Serang – Kepala BPOM Taruna Ikrar melakukan peletakan batu pertama/groundbreaking dan meresmikan LAPI Research and Development Innovation Center (LRIC) milik PT LAPI Laboratories. Operasional LRIC akan berfokus pada pengembangan riset untuk produk dry powder inhalation (DPI); produk biosimilar, seperti insulin, dan antibodi monoklonal; serta produk first-me-too (solid dosage form).
Momen tersebut dilakukan bersamaan dengan acara bertajuk “Transformasi Riset dan Pengembangan Untuk Daya Saing Nasional Melalui LRIC” yang diselenggarakan di Kawasan Modern Industrial Estate, Cikande, Serang pada Jumat (16/5/2025). Turut hadir dalam peresmian tersebut, yaitu Inspektur Jenderal Tentara Nasional Indonesia Letjen Muhammad Saleh Mustafa; Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Banten, yang diwakili Kepala Bidang Kesehatan Komisaris Besar Polisi Drg. Iwansyah; Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara Heru Budi Hartono; Komisaris PT LAPI Laboratories Mustapa Widjaja; serta Direktur Utama PT LAPI Laboratories Hardy Setiady dan Managing Director PT Lapi Andy Setiady.
“Saya menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada PT LAPI Laboratories atas inisiatif yang luar biasa membentuk dan meluncurkan LRIC. Ini merupakan suatu langkah yang menunjukkan komitmen kuat PT LAPI untuk tidak hanya menjadi pelaku industri farmasi, tetapi juga menjadi motor penggerak inovasi berbasis riset di Indonesia,” ujar Kepala BPOM Taruna Ikrar mengawali sambutannya.
Taruna Ikrar memaparkan data fasilitas produksi kefarmasian yang telah memperoleh Sertifikat Cara Produksi Obat yang Baik (CPOB) berdasarkan data fasilitas produksi obat terkini. Tercatat total fasilitas tersebut hingga saat ini, yaitu 219 industri farmasi obat jadi di Indonesia (209 industri obat kimia, 7 industri produk biosimilar, dan 3 industri produk vaksin), 4 fasilitas radiofarmaka, 18 industri bahan aktif obat, 23 unit pengelola darah (UPD), dan 5 fasilitas pengolahan produk terapi advance (advanced therapy medicinal products/ATMP).
“BPOM senantiasa berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan industri farmasi berbasis inovasi dalam negeri, meningkatkan pendampingan teknis, baik dalam proses perizinan sarana produksi maupun evaluasi mutu produk inovatif, guna memastikan industri farmasi Indonesia mampu menjawab tantangan global. Kami terus mendorong pendekatan berdasarkan science-based regulation, memperkuat kajian berbasis risiko dan data ilmiah, serta membuka ruang kolaborasi sejak tahap awal pengembangan produk,” beber Taruna Ikrar.
Taruna menjelaskan kembali bahwa BPOM kini tengah berproses menjadi WHO Listed Authority (WLA) sebagai langkah untuk membangun sistem pengawasan obat dan makanan yang kredibel dan berdaya saing global. Di sinilah, menurutnya, kiprah LRIC sebagai pusat inovasi menjadi sangat strategis dan dapat berperan sebagai simpul kolaborasi antara dunia riset, industri, dan regulator.
“Harapan saya, LRIC ini mampu menjadi center of applied innovation yang menjembatani antara riset dan kebutuhan teknologi industri farmasi; mendukung validasi proses dan pengujian produk inovatif; serta menjadi mitra strategis BPOM dalam memastikan inovasi berjalan selaras dengan aspek mutu, keamanan, dan kemanfaatannya,” lanjutnya.
Managing Director PT Lapi Andy Setiady turut menjelaskan mengenai beberapa proyek yang tengah digarap pihaknya dalam upaya berkontribusi terhadap pengembangan dan ketahanan industri farmasi nasional. “Kami memiliki proyek yang kami garap bersamaan dan ke depan, ada beberapa proyek masuk dalam jangka panjang, seperti biosimilar, generic plant hingga drug substance untuk bahan baku obat. LAPI juga akan memperluas ekspansi ke luar negeri, seperti Filipina, Thailand, dan beberapa negara di Afrika yang didukung oleh presiden setempat,” paparnya.
Kehadiran LRIC memperoleh apresiasi dari Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara Heru Budi Hartono. Selain berkontribusi membawa industri farmasi Indonesia ke kancah global, pengembangan sarana ini membuka peluang untuk merekrut lebih banyak generasi terbaik bangsa dalam mewujudkan kemandirian farmasi. “Semoga LAPI menjadi simbol nasional dalam pengembangan farmasi,” harapnya.
Di akhir kegiatan, Kepala BPOM bersama Managing Director PT Lapi dan Staf Khusus Mensesneg melakukan prosesi penanaman pohon Pule (Alstonia scholaris) di lokasi groundbreaking. Penanaman ini menjadi simbol tekad dan komitmen secara kolektif untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. Pohon Pule dipilih karena memiliki makna mendalam dalam budaya nusantara. Pohon ini dapat tumbuh di tanah yang kurang subur, sekaligus dijadikan sebagai filosofis PT LAPI untuk tetap tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia dalam kondisi apapun. (HM-Rizky)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
