BPOM Indonesia dan MFDS Korea Selatan Perkuat Kerja Sama Perangi Kejahatan Obat dan Makanan

06-12-2024 Kerjasama dan Humas Dilihat 983 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Jakarta – BPOM menyelenggarakan pertemuan strategis dengan Criminal Investigation Division, Ministry of Food and Drug Safety (MFDS) of the Republic of Korea di Kantor BPOM, Rabu (4/12/2024). Pertemuan ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan dari Kejaksaan Agung, Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI (Bareskrim POLRI), Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Badan Narkotika Nasional (BNN), serta perwakilan dari unit teknis BPOM. Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat kerja sama bilateral dalam menangani kejahatan di sektor obat dan makanan, terutama dalam menghadapi tantangan kejahatan di era digital yang semakin kompleks.

Dalam sambutan pembukaannya, Direktur Criminal Investigations Office MFDS Korea Young Jo Kim menyampaikan apresiasi atas hubungan bilateral yang terus berkembang antara Indonesia dan Korea Selatan. “Kolaborasi antara kedua regulator, terutama dalam pertukaran pengetahuan dan pengalaman, dapat menghasilkan strategi yang lebih efektif dalam mengatasi kejahatan di sektor obat dan makanan,” ujarnya. Dia menambahkan kerja sama ini akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap keamanan produk obat dan makanan, sekaligus berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat di kedua negara.

Sementara itu, Direktur Penyidikan Obat dan Makanan BPOM Azis Saputra menekankan pentingnya benchmarking sebagai salah satu langkah strategis untuk memperkuat kapasitas BPOM. “BPOM telah mempelajari program strategis dan kerangka operasional yang diterapkan oleh Tim Criminal Investigation Division MFDS Korea. Langkah ini tidak hanya meningkatkan kompetensi pegawai BPOM, tetapi juga memperkuat kontribusi Indonesia dalam upaya global untuk memastikan keamanan obat dan makanan,” jelasnya.

Diskusi antara kedua lembaga menghasilkan beberapa usulan strategis. Pertemuan menggarisbawahi pentingnya kolaborasi dalam menangani kejahatan obat dan makanan terorganisir, terutama yang memanfaatkan platform digital. Hal ini dianggap krusial mengingat meningkatnya modus kejahatan berbasis teknologi di sektor ini.

BPOM juga mengusulkan pengembangan sistem pencegahan dini dan penanganan cepat untuk program makan bergizi gratis (MBG) yang mendapat tanggapan positif dari MFDS Korea. “Kami melihat peluang besar untuk kolaborasi di bidang ini. MFDS telah menerapkan pendekatan preventif dengan mengintegrasikan nutrisionis dan pengawas sanitasi di setiap fasilitas penyedia makanan,” ucap Young Jo Kim.

MFDS juga berbagi pengalaman mereka dalam penyidikan epidemiologi yang menjadi bagian penting dari mitigasi risiko program MBG. Langkah ini mencakup investigasi menyeluruh terhadap penyebab keracunan makanan hingga perumusan langkah pencegahan yang ketat. “Pendekatan ini memastikan bahwa kejadian serupa dapat dicegah di masa depan,” tambah Young Jo Kim.

Sebagai bagian dari pertemuan ini, BPOM mengusulkan pembentukan forum regional yang melibatkan national regulatory authorities (NRA) dari kawasan Asia dan wilayah lainnya. Forum ini diharapkan menjadi platform diskusi rutin yang membahas dinamika kejahatan obat dan makanan, memperkuat pengawasan lintas batas, dan mendorong pertukaran pengetahuan antarnegara.

Inisiatif ini diproyeksikan mampu meningkatkan efektivitas pengawasan, memperluas jejaring penegakan hukum, serta menciptakan efek jera yang lebih kuat bagi pelaku kejahatan. Selain itu, forum ini dapat menjadi pijakan dalam mendukung diplomasi kesehatan dan ekonomi di kawasan Asia.

Melalui penyelenggaraan pertemuan ini, Indonesia dan Korea Selatan tidak hanya membangun landasan untuk berbagi praktik terbaik, tetapi juga mempererat kerja sama di bidang pengawasan obat dan makanan. Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk mewujudkan forum regional pemberantasan kejahatan obat dan makanan yang tidak hanya memperkuat posisi regulator di kawasan Asia, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan keamanan pangan global.

Pada kesempatan berbeda, Kepala BPOM Taruna Ikar menegaskan komitmen BPOM untuk terus memperkuat pengawasan melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan pihak internasional. Forum BPOM bersama dengan MFDS hari ini diharapkan dapat menjadi model kolaborasi internasional yang adaptif terhadap perkembangan modus kejahatan bidang obat dan makanan. (KS-Desti)

 

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana