Jangan Ragu Vaksinasi, Terbukti Aman

01-07-2021 Kerjasama dan Humas Dilihat 1773 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

Jakarta - Pemerintah terus mempercepat pelaksanaan program vaksinasi nasional untuk menekan lonjakan kasus COVID-19 belakangan ini. Masyarakat diminta jangan ragu divaksinasi, karena vaksin yang digunakan sudah melalui rangkaian tahapan uji klinik yang valid.

Direktur Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Badan POM, Togi Junice Hutadjulu menegaskan bahwa vaksin COVID-19 telah melalui evaluasi dan pengawasan Badan POM. Pengawasan dan pengawalan yang dilakukan oleh Badan POM mulai dari tahap pre-market, yakni uji pra-klinik, uji klinik, hingga tahapan produksi. "Kami awasi secara ketat setiap tahapan, bahkan kami datang ke fasilitas produksinya di luar negeri," ujarnya saat menjadi salah satu narasumber dalam Webinar “Enaknya Diobrolin: Ilmuwan Menjawab Keraguan Vaksinasi" yang diselenggarakan Narasi Newsroom, Rabu (30/06/21).

Lebih lanjut, Togi menjelaskan pengawasan pada tahap post-market vaksin juga dilakukan untuk menjaga konsistensi mutu vaksin. Vaksin diawasi sepanjang jalur distribusi sampai disuntikkan kepada masyatakat. "Badan POM punya perwakilan Balai Besar/Balai POM di 33 provinsi dan Loka POM di 40 kabupaten/kota yang akan mengawasi peredaran vaksin, dan melakukan pengambilan sampel untuk diuji di Laboratorium Produk Biologi Badan POM," lanjutnya.

Senada dengan itu, Peneliti Bioteknologi dan Associate Professor University Putra Malaysia, Bimo Ario Tejo menjelaskan bahwa seluruh vaksin COVID-19 yang digunakan saat ini sudah melalui tahapan yang benar. "Semua pengembangan vaksin COVID-19 di dunia, tidak ada satu tahapan yang dilewatkan, sehingga aman digunakan," ucap Bimo.

Menurutnya, vaksinasi merupakan upaya penting dalam mengatasi pandemi. Seperti di Eropa, cakupan vaksinasi sudah sangat tinggi sehingga terbentuk kekebalan kelompok. "Terbukti saat ini kita bisa menonton mereka menyaksikan Euro Cup di stadion. Sedangkan negara yang mengalami lonjakan kasus saat ini, terlihat masih rendah cakupan vaksinasinya," terang Bimo lagi.

Sementara itu, Peneliti Vaksin dan Chief Executive Officer (CEO) Lipotek Pty Ltd., Ines Atmosukarto mengungkapkan vaksinasi merupakan cara untuk menantang sistem kekebalan tubuh. Vaksinasi harus dilakukan dalam kondisi sehat melalui serangkaian pemeriksaan. "Prosedur vaksinasi di Indonesia sangat baik dibanding negara lain. Ada pemeriksaan tekanan darah dan sebagainya sebelum vaksinasi," ujar doktor bioteknologi yang menetap di Canberra Australia tersebut.

Perempuan peraih penghargaan UNESCO-L''''Oreal Women in Science ini optimis program vaksinasi nasional tercapai sesuai target. Meskipun capaian vaksinasi saat ini masih rendah dengan populasi penduduknya yang besar, tapi menurutnya Indonesia sangat baik sudah dapat mencapai target 1 juta vaksin sehari. Untuk itu, dia menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah dan masyarakat dalam program vaksinasi.

Sebelumnya, Survei Penerimaan Vaksin COVID-19 di Indonesia hasil kerja sama Kementerian Kesehatan dan Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dengan dukungan United Nations Children’s Fund (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) mendapatkan data sebanyak 65% masyarakat menerima vaksin. Sedangkan 35% masyarakat masih ragu dengan keamanan, efektivitas, serta kehalalan vaksin COVID-19. Sementara itu, survei serupa oleh Facebook dan University of Maryland menyebut sebanyak 80% masyarakat mau divaksin dan 20% menolak. Padahal dengan kondisi saat ini, butuh setidaknya 70% populasi agar terbentuk kekebalan kelompok.

Pemerintah terus berupaya menyediakan vaksin yang aman, berkhasiat, dan bemutu. Badan POM mengajak masyarakat menyukseskan program vaksinasi nasional. "Jangan ragu divaksin, semua informasi vaksin bisa dilihat di website Badan POM," tutup Togi. (HM-Fathan)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana