Jakarta – Pangan Indonesia memiliki potensi dan peluang yang sangat besar untuk diekspor ke mancanegara. Hal ini terlihat dari tingginya permintaan Surat Keterangan Ekspor (SKE) pangan olahan melalui BPOM. Data menunjukkan permintaan SKE dari tahun 2018-2022 cenderung meningkat dengan negara tujuan ekspor terbesar, yaitu negara-negara di Kawasan Asia Tenggara, China, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Untuk mendukung peningkatan ekspor pangan olahan oleh para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam negeri, BPOM menggelar Program Pelatihan UMKM Pangan Olahan Go Export 2023, Rabu (01/03/2023). Kegiatan tersebut diselenggarakan secara daring dengan turut mengundang sekitar 350 UMKM pangan olahan binaan BPOM dan UMKM pangan lainnya yang memiliki potensi untuk mengekspor produknya.
Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan BPOM, Rita Endang, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk dukungan BPOM terhadap program nasional, yaitu Indonesia Spice Up to World (ISUTW). Program ISUTW sendiri merupakan program kolaborasi yang dikoordinir oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi yang bertujuan mengangkat rempah dan bumbu masakan merek lokal Indonesia agar dapat menembus pasar internasional.
“Salah satu kunci untuk memperbaiki perekonomian nasional adalah dengan meningkatkan ekspor. Oleh sebab itu, produk dalam negeri yang akan diekspor harus benar-benar memiliki standar, serta memiliki kemasan yang baik agar dapat memperkuat branding produk. Branding di mata konsumen internasional, bahwa produk yang akan di ekspor harus terlihat bisa dipakai dan keberlanjutan produk ini ada sepanjang masa,” ungkap Rita Endang dalam sambutanya.
“Ekspor pangan olahan memiliki peluang yang sangat besar untuk memenuhi persyaratan ekspor, harus mempunyai Surat Keterangan Ekspor (SKE) pangan olahan dari BPOM. Hal ini tidak wajib, tetapi SKE menjadi salah satu bukti bahwa pemerintah turut serta mendukung produk tersebut,” tambahnya kembali
Kegiatan pelatihan ini bekerja sama dengan PT Ultima Rasa Akselerasi (PT Ultra). Pelatihan terdiri atas enam tahapan yang menggunakan mekanisme kurasi di setiap tahapannya untuk menentukan kelulusan peserta. Tahap pertama yang diadakan pada hari ini adalah Sosialisasi dan Open Call dengan target diperoleh sekitar 500 peserta. Tahap selanjutnya adalah Onboarding, yaitu pendampingan terstruktur oleh BPOM dan PT Ultra diikuti penyampaian materi terkait cara registrasi pangan hingga pemasaran produk pangan olahan. Dilanjutkan dengan tahap Readiness Level, tahap pemberian materi dan penugasan tentang pengembangan bisnis. Selanjutnya, tahap Capacity Building untuk mentoring peserta berdasarkan hasil dari tahap sebelumnya.
Produk peserta yang lolos hingga keempat tahap tersebut berpeluang untuk dipamerkan di Trading House Sarinah Thamrin dan mengikuti Business Matching dengan pembeli dari luar Indonesia. Selain itu, pada tahun ini terdapat penambahan kegiatan yang dapat diikuti peserta sebagai media untuk promosi produknya, yaitu Food Startup Indonesia Trade Show. Kegiatan tersebut merupakan pameran bisnis kuliner yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang tentunya dapat semakin membuka kesempatan terjadinya kerja sama, baik lingkup dalam negeri maupun luar negeri (ekspor).
“Program UMKM Pangan Olahan Go Export 2023 ini merupakan pelatihan ke-2. Tahun lalu sudah berjalan dan sudah terlihat potensinya, yaitu salah satu peserta yang tengah bersiap untuk ekspor rendang ke Dubai. Peran BPOM sangat aktif dalam mendukung percepatan dokumen yang dibutuhkan,” jelas Bonnie Susilo, Co-Founder PT Ultra yang turut hadir dalam kegiatan hari ini.
Dengan diadakannya pelatihan UMKM Pangan Olahan Go Export 2023, diharapkan pangan olahan asal Indonesia dapat semakin didorong untuk diekspor ke berbagai negara. Dengan begitu, produk-produk asli Indonesia dapat lebih dikenal dan dikonsumsi oleh masyarakat internasional, sehingga perekonomian nasional bisa segera pulih dan bangkit. (HM-Chandra)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
