Jakarta – Kepala BPOM RI Taruna Ikrar berbincang dengan perwakilan Pharmaceutical Security Institute (PSI), sebuah organisasi nirlaba yang didukung 40 produsen farmasi internasional, dalam pertemuan informal pada Selasa (24/9/2024). Pertemuan ini bertujuan menjalin relasi dan menginisiasi kerja sama PSI dengan regulator obat, dalam hal ini BPOM, di berbagai aspek.
Hadir mendampingi Kepala BPOM adalah Direktur Pengawasan Keamanan, Mutu, dan Ekspor Impor Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif serta perwakilan Direktorat Cegah Tangkal dan Direktorat Siber Obat dan Makanan. Turut hadir pula Direktur Regional Asia Pasifik PSI Ramesh Raj Kishore.
“Sebelumnya kami belum bekerja sama intensif dengan BPOM. Namun setelah COVID-19 dan berbagai tantangan yang dihadapi, saya pikir tahun lalu adalah kali pertama kita bekerja dengan BPOM,” ungkap Presiden PSI Todd Ratcliffe membuka perbincangan. Todd Ratcliffe menambahkan bahwa PSI ingin berbuat lebih banyak lagi dan memiliki hubungan kerja dengan regulator Indonesia, setelah sebelumnya PSI mempunyai hubungan baik dengan BukaLapak, Tokopedia, Shopee, Lazada, dan platform e-commerce lainnya.
Presiden PSI juga mengatakan bahwa PSI dibentuk karena keprihatinan terhadap pemalsuan produk medis yang mengancam kesehatan masyarakat. Anggota mereka mengumpulkan dan menganalisis data tentang pemalsuan obat, lalu membagikan informasi tersebut kepada penegak hukum, otoritas pengawas obat-obatan, dan lembaga pemerintah lainnya yang berdedikasi untuk memerangi masalah ini. Sebelumnya, PSI telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Filipina dan ingin mereplikasinya dengan Indonesia.
Menanggapi keinginan PSI, Kepala BPOM menyampaikan Indonesia adalah negara besar dengan wilayah yang luas, penduduk yang banyak, dan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat. Presiden terpilih menginginkan Indonesia tumbuh lebih besar lagi. Taruna Ikrar menyatakan kerja sama dengan PSI merupakan hal strategis dan penting mengingat luasnya wilayah cakupan pengawasan BPOM. Input informasi peredaran obat palsu dari PSI akan sangat membantu upaya pemberantasan obat palsu yang dilakukan BPOM. Pada akhirnya, kerja sama tersebut akan mendukung pencapaian tujuan pertumbuhan Indonesia.
Selain tentang permasalahan obat, Kepala BPOM dan Presiden PSI juga bertukar pikiran tentang penerapan labelisasi kandungan gula, garam, dan lemak (GGL), baik Indonesia maupun di negara lain. Di akhir pertemuan, Kepala BPOM dan Presiden PSI menyepakati bahwa dengan pertemuan yang pada hari ini akan dapat ditindaklanjuti dengan komunikasi yang intensif untuk kolaborasi lebih lanjut antara BPOM dengan PSI. (HM-Nelly)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
