Dialog Eksklusif Kepala BPOM bersama Pakar dan Pelaku Usaha, Bahas Tantangan dan Solusi untuk Masa Depan Industri Kosmetik Lokal

28-08-2024 Kerjasama dan Humas Dilihat 1631 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Jakarta BPOM berpartisipasi dalam program dialog Beauty Journey Special yang diselenggarakan dan disiarkan secara langsung oleh CNBC Indonesia TV, Selasa (27/8/2024). Bergabung secara virtual pada dialog tersebut adalah Kepala BPOM RI Taruna Ikrar. Narasumber lainnya yang dihadirkan pada diskusi panel, yaitu Staf Khusus Menteri Perdagangan RI Bara Krishna Hasibuan, Ketua Umum Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika Indonesia Sholihin Sofian, Founder Core Indonesia Hendri Saparini, serta Founder & Chief Executive Officer (CEO) of AVO Innovation Technology Anugerah Pakerti yang mewakili pelaku usaha kosmetik.

Mengangkat tema “Banjir Produk China, Brand Lokal Harus Apa?”, dialog ini menyoroti terkait banyaknya kehadiran produk kosmetik asing ke dalam negeri, terutama produk dari Tiongkok, yang dinilai terjadi di saat industri kecantikan lokal sedang tumbuh subur-suburnya. Para narasumber yang hadir memaparkan sudut pandang masing-masing mengenai faktor yang menjadi penyebab banjirnya produk impor di Indonesia.

Dari sisi industri, dalam 3 tahun terakhir lonjakan barang yang masuk dari luar negeri semakin signifikan. Hal ini semakin terlihat sejak dibukanya kembali akses pasar global setelah pandemi, ditambah dengan banyaknya platform yang mempermudah akses bagi para pemain usaha di bidang kosmetik dalam memasarkan produknya,

“Dari digital menunjukkan adanya shifting, yang biasanya [produk kosmetik] dikuasai brand lokal, sekarang bergeser ke brand-brand dari luar negeri, spesifically barang dari China. Ini menjadi tekanan yang besar bagi kami brand lokal,” tutur Anugerah Pakerti membuka percakapan pada sesi diskusi.

Pesatnya transaksi penjualan produk kosmetik impor tersebut, menurut Sholihin Sofian, salah satunya didorong dengan kemajuan penggunaan sosial media di Indonesia oleh generasi muda. Hal ini tentunya mempengaruhi pola pemilihan produk-produk yang akan digunakan, termasuk kosmetik.

Kosmetik impor, khususnya produk dari China, memiliki daya jual yang tinggi karena seringkali mematok harga yang lebih murah dari produk lokal. Selain itu, masih adanya importasi produk secara ilegal juga berpotensi tidak hanya merugikan konsumen, tetapi juga merugikan industri dalam negeri yang telah berinvestasi pada pengembangan industri kosmetik lokal.

Selanjutnya dari kacamata ekonomi, Hendri Saparini ikut memberikan komentar bahwa salah satu penyebab pasaran produk lokal tergerus oleh gempuran produk impor adalah karena belum adanya kebijakan pemerintah yang komprehensif dan menjanjikan bagi pelaku usaha. Di sisi lain, Bara Krishna Hasibuan bahwa tingginya angka impor kosmetik ini tidak selalu dari produknya. Melainkan juga impor bahan baku yang digunakan dalam produksi kosmetik lokal. Saat ini, 85% produksi kosmetik lokal masih menggunakan bahan baku dari luar negeri.

Menanggapi diskusi tersebut, Taruna Ikrar menyebut ada 4 hal yang menjadi perhatian jika berbicara mengenai industri kosmetik, yaitu terkait teknologi, bahan baku, konsumen yang akan menggunakan, dan kebutuhan (demand). Banyak industri kosmetik lokal yang terus terpacu untuk menghasilkan produk dengan teknologi dan tren terkini yang menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat saat ini, termasuk untuk dapat bersaing dengan produk impor.

“Tercatat ada sebanyak 519.746 kosmetik yang memperoleh notifikasi (izin edar) dari BPOM dalam 5 tahun terakhir, 69% di antaranya merupakan notifikasi untuk kosmetik lokal. Sebagian besar dari produk-produk tersebut merupakan produksi dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM),” papar Taruna Ikrar.

Menyoal hal ini, Taruna Ikrar menyebut bahwa permasalahan yang dihadapi oleh pelaku UMKM salah satunya adalah dalam pemasaran produk, belum semuanya bisa memanfaatkan e-commerce dengan baik. Ini menjadi tantangan tersendiri untuk mendukung UMKM agar mengerti proses pemasaran yang dapat bersaing dengan produk industri besar, termasuk produk impor.

“Kalau dari BPOM tidak bisa menghalangi masuknya produk dari China atau negara lainnya. Kalau memenuhi syarat atau standar, kita keluarkan izin edarnya. Untuk itu, kami mendorong seluruh lintas sektor terkait untuk terus memberikan support kepada UMKM agar bisa bersaing dengan produk-produk dari luar negeri,” papar Taruna Ikrar lagi.

BPOM terus berupaya untuk memberikan dukungan kepada pelaku usaha dan UMKM kosmetik dalam kapasitasnya sebagai regulator di Indonesia. Dalam konteks promosi, BPOM mendorong pemasaran produk-produk kosmetik lokal melalui berbagai acara yang diselenggarakan, salah satunya melalui kegiatan Wellfest 2024 yang diselenggarakan pada awal Agustus 2024. BPOM juga rutin memberikan berbagai pelatihan teknis kepada pelaku usaha agar dapat terus memproduksi produk kosmetiknya sesuai ketentuan yang berlaku.

Terakhir, Taruna Ikrar menekankan bahwa saat ini kosmetik menjadi bagian dari kebutuhan pokok masyarakat Indonesia dan kebutuhannya semakin meningkat, didorong oleh adanya bonus demografi yang terjadi. Untuk itu, BPOM akan terus mempercepat upaya peningkatan kapasitas pelaku usaha agar tidak hanya menjaga keamanan kosmetik yang beredar di tanah air. Namun lebih besar lagi, untuk mendorong daya saing industri dan UMKM kosmetik di dalam negeri untuk berdaya saing hingga dapat menembus pasar global. (HM-Herma)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana