Makassar – “Di kampus itu masalahnya adalah banyak pikiran-pikiran out of the box. Di kampus-kampus itu tempatnya banyak pikiran-pikiran yang selalu ingin berbuat hal-hal yang baru, inovatif,” tutur Kepala BPOM Taruna. Pernyataan ini disampaikan dalam Kuliah Umum di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Jumat (25/10/2024). Selain mahasiswa di lingkungan UIN Alauddin, kuliah umum ini juga dihadiri oleh Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Dewi Setiawati.
Lebih lanjut Kepala BPOM menuturkan civitas academia di kampus dipaksa untuk bertindak kreatif. Karena tanpa kreativitas tersebut, lingkungan kampus akan diam tak bergerak. Potensi kreativitas kampus ini dapat dipadukan dengan potensi yang dimiliki BPOM.
“BPOM ini adalah lembaga yang memiliki peran secara langsung atau tidak langsung terhadap seluruh manusia di Indonesia dan dampaknya global,” jelasnya. Mulai dari anak bayi yang masih dalam kandungan sampai dia lahir hingga besar dan meninggal dunia, membutuhkan produk obat dan makanan yang menjadi tanggung jawab BPOM. Untuk menjalankan tanggung jawab tersebut, BPOM dibekali dengan sumber daya manusia (SDM), anggaran, dan fasilitas diantaranya laboratorium.
Taruna Ikrar juga menyebutkan salah satu arahan Presiden adalah menjadikan BPOM sebagai organisasi yang memiliki reputasi global. Di sisi lain, universitas juga pasti berkeinginan menjadi world class university. Karena itu, BPOM dan kampus, termasuk UIN Alauddin perlu bersinergi, termasuk di bidang pengawasan obat dan makanan.
Menanggapi ajakan Kepala BPOM, Wakil Rektor I (Bidang Akademik Pengembangan Lembaga) UIN Alauddin Kamaluddin Abunawas menyebutkan bodoh jika jajaran UIN Alauddin melewatkan atau mengacuhkan ajakan tersebut. Wakil Rektor I menyampaikan tugas pengawasan obat dan makanan bukanlah tugas ‘kaleng-kaleng’, karena terkait hajat hidup orang banyak.
Kamaluddin Abunawas menuturkan di Indonesia, apapun bisa dipalsukan. Contohnya di Makassar, pernah ada yang memalsukan air Zamzam, yang persis sama dengan aslinya. “Tentu ini tugas BPOM untuk membasmi ini semua. Tapi saya rasa, hal ini tidak bisa dilakukan sendirian,” jelasnya. Perlu bantuan dari berbagai pihak, termasuk akademisi, misalnya dalam riset terkait pengawasan obat dan makanan.
Selain diisi oleh kuliah umum, selama di Makassar Kepala BPOM juga mengunjungi Polda Sulawesi Selatan. Kunjungan Taruna Ikrar tersebut diterima langsung oleh Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol Yudhiawan Wibisono. Dalam kesempatan ini Kepala BPOM meminta dukungan polisi untuk menindak secara tegas pelaku usaha yang menggunakan bahan berbahaya dalam kosmetik. Kepala BPOM juga bersilaturahmi dengan jajaran Tribunnews dan Harian Fajar. (HM-Nelly)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
