BPOM Bangun Kerja Sama Internasional Melalui Produksi ASEAN Reference Substances

25-03-2024 Kerjasama dan Humas Dilihat 1319 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Denpasar Dalam upaya peningkatan kerja sama di kawasan ASEAN, khususnya dalam pembuatan ASEAN Reference Substances (ARS), BPOM menyelenggarakan “The 16th Meeting on The Production of ASEAN Reference Substances”, (19-20/03/2024). Pertemuan ini merupakan ajang berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait produksi dan pemanfaatan standar referensi bagi negara-negara yang tergabung dalam ASEAN Reference Substances Working Group (ARSWG).

Kegiatan ini diikuti 10 negara yang termasuk dalam member ARSWG, yaitu Indonesia sebagai tuan rumah, Thailand sebagai koordinator ARS, serta Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Kamboja, Laos, Vietnam, dan Myanmar sebagai kolaborator ARS. Tak hanya itu, kegiatan ini mengundang lintas sektor lain, seperti Badan Standardisasi Nasional (BSN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), para akademisi, dan industri. Pertemuan ini menghadirkan pembicara dari Badan Farmasi dan Alat Kesehatan (Pharmaceuticals and Medical Devices Agency/PMDA, Jepang), BPOM, Sekretariat ASEAN, WHO, dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

“Kita akan mengeksplorasi berbagai isu penting dalam pertemuan ini, termasuk pengelolaan dan globalisasi Standar Referensi Farmakope Jepang sebagai acuan bagi negara-negara ASEAN, pembentukan dan pemeliharaan Standar Referensi WHO, serta posisi ARSWG dalam kerangka resmi ASEAN,” ungkap Plt. Kepala BPOM RI, L. Rizka Andalusia saat menyampaikan keynote speech secara daring kepada para peserta pertemuan.

Ia menyoroti tiga isu penting lainnya dalam standar referensi yang akan dikembangkan, yaitu tantangan pemenuhan persyaratan standar referensi, harmonisasi dalam pembuatan standar acuan, serta dampak dan peluang yang ditimbulkan oleh teknologi baru dan era digital. “Rencana aksi kami mencakup pengembangan peta jalan yang berfokus pada bidang utama pengembangan standar referensi ASEAN, serta revisi atau penerapan peraturan yang ada untuk memfasilitasi proses ini,” jelasnya kembali.

Di sisi lain, Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif, Rita Endang juga menyampaikan pentingnya pendekatan inovatif dalam mencapai tujuan pertemuan ini. Tujuan yang ingin dicapai, yaitu untuk meningkatkan kapasitas anggota ARS dalam pengujian dan produksi Standar Referensi, serta memperkuat kolaborasi antar anggota.

Kegiatan ini pada akhirnya menyimpulkan kesepakatan antar masing-masing negara anggota ARSWG untuk terus berkolaborasi dan berkontribusi terhadap pengembangan ARS. Untuk menindaklanjuti rekomendasi dari Sekretariat ASEAN, Indonesia dan Thailand akan menyusun concept note terkait usulan untuk memasukkan ARSWG ke dalam Program Kerja ASEAN 2026-2030 pada pilar Kesehatan atau pilar Ekonomi.

Kebutuhan concept note terkait usulan untuk memasukkan ARSWG ke dalam Program Kerja ASEAN 2026-2030 pada pilar Kesehatan atau pilar Ekonomi juga dipertegas oleh pejabat senior di Health Division of ASEAN Secretariat's Human Development Directorate, Jennifer Frances dela Rosa. Ia menyarankan agar segera dibuat concept note sebelum memutuskan badan sektor apa yang sesuai dengan visi-misi ARSWG dan diusulkan ke Sekretariat ASEAN. Pertemuan ARSWG nantinya akan kembali dilangsungkan di tahun 2025 dengan adanya pertemuan rutin dan pengembangan kompetensi terkait produksi ARS.

Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat semakin terbangun kerja sama antar-lintas sektor terkait (organisasi atau regulator, industri, dan akademisi) untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia dalam proses produksi ARS. “Saya harap peserta dapat memanfaatkan diskusi ini sebaik-baiknya untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam meningkatkan harmonisasi dan konvergensi untuk skala regional dan global,” tutup Plt. Kepala BPOM. (HM-Devi)

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana