Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan (Dit SPKP) selaku Sekretariat ASEAN Expert Group on Food Safety (AEGFS) focal point dan Ketua Kelompok Kerja Jejaring Intelijen Pangan (JIP) menginisiasi pengembangan Indonesia Risk Assessment Center (INARAC) di Indonesia sebagai tindak lanjut endorsement ASEAN Risk Assessment Center (ARAC) dalam Senior Official Meeting on Health Development (SOM-HD) tahun 2014. Pengembangan INARAC dilaksanakan bersama stakeholder kunci di tingkat nasional, regional, maupun global. International of Life Sciences Institute South East Asia (ILSI SEA) Region adalah salah satu stakeholder kunci yang memberikan dukungan penuh dalam pengembangan INARAC di Indonesia. Salah satu wujud nyata dukungan ini adalah memfasilitasi kehadiran Prof Andrew Bartholomeaus, General Manager Risk Assessment Branch Food Standards Australia New Zealand 2008-2012, ke Badan POM untuk berbagi pengalaman mengenai pelaksanaan manajemen risiko dan kajian risiko di Australia dan New Zealand. In-house INARAC consultation session bersama Prof Bartholomeaus diselenggarakan pada tanggal 4 Februari 2015 di Ruang Rapat Deputi 3 dihadiri oleh sekitar 40 orang yang merupakan perwakilan Pusat Riset Obat dan Makanan (PROM), Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPOMN), unit kerja terkait di Kedeputian 3, serta tim @risk Badan POM.
In house INARAC consultation session didahului dengan sambutan singkat dari Ms. Yeong Boon Yee, Executive Director ILSI SEA Region yang menyampaikan apresiasinya kepada Indonesia sebagai Negara ASEAN pertama yang menindaklanjuti ARAC di tingkat ASEAN dengan pengembangan INARAC. Ms Boon Yee juga menyampaikan komitmen ILSI untuk membantu Indonesia membangun kapasitas ilmiah dalam rangka memperkuat posisinya di ASEAN. Selanjutnya, Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Suratmono, menyampaikan sambutan pengarahan sekaligus membuka pertemuan secara resmi. Beliau menekankan pentingnya pembelajaran kajian risiko keamanan pangan secara berkesinambungan di Badan POM sebagai perintis INARAC juga bagaimana Badan POM dapat memadukan langkah dengan instansi lintas sektor lainnya dan perguruan tinggi di Indonesia. Beliau juga menyambut sangat baik dukungan ILSI untuk pengembangan INARAC di Indonesia.
Direktur Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan, Halim Nababan, mengawali acara inti pertemuan ini dengan memaparkan kemajuan pengembangan INARAC yang diinisiasi pada tahun 2014 lalu seperti visi misi, struktur organisasi, panel ilmiah, dan alur kajian risiko di dalam INARAC. Prof Bartholomeaus melanjutkan sesi presentasi ini dengan penjelasan tentang pelaksanaan kajian risiko dan manajemen risiko di Food Standards Australia New Zealand (FSANZ). Beliau menyampaikan kiat-kiat memperkuat kapasitas ilmiah sumber daya manusia (SDM) maupun institusi yang sangat penting untuk memungkinkan kajian risiko yang handal terlaksana secara obyektif. Kiat-kiat tersebut di antaranya penugasan personil untuk tugas yang berbeda secara fleksibel, kontribusi personil dalam kegiatan akademik di perguruan tinggi, penguatan kapasitas institusi di berbagai bidang (multi disiplin) termasuk statistik, modelling, ilmu sosial, ilmu pangan, dan epidemiologi, akses untuk perpustakaan, dan sebagainya. Peserta mendapat kesempatan untuk berdiskusi dengan Prof Bartholomeaus dipandu oleh Prof Dr Winiati P Rahayu, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor. In house INARAC consultation session sangat bermanfaat untuk menambah wawasan peserta bagaimana manajemen risiko dan kajian risiko dapat bersinergi secara konstruktif.
---Dit. Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan---
