Jakarta – Tak terasa 7 tahun sudah Badan Pengawas Obat dan Makanan dipimpin Ibu Penny K. Lukito. Menyudahi dedikasinya mewujudkan pengawasan obat dan makanan efektif untuk kemajuan bangsa, Kepala BPOM periode 2016-2023 menerbitkan dokumentasi kisah perjuangan dalam sebuah buku “Karya & Kiner7a, Melewati Multi Krisis: Pandemi COVID-19”, di Gedung Merah Putih BPOM, Senin (06/11/2023).
Buku “Karya & Kiner7a, Melewati Multi Krisis: Pandemi COVID-19” merangkai perjalanan berharga BPOM dalam menghadapi krisis COVID-19 sebagai regulator yang berorientasi pada perlindungan kesehatan masyarakat. Buku ini merangkum berbagai upaya BPOM dalam mendorong kemandirian serta daya saing sediaan farmasi nasional di tengah krisis pandemi. Segala hal yang terasa mustahil di masa krisis, diupayakan menjadi sebuah kemungkinan dengan tujuan menyelamatkan bangsa.
Penny K. Lukito menceritakan pada awal kepemimpinannya hingga menjabat selama 7,5 tahun, BPOM melakukan perkuatan kelembagaan dan regulasi, perkuatan sumber daya manusia, hingga membuka ruang komunikasi untuk meningkatkan terjalinnya kerja sama dengan stakeholders. Seluruh hal tersebut pada akhirnya mengantarkan BPOM siap menghadapi perubahan termasuk menghadapi pandemi.
Dalam perjalanannya, Ia juga mengaku posisinya sebagai Kepala BPOM memungkinkan adanya conflict of interest maupun kepentingan politik. Namun, prinsipnya yang selalu berpedoman pada keamanan dan kesehatan warga negara tetap menuntunnya ke jalur yang seharusnya dan membuatnya tidak gentar dengan segala tekanan.
“BPOM merupakan suatu entitas yang unik dan multipower, kami adalah regulator, pengawas, dan penegak hukum. Tiga fungsi yang sangat kuat yang memungkinkan adanya konflik kepentingan maupun abuse of power.” jelasnya.
Pada kegiatan launching buku ini, hadir tokoh-tokoh yang telah berkolaborasi bersama BPOM dalam penanganan pandemi COVID-19 untuk memberikan tanggapan langsung pada Buku Karya & Kiner7a. Sesi talkshow bersama penanggap ini dipandu langsung oleh dr. Reisa Broto Asmoro yang pernah mengemban tugas penting sebagai Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19. Salah satu tokoh yang memberikan ulasan terhadap buku yang diluncurkan yaitu Ketua Tim Peneliti Vaksin Merah Putih, Prof. Dr. Fedik Abdul Rantam, Ia mengawali tanggapannya dengan menceritakan pengalaman saat melakukan penelitian.
“Dorongan terhadap pengembangan atau teknologi vaksin di dalam negeri ini begitu sangat fleksibel, di situlah saya mendapat semangat juga dari Ibu Penny dan tim BPOM yang memberikan guidance kepada kami sehingga kami bisa menciptakan Vaksin Merah Putih itu.” Tanggapnya.
Di sisi lain, Direktur Utama PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia, FX. Sudirman turut menyampaikan apresiasinya terhadap kerja sama dan kolaborasi yang dilakukan BPOM sehingga Vaksin Merah Putih, Inavac dapat diluncurkan dan mendapatkan berbagai pengakuan dari dunia.
“Tanggal 4 November 2022 akhirnya kita bisa membuktikan untuk mendapatkan EUA untuk Inavac, akhirnya bisa membuktikan ke dunia walaupun penuh hambatan dan halangan juga banyak yang menentang.” ujarnya teringat ketika membangun vaksin dalam negeri.
Tak hanya peresmian buku, acara ini turut menjadi saksi peningkatan kualitas pelayanan publik secara berkelanjutan dengan diresmikannya 5 (lima) infrastruktur baru di BPOM. Kelima infrastruktur tersebut yaitu Gedung Phinisi sebagai Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan yang dilengkapi dengan teknologi modern dan BPOM Command Center (BCC) untuk pemantauan proses bisnis BPOM secara komprehensif dan real time yang mendukung pengambilan kebijakan pengawasan obat dan makanan. BCC dibangun dengan mengadopsi konsep ruang kemudi kapal yang menggambarkan pengendalian pengawasan obat dan makanan di negara kepulauan Indonesia. Infrastruktur berikutnya yaitu Ruang Sejiwa (Sehat Jiwa) untuk konseling pegawai yang terletak di Gedung Panacea; Ruang Diorama untuk menampilkan kinerja BPOM dalam bentuk karya seni dengan sentuhan teknologi, serta Cafe Nusantara sebagai fasilitas penunjang pelayanan publik yang terletak di Gedung Merah Putih.
“Sebagai wujud nyata komitmen BPOM meningkatkan kualitas pelayanan publik secara berkelanjutan, kami terus berupaya merevitalisasi dan melengkapi berbagai sarana dan prasarana baru.” ujar Penny K. Lukito. Kehadiran infrastruktur baru ini diharapkan dapat memberi manfaat optimal untuk peningkatan kinerja BPOM melayani masyarakat.
Pada kesempatan ini, Kepala BPOM periode 2016-2023 juga meresmikan program Intensifikasi Pengawasan dan Penindakan Obat dan Makanan Ilegal yang dikhususkan untuk menangani kasus dan aspek tematik pelanggaran yang ada di bidang obat dan makanan. Program ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah, serta target yang akan dicapai. Program strategis ini perlu dilakukan dengan terukur untuk mengidentifikasi permasalahan bersama dengan lintas sektor terkait sehingga bisa terjalin sinergi dan kolaborasi yang dapat mempercepat pemberantasan pelanggaran obat dan makanan ilegal.
“BPOM tidak hanya bisa menyelesaikan masalah pelanggaran hanya dengan langkah rutin yang dilakukan bersama para penegak hukum lainnya, jadi harus ada satu penegakan atau perumusan program Intensifikasi Pengawasan dan Penindakan Obat dan Makanan Ilegal dengan tematik khusus.” Jelasnya tentang program ini.
Pada rangkaian acara ini juga dilakukan peluncuran 23 (dua puluh tiga) produk informasi obat dan makanan sebagai pedoman dan edukasi seputar penelitian, pembinaan pelaku usaha, dan materi pemberdayaan masyarakat. Produk informasi tersebut akan menjadi acuan bagi unit kerja di BPOM, tenaga kesehatan, pelaku usaha, akademisi, pemerintah pusat dan daera, serta masyarakat untuk mendukung sistem pengawasan obat dan makanan menuju Indonesia Emas 2045. (HM-Devi)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
