BPOM Dorong Kerja Sama Global dalam Perkembangan Terapi Sel dan Obat Inovatif

10-05-2025 Kerjasama dan Humas Dilihat 377 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Maryland, USA — BPOM mengadakan pertemuan penting dengan dua perusahaan biofarmasi global untuk memperkuat kolaborasi dalam mempercepat akses terapi inovatif di Indonesia, Rabu—Kamis (7/5/2025—8/5/2025). Pertemuan tersebut diadakan di Amerika Serikat, dengan delegasi BPOM yang dipimpin oleh Kepala BPOM Taruna Ikrar. Dalam rangkaian pertemuan ini, BPOM melakukan dialog strategis dengan RoosterBio dan AstraZeneca, perusahaan-perusahaan terkemuka dalam bidang bioteknologi dan farmasi, untuk meningkatkan ketersediaan obat-obatan dan terapi mutakhir bagi masyarakat Indonesia.

Pada pertemuan pertama, BPOM membahas dengan RoosterBio peluang kolaborasi dalam pengembangan terapi berbasis sel punca manusia dan vesikel ekstraseluler (EV). Taruna Ikrar menyatakan bahwa BPOM sangat menghargai inovasi industri yang berpotensi mempercepat pengobatan regeneratif dan biosimilar di Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa BPOM telah resmi menerbitkan regulasi baru terkait terapi pengobatan lanjutan. “Kami baru saja mengeluarkan regulasi pada 18 Maret 2025 yang mengatur tentang produk terapi pengobatan lanjutan, termasuk terapi gen, imunoterapi, dan terapi sel,” jelasnya dalam pertemuan dengan RoosterBio. 

Terkait dengan teknologi berbasis sel punca ini, Crystal Cruz dari Rooster Bio kemudian menjelaskan tentang Mesenchymal Stem Cells (MSCs) atau sel punca mesenkimal. Ia mengatakan bahwa sel punca ini berasal dari berbagai sumber jaringan, baik dari jaringan dewasa seperti sumsum tulang dan jaringan adiposa, maupun dari jaringan janin atau neonatal seperti tali pusat dan plasenta. Lebih lanjut, MSCs memiliki kemampuan penting dalam menekan respons imun tubuh serta menciptakan lingkungan yang mendukung proses regenerasi dan perbaikan jaringan yang rusak. 

“Jadi sebagai terapi sel, MSC (sel punca mesenkimal) juga mengeluarkan campuran protein terlarut dan vesikel ekstraseluler selama proses kultur. Secara keseluruhan, ini disebut sebagai secretome, dan beberapa orang menggunakan campuran tersebut sebagai agen terapeutik,” jelas Crystal.

BPOM berharap kerja sama dapat mempercepat pengaturan dan penggunaan terapi berbasis sel hidup di Indonesia. Teknologi yang dimiliki industri ini memungkinkan pengembangan adult human mesenchymal stem/stromal cells (hMSCs) dan eksosom dalam volume besar dapat memperkuat industri bioteknologi Indonesia. Hal ini mempermudah akses produk berkualitas dengan harga lebih terjangkau bagi pasien di seluruh Indonesia. 

Selanjutnya, BPOM memenuhi undangan dari AstraZeneca untuk membahas perluasan akses terhadap terapi inovatif yang telah disetujui di berbagai negara maju. Pertemuan ini merupakan bagian dari inisiatif AstraZeneca dalam menjalin kolaborasi strategis dengan BPOM guna mempercepat ketersediaan terapi inovatif bagi masyarakat Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, Kepala BPOM Taruna Ikrar bertemu dengan sejumlah pimpinan AstraZeneca, antara lain Senior Area Regulatory Director America Latin Jorge Azar, Head of International CMC Regulatory Affairs Kate Bassett, dan Global Head of Oncology Policy & Advocacy Christopher McPherson.

Dalam kunjungan ini, Kepala BPOM menyampaikan tiga poin utama yang menjadi alasan kunjungan delegasi Indonesia. Salah satunya adalah pentingnya alih teknologi dalam pengembangan industri farmasi nasional. "Kami tidak ingin masyarakat Indonesia hanya menjadi pasar. Kami ingin Indonesia menjadi pemain kunci dalam bidang farmakologi dan farmasi. Untuk itu, kami memerlukan alih teknologi," ujar Taruna Ikrar dalam pertemuan tersebut.

AstraZeneca menyambut baik hal ini, Jorge Azar mengatakan akan mendukung sepenuhnya. “Dan kami akan sepenuhnya mendukung. Ini semua demi kepentingan pasien. Semakin banyak yang bisa kita lakukan, semakin baik.” ungkapnya.

Kerja sama yang erat antara sektor regulasi Indonesia dan industri farmasi global akan sangat penting dalam mempercepat pengembangan obat-obatan yang dapat menyelesaikan masalah kesehatan yang ada di Indonesia. Keberhasilan kedua pertemuan ini menunjukkan bahwa BPOM terus memperkuat jejaring kerja sama internasional untuk mendukung pengembangan sektor farmasi Indonesia, baik melalui terapi sel maupun produk obat inovatif. Dalam menghadapi tantangan kesehatan global, BPOM berperan sebagai penghubung antara regulator nasional dan perusahaan biofarmasi internasional, yang berkomitmen untuk meningkatkan akses masyarakat Indonesia terhadap terapi yang aman dan efektif.

“Melalui serangkaian pertemuan dengan industri yang memiliki keunggulan ini, BPOM berharap dapat memperkuat kapasitas industri farmasi Indonesia, mempercepat akses pasien Indonesia terhadap terapi inovatif, dan meningkatkan kemandirian pasokan obat dalam negeri,” tegas Taruna Ikrar. BPOM terus berkomitmen untuk menjalin kerja sama strategis dengan mitra global dalam mendukung transformasi sektor kesehatan Indonesia, mempercepat inovasi, dan meningkatkan daya saing Indonesia di kancah global. (HM-Hendriq)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

 

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana