Bertandang ke Tiongkok, BPOM Cermati Transformasi Industri Obat dan Vaksin

03-07-2024 Umum Dilihat 795 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Tiongkok - Selasa (25/6/2024), Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPOM L. Rizka Andalusia bertolak ke Beijing didampingi Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif (Deputi I) Rita Endang dan jajaran, serta perwakilan Kementerian Kesehatan. Tak hanya Beijing, Plt. Kepala BPOM beserta delegasi juga berkunjung ke Tianjin, Guangzhou, dan Shanghai untuk menjalin kerja sama dalam bidang obat dan makanan dengan instansi pemerintah, perguruan tinggi, dan industri farmasi di Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Kunjungan kerja Plt. Kepala BPOM tersebut difokuskan pada transfer teknologi untuk pengembangan vaksin messenger ribonucleic acid (mRNA) dan obat kanker di Indonesia, tindak lanjut investasi riset inovatif, peningkatan kapasitas laboratorium BPOM, serta pengembangan kompetensi BPOM sebagai regulator obat dan makanan. Kerja sama BPOM dengan berbagai pihak di RRT ini diharapkan dapat meningkatkan akses pasien Indonesia terhadap obat kanker yang berkualitas dan terjangkau, serta mendorong pengembangan industri farmasi di Indonesia.

Pada hari pertama kunjungan, delegasi mengunjungi Tsinghua University di Beijing. Universitas ini dikenal sebagai salah satu pusat riset dan inovasi terkemuka di Tiongkok, terutama dalam bidang teknologi medis dan bioteknologi. Diskusi antara Plt. Kepala BPOM dan Prof. Zhang Linqi, Pimpinan Comprehensive AIDS Research Center, Gates-Tsinghua Research Center for Global Health and Infectious Diseases, School of Medicine, Tsinghua University membahas pendirian Pusat Penelitian Vaksin dan Genomik Indonesia RRT.

Tak hanya itu, pertemuan juga membahas peluang untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) di bidang pengembangan vaksin. "Ada banyak teknologi baru. Sebagai otoritas pengawas obat dan makanan di Indonesia, BPOM harus mengetahui, mempelajari, dan menguasai perkembangan dan pengembangan obat baru dan teknologinya," ungkap Plt. Kepala BPOM. Salah satunya bisa dilakukan dengan mengirimkan SDM BPOM untuk belajar ke Tsinghua University.

Setelah itu, delegasi melanjutkan kunjungan ke CanSino Biologic Inc. di Tianjin. CanSino dikenal karena telah mengembangkan beberapa teknologi utama dalam riset dan pengembangan vaksin, termasuk teknologi mRNA dan lipid nanoparticle (LNP). Pada kesempatan ini, Plt. Kepala BPOM menegaskan pentingnya pelibatan Indonesia dalam pengembangan produk CanSino, termasuk rencana untuk melakukan uji klinik di Indonesia serta kolaborasi dalam membangun fasilitas penelitian dan transfer teknologi vaksin.

Hari berikutnya, bertempat di kantor pusat National Medical Products Administration (NMPA), Plt. Kepala BPOM beserta delegasi bertemu dengan NMPA Deputy Commissioner Alat Kesehatan dr. Xu Jinghe. Dr. Xu Jinghe mengatakan Pemerintah RRT menaruh perhatian besar terhadap kesehatan rakyatnya. "Kesehatan rakyat adalah indikator utama kesejahteraan bangsa dan negara," ungkapnya.

Institusi NMPA sendiri telah melakukan berbagai perubahan dan reformasi yang bertujuan agar regulasi pengawasan lebih ilmiah, berpengaruh, dan terpusat. Reformasi NMPA menyasar pada 5 aspek yaitu inovasi, kualitas, sistem, efisiensi, dan kompetensi. Pada akhir pertemuan kedua otoritas di bidang obat dan makanan ini sepakat tentang perlunya penyusunan action plan kerja sama BPOM dengan NMPA untuk beberapa tahun serta pembentukan focal point untuk implementasinya.

Selama kunjungan ke Guangzhou pada hari ketiga, delegasi mengunjungi Beigene, sebuah perusahaan bioteknologi yang mengkhususkan diri dalam pengembangan obat kanker. Beigene telah mencapai kemajuan signifikan dalam riset dan produksi produk biologi. Kunjungan ini memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi potensi kolaborasi dalam pengembangan dan persetujuan produk medis di Indonesia.

Dari Guangzhou menuju Shanghai, delegasi mengunjungi Henlius Biopharmaceutical Co. Ltd/Fosun Pharma, yang merupakan salah satu pemimpin dalam industri farmasi di Tiongkok. Diskusi antara BPOM dan Henlius membahas strategi untuk meningkatkan akses terhadap obat-obatan berkualitas di Indonesia melalui kolaborasi yang lebih dalam untuk pengembangan produk medis. Tim Henlius menunjukkan komitmen terhadap kualitas dan inovasi dalam industri farmasi, serta kesiapan untuk bekerja sama dengan pihak Indonesia dalam berbagai proyek medis.

Terakhir, delegasi berkunjung ke RNA Cure, sebuah perusahaan yang berfokus pada penelitian platform mRNA untuk mengembangkan vaksin hewan dan manusia. Pertemuan ini membahas kemungkinan kerja sama yang dapat dilakukan antara pemerintah Indonesia dengan RNA Cure.

Kunjungan 5 hari ini menegaskan komitmen BPOM untuk memperluas kerja sama internasional dalam pengembangan obat dan vaksin, dengan tujuan meningkatkan akses dan kualitas produk medis di Indonesia. Melalui transfer teknologi, investasi riset, dan pembentukan kemitraan strategis dengan institusi dan perusahaan di Tiongkok, BPOM berharap dapat mempercepat kemajuan industri farmasi di Indonesia serta meningkatkan ketahanan obat di negara ini. Kunjungan ini juga menjadi momentum untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kompetensi BPOM sebagai regulator yang efektif dan responsif terhadap perkembangan teknologi dan perubahan dalam industri farmasi global.

Dengan demikian, kunjungan ini bukan hanya sebagai upaya memperluas jaringan kerja sama, tetapi juga sebagai langkah strategis untuk memajukan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat melalui inovasi dalam industri farmasi. (HM-Nelly)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana