Dukung Kemandirian Industri Farmasi Nasional, PT Kimia Farma Bangun Pabrik Bahan Baku Obat

11-10-2016 Hukmas Dilihat 2920 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

Saat ini industri farmasi di Indonesia masih sangat bergantung terhadap bahan baku obat impor. Berdasarkan data terkini, hampir 95% bahan baku yang digunakan industri farmasi tanah air sebagian besar masih diimpor dari Tiongkok dan India. Padahal di sisi lain pemerintah berkomitmen untuk mewujudkan kemandirian bahan baku obat sebagaimana dituangkan dalam Instruksi Presiden No. 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.

 

Sejalan dengan itu, berbagai industri farmasi diminta untuk mulai berinvestasi membangun pabrik bahan baku obat untuk mendukung pengembangan industri farmasi nasional ke depan. Mengingat kebutuhan akan obat domestik cukup tinggi, terlebih untuk mendukung program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), komitmen ini perlahan mulai direspon oleh pelaku usaha, dimana PT Kimia Farma akan mulai membangun pabrik bahan baku obat untuk memenuhi ketersediaan bahan baku obat dalam negeri. Pembangunan pabrik bahan baku obat oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu bekerja sama dengan produsen farmasi asal Korea Selatan, Sungwun Pharmacopia Co Ltd.

 

Tahap awal pembangunan dimulai dengan groundbreaking pabrik bahan baku obat yang dihadiri oleh Menteri Kesehatan, Nila F Moeloek; Kepala Badan POM, Penny K. Lukito; Ketua Komisi IX DPR RI, Dede Yusuf; dan Direktur Utama PT. Kimia Farma, Rusdi Rosman, Senin (10/10). Lokasi pabrik bahan baku obat  ini berada di kawasan Industri Lippo Cikarang, Jawa Barat.

 

Dalam sambutan pembukanya, Rusdi mengatakan pembangunan pabrik ditargetkan selesai pada tahun 2017. Adapun komersialisasi hasil produksi Bahan Baku Obat Aktif (API) ini direncanakan pada awal tahun 2018. Pabrik dengan kapasitas produksi 30 ton per tahun ini akan memproduksi delapan bahan baku obat yakni Simvastatin, Atorvastatin, Rosuvastatin, Pantoprazole, Esomeprazole, Rabeprazole, Clopidogrel, dan Sarpogrelate. Pabrik ini juga akan memproduksi tujuh jenis bahan baku kosmetik dan suplemen makanan.

 

Sementara itu, Nila berharap tumbuhnya pabrik bahan baku obat ini akan menjadi awal kebangkitan industri farmasi untuk mendukung realisasi roadmap industri farmasi tanah air. “Jika terus bergantung pada impor, Indonesia tidak akan memiliki stok obat apabila negara pemasok menarik obat-obat mereka. Karena itu, kita harus bisa produksi bahan baku obat sendiri,” ujarnya.

 

Pada kesempatan yang sama, Penny mengungkapkan pihaknya berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan bahan baku obat di Indonesia melalui asistensi pemenuhan standar Cara Pembuatan yang Baik dalam pembangunan fasilitas dan infrastrukturnya, serta  pengawalan terhadap pengembangan bahan baku obat dimulai dari tahap riset pengembangan sampai produksi komersial. “Saya berharap bahwa  PT Kimia Farma (Persero) Tbk. sebagai salah satu industri farmasi BUMN mampu menghadapi tantangan global melalui pemenuhan standar mutu bahan baku obat secara terus-menerus dalam rangka mendukung kemandirian bahan baku obat nasional,” tegas Penny. HM-Kendra

 

Biru Hukum dan Hubungan Masyarakat

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana