Desember 2020 kemarin (tahap II). Juru bicara Vaksinasi COVID-19 Badan POM, Lucia Rizka Andalusia menyatakan bahwa keamanan vaksin merupakan hal yang sangat penting untuk dipastikan sebelum vaksin diedarkan. Karena itu Badan POM terus mengawal mutu dan keamanan vaksin dengan melakukan sampling dan pengujian. Hal tersebut disampaikan Rizka Andalusia pada Keterangan Pers bersama Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmidzi dan Juru Bicara Satgas COVID-19 dr. Reisa Broto Asmoro di Jakarta, Senin (04/01).

 

Rizka Andalusia menjelaskan bahwa dalam percepatan proses izin penggunaan darurat vaksin atau Emergency Use Authorization (EUA), Badan POM melakukan rolling submission dimana data yang dimiliki oleh industri farmasi dapat disampaikan bertahap. Tentunya sesuai dengan persyaratan World Health Organization (WHO) yaitu minimal pengamatan harus dilakukan sampai 3 bulan untuk interim analisis, yang digunakan untuk mendapat data keamanan dan khasiat vaksin. “Saat ini, Badan POM masih menunggu penyelesaian analisis data uji klinik fase 3 di Bandung untuk mengonfirmasi khasiat/efikasi vaksin COVID-19. Data tersebut diperlukan dalam rangka penerbitan EUA. Data uji klinik di negara lain seperti Brazil dan Turki juga dapat menjadi dasar persetujuan pemberian EUA. Khususnya untuk usia 60 tahun ke atas yang uji kliniknya dilakukan di Brazil,” jelasnya. 

 

Dalam menjamin mutu vaksin, Badan POM terus melakukan evaluasi terhadap data mutu vaksin yang mencakup pengawasan bahan baku, proses pembuatan, hingga produk jadi vaksin sesuai standar internasional. “Berdasarkan hasil evaluasi mutu, Badan POM memastikan vaksin ini tidak mengandung bahan-bahan berbahaya. Penambahan alumunium sebagai adjuvant dan Thimerosal sebagai pengawet pada vaksin umum dilakukan selama menggunakan dosis yang dinyatakan aman sesuai standar internasional,” tambahnya.

 

Aspek lain yang menjadi sasaran pengawalan Badan POM adalah pengawalan mutu vaksin di sepanjang jalur distribusi, mulai keluar dari industri farmasi hingga digunakan dalam pelayanan vaksinasi kepada masyarakat. Hal ini sangat penting dikarenakan vaksin rentan mengalami kerusakan jika suhu penyaluran dan penyimpanan tidak sesuai persyaratan, yaitu 2-8°C.

 

Sementara itu Siti Nadia Tarmidzi menyatakan penerima vaksin COVID-19 telah menerima SMS notifikasi yang merupakan langkah awal vaksinasi COVID-19. Vaksinasi ini diharapkan menjadi momentum dan harapan baru agar pandemi segera berakhir. “Dengan adanya vaksin ini, bersama dengan penerapan 3M dan 3T merupakan upaya lengkap dalam menekan angka penyebaran COVID-19,” jelasnya.

 

Rizka Andalusia mengingatkan proses pemberian vaksinasi masih memerlukan tahapan lain dan membutuhkan waktu. Karena itu masyarakat diharapkan tetap menjaga protokol kesehatan 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, serta rajin mencuci tangan dengan sabun, serta berpartisipasi aktif pada proses vaksinasi yang disiapkan pemerintah. 

 

Senada dengan Nadia dan Rizka, Reisa juga mengimbau masyarakat agar terus disiplin dengan menerapkan protokol kesehatan 3M, karena dari hasil survei UNICEF dan Niels menyatakan penerapan protokol kesehatan 3M masyarakat Indonesia masih rendah. “Ingat Bapak, Ibu, Saudara-Saudari, meski kini tahun sudah berganti tapi semangat kita dalam melaksanakan 3M harus tetap sama, bahkan lebih ketat, lebih disiplin lagi dibanding tahun sebelumnya,” imbaunya. (HM-Devi-Maul)

 

Biro Hubungan Masyarakat dan Dukungan Strategis Pimpinan

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana