Semarang - Plt. Kepala BPOM RI L. Rizka Andalusia melakukan kunjungan kerja ke Unit Pengelola Darah (UPD) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Kariadi Semarang pada Sabtu (22/6/2024). Kunjungan bertujuan meninjau kemajuan persiapan sertifikasi cara pembuatan obat yang baik (CPOB) di UPD RSUP Dr. Kariadi Semarang. UPD ini diharapkan akan menjadi salah satu penyedia plasma darah untuk mendukung kemandirian industri fraksionasi plasma.
Kunjungan Plt. Kepala BPOM didampingi oleh Direktur Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor BPOM Bayu Wibisono beserta Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian Kementerian Kesehatan Dita Novianti Sugandi. Sementara itu, pihak RSUP Dr. Kariadi diwakili oleh Direktur Utama dan Kepala UPD RSUP Dr. Kariadi drg. Farichah Hanum menjelaskan kemajuan persiapan UPD.
Dalam paparannya, Kepala UPD RSUP Dr. Kariadi memaparkan jumlah kebutuhan darah pada RSUP Dr. Kariadi sebesar 8.000-9.000 kantong per bulan. Saat ini, 60% pemenuhan kebutuhannya dipasok oleh Palang Merah Indonesia (PMI). Dari angka tersebut, rekrutmen donor darah pengganti masih belum optimal sehingga diperlukan program peningkatan produksi melalui donor darah rutin dari pegawai internal.
“Saat ini, kami masih dibantu PMI dalam ketersediaan donor darah dan terkait kesiapan sertifikasi ini [CPOB], tim kami telah melakukan benchmark ke RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Tim BPOM juga telah melakukan pendampingan 2 kali pada bulan Mei dan Juni tahun ini,” papar Direktur Utama RSUP Dr. Kariadi.
Menanggapi hal tersebut, Plt. Kepala BPOM mengatakan bahwa sertifikasi CPOB UPD di rumah sakit bertujuan untuk mendukung pilar ketiga transformasi kesehatan, yakni transformasi sistem ketahanan kesehatan melalui kemandirian farmasi dan alat kesehatan dalam negeri. “Beberapa negara di Eropa, Jepang, dan Korea sudah banyak memproduksi obat derivat plasma. Indonesia sendiri memiliki potensi besar untuk mengembangkan obat dari derivat plasma, mengingat ketersediaan bahan bakunya yang melimpah,” ujarnya.
Dalam kaitannya dengan rencana sertifikasi CPOB di RSUP Dr. Kariadi Semarang, BPOM berharap agar hal tersebut dapat mendukung Indonesia untuk membangun kemandirian farmasi dalam penyediaan produk hasil fraksionasi plasma. Dua jenis obat derivat plasma yang akan dikembangkan di Indonesia dalam waktu dekat adalah intravenous immune globulin (IVIG) dan albumin.
“Bahan baku yang digunakan untuk obat derivat plasma tentunya harus memenuhi persyaratan keamanan, khasiat, dan mutu, mulai dari tahap pengumpulan hingga produksi. Di sinilah inti dari pentingnya pemenuhan CPOB di sarana UPD,” tambah Plt. Kepala BPOM.
Dari hasil kunjungan ini, BPOM merekomendasikan beberapa perbaikan yang masih perlu ditindaklanjuti dalam rangka persiapan pelaksanaan sertifikasi CPOB. UPD RSUP Dr. Kariadi diharapkan segera melakukan perbaikan agar Sertifikat CPOB dapat diterbitkan sesuai dengan jadwal yang direncanakan.
“Saya harap RSUP Dr. Kariadi dapat menjadi sarana pelayanan kesehatan yang mampu memenuhi kesenjangan antara permintaan dan pasokan darah di wilayahnya,” harap Plt. Kepala BPOM. (HM-Benny)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
