BPOM Perkuat Kapasitas Pengawas Pangan dan Dukung Inovasi Pelaku Usaha Pangan Olahan

17-09-2022 Kerjasama dan Humas Dilihat 548 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

DenpasarKamis (15/09/2022), BPOM selenggarakan rangkaian kegiatan pengawalan keamanan pangan. Rangkaian kegiatan ini merupakan upaya BPOM untuk mendorong keamanan pangan Indonesia yang saat ini tengah memulihkan diri dari efek pandemi. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid dan diikuti oleh pengawas pangan BPOM beserta Balai Besar/Balai POM serta Satuan Kerja Perangkat Daerah Bali.

Untuk mencapai recover together, recover stronger, tentu dibutuhkan kontribusi semua pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, termasuk masyarakat. Salah satunya dengan bersama memastikan keamanan pangan yang berperan penting dalam menjaga ketahanan sumber daya manusia Indonesia dalam melalui masa pandemi. Dalam hal ini, BPOM berkontribusi melalui pengawasan yang intensif, mulai dari pengawasan pre-market hingga post-market.

“Bali sebagai pusat pariwisata membutuhkan pengawas pangan yang profesional dan mahir guna memastikan keamanan pangan bagi wisatawan,” terang Kepala Balai Besar POM (BBPOM) di Denpasar, I Made Bagus Gerametta saat menyampaikan sambutannya. 

Dalam kegiatan ini, terdapat sesi khusus membahas mengenai Strategi Pengembangan Kompetensi Pengawas Pangan Nasional bersama Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengawas Obat dan Makanan BPOM serta Dialog Peningkatan Engagement dan Produktivitas Kinerja Pengawas Pangan bersama Plt. Direktur Pengawasan Produksi Pangan Olahan. Dalam dua sesi ini dijelaskan bahwa pengawas pangan menjadi sebuah profesi baru di era 4.0. Untuk mendukung kinerja profesi pengawas pangan, BPOM telah memiliki skema sertifikasi pengawas pangan yang dikembangkan di lingkup Lembaga Sertifikasi Profesi BPOM. BPOM juga telah memiliki pembagian tugas pemeriksa pangan olahan berdasarkan tingkat risiko pangan olahan dan disesuaikan dengan jenjang kompetensi petugas pemeriksa. 

Keamanan pangan dipengaruhi sejumlah faktor yang memerlukan adanya peningkatan kapasitas pengawas pangan di lapangan. Faktor tersebut, termasuk di dalamnya terkait dengan dampak penanganan limbah dan problem iklim global yang menyebabkan krisis food security

“Untuk meresepons hal tersebut, dibutuhkan pengawas pangan yang berkualitas dan akuntabel yang telah terlatih sesuai standar internasional. Pengawas pangan diharapkan bisa melakukan hazard analysis, menemukan critical point,” ujar Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan, Rita Endang, yang turut hadir pada kegiatan ini secara daring. 

Isu lain terkait keamanan pangan adalah meningkatnya perhatian akan pangan yang terbuang sia-sia/food loss waste, yang juga menjadi salah satu topik materi yang dibahas dalam rangkaian kegiatan ini, yaitu terkait Sistem manajemen keamanan pangan mendukung produksi dan konsumsi berkelanjutan: Food Loss Waste (FLW). Saat ini penghasil komoditas dalam negeri dihadapkan pada masalah harga yang tidak kompetitif dan keterbatasan kompetensi yang membuat hasil panen yang berlimpah ruah tidak dapat diolah secara maksimal dan akhirnya terbuang.

“Untuk itu, dibutuhkan sistem manajemen keamanan pangan yang dapat merespons isu ini. Tentunya agar produk pangan olahan tersebut bisa dimaksimalkan dalam pengolahannya,” lanjut Rita Endang.

Lebih lanjut, rangkaian kegiatan ini dilanjutkan dengan sesi diskusi terkait pembangunan industri saus tomat dan saus sambal. Melalui diskusi ini diharapkan dapat membangkitkan inovasi dari para peserta, terutama pelaku usaha pangan, untuk memanfaatkan tomat sebagai bahan dasarnya. 

Selain itu, juga terdapat sesi paparan materi terkait Penerapan Sistem Manajemen Mutu Keamanan Pangan Olahan di Peredaran (SMKPO). Tujuan dari diskusi ini mengarahkan pelaku usaha dapat menerapkan SMKPO sebagai bentuk proactive control yang dilakukan oleh pelaku usaha secara mandiri. Sesi paparan lainnya adalah terkait Sosialisasi Keamanan dan Mutu Pangan melalui penerapan Cara Pembuatan Pangan Olahan yang Baik (CPPOB).

Mengakhiri rangkaian kegiatan ini, BPOM memberikan Penghargaan terkait pangan di sejumlah kategori. Penghargaan diberikan diberikan kepada Desa Pangan Aman yang telah mengimplementasikan keamanan pangan dengan baik, yaitu Juara 1 Nagari Buaya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat; Juara 2 Desa Timusu, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, dan Juara 3 Desa Brubuh, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Selanjutnya, apresiasi kepada Pasar Aman Berbasis Komunitas yang telah berupaya memenuhi persyaratan keamanan pangan, yaitu Juara 1 Pasar Nyanggelan, Kota Denpasar, Bali; Juara 2 Pasar Mayestik, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta, dan Juara 3 Pasar Niten, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

Penghargaan juga diberikan kepada Sekolah dengan komitmen dan inovasi Program Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) terbaik. Dari kategori Sekolah Dasar (SD), yaitu Juara 1 SDIT Istiqamah Balikpapan, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur; Juara 2 SDI Al Akbar, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur; dan Juara 3 SD Negeri Kyai Mojo Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Provinsi DI Yogyakarta. Dari kategori Sekolah Menengah Pertama (SMP), yaitu Juara 1 SMP Muhammadiyah Ahmad Dahlan, Kota Metro, Provinsi Lampung; Juara 2 SMP Negeri 22 Malang, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur; dan Juara 3 SMP Negeri 1 Muara Bungo, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Dari kategori Sekolah Menengah Atas (SMA) terdapat 1 pemenang, yaitu SMAN 1 Kejuruan Muda Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. (HM-Khairul)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat


Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana