Jakarta – Program studi farmasi memiliki peran penting dalam tugas pengawasan obat dan makanan. Untuk mempersiapkan kecakapan tersebut, mahasiswa Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR) melakukan study excursion ke BPOM pada Rabu (25/01/2023). Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 50 mahasiswa Fakultas Farmasi UNAIR hadir di Auditorium Gedung Merah Putih BPOM.
Kunjungan diterima oleh Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik (Deputi 2), Mohamad Kashuri. Dalam sambutannya, Mohamad Kashuri menyebut bahwa kuliah di farmasi sangat comply dengan tugas pengawasan yang dilakukan oleh BPOM. Karena itu, mahasiswa Farmasi UNAIR diharapkan mengetahui tugas dan fungsi BPOM.
Selama pelaksanaan kunjungan, suasana interaktif terbangun antara mahasiswa dengan BPOM terutama pada sesi tanya jawab. Salah satu mahasiswa, Daniel Immanuel, menjawab pertanyaan yang diajukan Deputi 2 mengenai arti dari mutu dalam produk obat dan makanan.
“Mutu adalah suatu standar tertentu yang harus dipenuhi untuk obat dan makanan sebagaimana produk itu diperuntukan, seperti efikasi, acceptability, dan keamanannya,” ujar Daniel. Jawaban tersebut memperoleh apresiasi dari Deputi 2, yang sekaligus menambahkan definisi jelas mutu produk obat dan makanan sesuai dengan definisi yang berlaku dalam peraturan dan digunakan oleh BPOM sebagai edukasi kepada mahasiswa yang hadir.
“Pengetahuan yang diperoleh mahasiswa Farmasi sangat berguna kelak nanti saat bekerja. Konsep dan keahlian teknis yang dimiliki Anda semua harus inline dengan kebutuhan pasar,” tambah Deputi 2. Lebih lanjut, Mohamad Kashuri juga memberikan motivasi kepada para mahasiswa untuk berkarir di pemerintahan agar dapat berkontribusi dalam kebijakan dan mengendalikan peredaran obat dan makanan, serta ekosistem industri obat dan makanan.
Selain pengetahuan, mahasiswa Farmasi juga perlu memperluas networking dan personal branding yang dibutuhkan ketika memasuki dunia kerja. Paradigma selama ini harus diubah, tidak selalu setelah lulus harus bekerja sebagai karyawan.
“Mahasiswa bisa menjadi pengusaha obat dan makanan dan dapat mencari potensi pendanaan awal melalui networking untuk mengembangkan produknya. Mahasiswa juga harus memperkenalkan karya terbaik yang dibuat pada khalayak umum supaya publik mengetahui kapasitas dan potensi yang dimiliki mahasiswa tersebut,” tambah Deputi 2.
Kegiatan study excursion dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dari mahasiswa. Beberapa pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswa di antaranya mengenai tips supaya bisa diterima di BPOM dan peluang karir bagi apoteker. Pertanyaan lainnya adalah mengenai peluang untuk bisa magang mandiri di kantor BPOM.
Selain itu, mahasiswa Farmasi UNAIR juga diajak untuk mem-follow Instagram BPOM untuk mendapatkan banyak informasi seputar BPOM, termasuk informasi mengenai peluang karir di BPOM. Magang mandiri bagi mahasiswa bisa dilakukan di semua kantor BPOM di seluruh Indonesia secara gratis tanpa dipungut biaya. Lewat magang tersebut, mahasiswa berpeluang untuk mendalami bidang standardisasi, registrasi, pengawasan produksi, pengawasan distribusi, dan pengawasan post-market yang menjadi proses bisnis BPOM.
“Berkarir di pemerintahan berarti menjadi abdi negara sekaligus abdi masyarakat. Terlebih berkarir di BPOM yang tugasnya memantau semua produk yang dikonsumsi dari bangun tidur hingga tidur lagi, dari lahir hingga akhir hayat. Itu adalah tugas mulia,” ajak Deputi 2 mengakhiri sambutannya. (HM-Khairul)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
