Food Safety: ‘A Shared Responsibility’

15-03-2015 Dit Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan Dilihat 2290 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

Global Food Safety Conference (GFSC) untuk pertama kalinya diselenggarakan di Asia Pasifik oleh the Consumer Goods Forum pada tanggal 3-5 Maret 2015 bertempat di Kuala Lumpur Convention Center (KLCC) Malaysia. Food safety: a Shared Responsibility adalah tema besar yang diangkat pada konferensi ini dengan semangat mewujudkan keamanan pangan sebagai tanggung jawab bersama seluruh pihak di sepanjang rantai pangan dan bukan hanya beban salah satu pihak saja. Sekitar 900 profesional industri pangan, lembaga sertifikasi, asosiasi, lembaga pemerintah, perguruan tinggi dan organisasi internasional dari 45 negara berpartisipasi dalam GFSC tahun 2015. Rangkaian kegiatan konferensi meliputi 5 plenary session, 10 breakout session, 4 special session, stakeholder meeting, dan exhibition.

 

Roy Sparringa, Kepala Badan POM diundang sebagai salah satu pembicara GFSC 2015 dalam breakout session 2 yang mengambil sub tema ‘Top Mind Issues in Food Safety’. Kepala Badan POM berbagi sesi ini dengan pembicara dari kalangan asosiasi dan industri sehingga beliau menjadi satu-satunya pembicara dari kalangan pemerintah. Paparan Kepala Badan POM difokuskan pada Elimination of Technical Barriers to Food Trade in ASEAN. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan diberlakukan secara menyeluruh pada akhir tahun 2015 sehingga seluruh negara anggota ASEAN harus mempersiapkan sumber daya untuk menghadapinya. Pemerintah, kalangan industri, akademia, dan konsumen memiliki tugas dan peran sehingga MEA membawa kemaslahatan bagi negara anggota pada khususnya serta masyarakat ASEAN pada umumnya. Salah satu konsekuensi MEA terhadap rantai pangan di ASEAN adalah jaminan atas pasokan pangan yang memenuhi persyaratan keamanan pangan secara konsisten, praktik perdagangan pangan secara adil dalam pasar yang lebih kompetitif, serta pemenuhan kebutuhan konsumen akan pangan bermutu yang terjangkau akses dan harganya.  Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi kemungkinan timbulnya hambatan teknis non tarif dengan pemberlakuan MEA di antaranya penyusunan pedoman praktik yang baik, harmonisasi standar, mutual recognition agreement (MRA), dan pengembangan ASEAN Food Reference Laboratory (ARFL). Pengembangan kapasitas bagi petugas pemerintah dan industri serta peningkatan kesadaran konsumen akan keamanan pangan juga diperlukan sehingga pedoman dan perangkat yang telah disiapkan tersebut dapat dimanfaatkan untuk peningkatan keamanan pangan di ASEAN.

 

GFSC 2015 menjadi forum yang sangat bermanfaat untuk memperoleh informasi perkembangan terkini, berbagi pengalaman, serta memperluas jejaring dengan komunitas keamanan pangan global. Salah satu pesan dari GFSC 2015 adalah food safety is expected, not a competitive issue. Oleh karenanya, keamanan pangan harus menjadi karakteristik suatu produk pangan untuk dikonsumsi konsumen.

 

Selain partisipasi dalam GFSC 2015, Kepala Badan POM didampingi Halim Nababan, Direktur Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan dan Rina Puspitasari berkesempatan menghadiri Global Food Safety Partnership Food Safety Technical Working Group (GFSC FSTWG) Meeting pada tanggal 6 Maret 2015. GFSP merupakan inisiatif kemitraan antara sektor publik dan swasta yang didedikasikan untuk meningkatkan keamanan pangan di Negara berkembang dan Negara yang dikategorikan berpendapatan menengah. FSTWG adalah salah satu dari lima working group GFSP yang memberikan input teknis untuk topik dan isi materi pengembangan kapasitas keamanan pangan berbasis kompetensi. GFSC FSTWG meeting kali ini mendiskusikan tentang kemajuan implementasi serta rencana mendatang dari program kegiatan di bawah koordinasi FSTWG yang dilaporkan oleh chair masing-masing electronic working group (EWG) antara lain EWG needs assessment, EWG laboratory capacity, EWG primary production, dan EWG regulatory.

 

---Dit. Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan--

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana