BPOM Gelar Forum Komunikasi Nasional untuk Strategi Perkuatan Sistem Pencegahan Kejahatan Obat dan Makanan

26-07-2024 Kerjasama dan Humas Dilihat 973 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Surabaya — “Ekspektasi masyarakat terhadap kinerja Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) semakin tinggi, termasuk dalam hal perlindungan masyarakat dari kejahatan obat dan makanan.” Demikian ungkapan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPOM RI L Rizka Andalusia saat membuka secara daring Forum Komunikasi Nasional Pencegahan Kejahatan Obat dan Makanan pada Rabu (24/7/2024).

Dalam upaya menjawab tuntutan tersebut, BPOM berkomitmen untuk memperkuat sistem kewaspadaan dengan pendekatan deteksi dini dan respons cepat, sebagaimana yang dibahas dalam forum komunikasi kali ini. Forum yang digelar selama 2 hari ini melibatkan 215 peserta yang berasal dari berbagai instansi, termasuk Direktorat Cegah Tangkal, perwakilan dari unit pelaksana teknis (UPT) di seluruh Indonesia, serta narasumber lintas sektor. Acara ini bertujuan berbagi informasi, strategi, dan praktik terbaik dalam pencegahan kejahatan obat dan makanan, serta memastikan koordinasi yang efektif antara pusat dan UPT.

Tema forum tahun ini, yaitu Sinergisitas Holistik Multiperspektif dalam Upaya Cegah Tangkal Kejahatan Obat dan Makanan, diharapkan dapat membantu petugas UPT memahami pendekatan holistik dan berbasis bukti dalam menghadapi fenomena kejahatan obat dan makanan. Pendekatan ini juga menjadi langkah penting dalam memenuhi ekspektasi masyarakat dan mendukung upaya menciptakan obat dan makanan yang aman di Indonesia.

Para peserta forum komunikasi menerima pemaparan materi dari berbagai perspektif yang disampaikan oleh narasumber ahli di bidangnya. Hadir sebagai narasumber, yaitu Ketua Asosiasi Profesi Keamanan Pangan Indonesia Roy Sparringa, Akademisi Farmasi Praktis Universitas Airlangga Apt. Andi Hermansyah, dan Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Rimawan Pradiptyo. 

Sepotong wawasan materi mengenai pentingnya berbagai perspektif dalam menghadapi kejahatan obat dan makanan disampaikan oleh Rimawan Pradiptyo. Melalui paparan yang disampaikannya dengan materi ekonomika kriminalitas, Ia mengajak peserta untuk dapat memahami kejahatan dari perspektif ilmu ekonomi. “Kejahatan sejatinya tidak bisa dihilangkan, tetapi ia bisa dikurangi. Dan mengurangi kejahatan perlu memakai perspektif dari berbagai keilmuan karena persoalan tersebut memiliki kompleksitas yang tinggi,” paparnya. 

“Food fraud terjadi di banyak negara. Contohnya di inggris, ada daging sapi dioplos dengan daging kuda, dan masih banyak lagi di negara lain. Kita perlu banyak belajar dari mereka bagaimana mencegah kejahatan itu,” ujar Roy Sparringa dengan gesture bicara yang berapi-api. Pada kesempatan kali ini ia mengangkat isu food fraud dalam materinya.

Selain penyampaian materi dari berbagai perspektif tentang kejahatan, forum ini juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk berdiskusi tentang upaya pencegahan kejahatan di wilayah kerja masing-masing, seperti penggalangan lintas sektor, penyusunan analisis kejahatan obat dan makanan, serta pencatatan data kerawanan kasus kejahatan obat dan makanan.

Salah satu peserta dari Loka POM di Kabupaten Pulau Morotai, Monik Umi Sakinah mengutarakan harapan agar forum seperti ini dapat dilakukan secara rutin setiap tahunnya. “Semoga forum ini bisa dilakukan secara rutin agar pertukaran informasi sesuai dengan update keadaan tahun berjalan dan dapat menjadi acuan untuk perbaikan dalam implementasi kegiatan cegah tangkal,” ujarnya. Melalui upaya ini, BPOM bertekad untuk terus memperkuat sistem pencegahan dan deteksi kejahatan di bidang obat dan makanan demi melindungi masyarakat dan mewujudkan Indonesia yang lebih aman. (HM-Zein)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

 

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana