Badan POM adalah satu-satunya instansi pemerintah yang turut berpartisipasi dalam Pameran Convention on Pharmaceutical health Ingredients South East Asia (CPhI SEA) di JI-Expo Kemayoran Jakarta, 6-8 April 2016. Pameran industri farmasi yang telah berlangsung ke lima kalinya ini diikuti lebih 260 peserta dari 25 negara dengan pavilion nasional dan grup dari Korea, China, India, serta Mensa Group. Acara dibuka oleh Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Maura Linda Sitanggang bersama Presiden Direktur PT UBM Pameran Niaga Indonesia, Christopher Eve, dan Ketua Ketua Umum GP Farmasi, Johannes Setijono.
Dalam sambutannya Linda sangat mengapresiasi pameran industri farmasi ini, dimana Indonesia telah menjadi tuan rumah sejak 2012. Menurutnya Indonesia merupakan pasar farmasi terbesar di ASEAN yang memiliki potensi tinggi dan peluang yang sangat baik untuk produksi obat dan pembangunan infrastruktur kesehatan. Pada tahun 2015 pasar industri farmasi senilai 62 triliun, dengan harapan akan terus meningkat sepuluh kali lipat dalam sepuluh tahun ke depan. Terlebih dengan telah diimplementasikannya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sebagai prioritas agenda pemerintah sejak 2014.
Pesatnya perkembangan industri farmasi seiring dengan peningkatan kebutuhaan sediaan farmasi harus diikuti dengan ketersediaan bahan baku sebagai komponen utama dalam produksi sediaan farmasi. Untuk memenuhi kebutuhan ini, Indonesia masih mengimpor sekitar 95% bahan baku obat sehingga dikhawatirkan dapat mempengaruhi ketersediaan dan harga obat nasional. Merespon hal itu, pemerintah mendorong industri farmasi untuk meningkatan peluang investasi produksi bahan baku obat di dalam negeri.
Industri farmasi di Indonesia diharapkan dapat bertransformasi menjadi industri farmasi berbasis riset dan pengembangan produk dalam jangka panjang sehingga mampu bersaing di pasar global. Upaya kemandirian bahan baku sejalan dengan roadmap pengembangan industri farmasi yang meliputi pengembangan bahan baku terdiri dari bahan kimia, herbal, biologi, dan vaksin. “Roadmap ini sebagai panduan utk memproduksi bahan baku obat di dalam negeri sehingga diharapkan pada 2025 Indonesia dapat mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan ekspor obat dan bahan baku obat,” tegas Linda.
CPhI SEA 2016 memadukan lima pameran farmasi sekaligus yaitu untuk bahan baku, teknologi, produk kemasan, industri manufacturing, nutrasetikal, dan pangan fungsional. Pada kesempatan itu, Direktur Surveilans dan Penyuluhan Keamanan Pangan, Badan POM, Halim Nababan menjadi keynote speech mewakili Kepala Badan POM, Roy Sparringa dalam seminar bertema “Health Ingredients And Functional Foods For Better Quality of Life”. Dalam paparannya dia menyampaikan tentang regulasi pangan, pengawasan pre dan post market, serta keamanan pangan.
Peserta dan pengunjung yang didominasi oleh pelaku usaha bahan baku obat maupun obat herbal asal mancanegara beramai-ramai mengunjungi booth Badan POM. Mereka sangat antusias berkonsultasi menanyakan prosedur pemasukan bahan baku maupun registrasi obat, obat herbal, kosmetik, suplemen makanan, dan pangan. Pada umumnya pelaku usaha ingin berinventasi memasarkan produknya dengan kemudahan regulasi dan biaya yang relatif terjangkau di Indonesia. (HM-Fathan)
Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat
