Bogor – Dalam upaya memberikan pengawalan intensif terhadap pengembangan vaksin dalam negeri, Kepala Badan POM beserta jajaran melakukan kunjungan ke PT. Biotis Pharmaceutical Indonesia (Biotis) untuk meninjau secara langsung progres penyiapan fasilitas fill and finish vaksin COVID-19, Jum’at (13/08). Fasilitas di Biotis merupakan fasilitas produksi vaksin COVID-19 kedua di Indonesia setelah PT. Biofarma. Biotis sendiri bekerja sama dengan Universitas Airlangga (UNAIR) dalam mengembangkan Vaksin Merah Putih berbasis inactivated virus.
Menerima kedatangan Badan POM, turut hadir dari tim Biotis untuk menjelaskan progress Vaksin Merah Putih, antara lain Chairman Biotis, Wang Ming Liang; Komisaris Utama Biotis, Osbal Saragi; Direktur Utama Biotis, FX Sudirman; dan Ketua Tim Peneliti Vaksin Merah Putih UNAIR, Prof. Dr. Fedik Abdul Rantam, drh.
Dalam pertemuan tersebut, ketua tim peneliti Vaksin Merah Putih UNAIR, Prof. Dr. Fedik Abdul Rantam mengungkapkan alasan mengapa pada akhirnya menggunakan platform inactivated virus dalam penelitiannya. “Berdasarkan perkembangan penelitian kami di UNAIR sebenarnya terdiri dari beberapa platform, mulai dari peptide, adenovirus, kemudian ada inactivated virus dengan model tetes hidung, tetapi tidak begitu baik perkembangannya. Akhirnya kami memilih platform inactivated virus karena teknologi ini well-known. Jadi sudah tahu apa strateginya dan kemudahan lainnya,” papar Fedik Abdul Rantam.
“Oleh karena itu, dengan semangat dan tentunya support dari Biotis ini, kami dapat berjalan cepat dengan selalu konsisten berusaha memenuhi persyaratan Badan POM,” tambahnya kembali.
Menanggapi hal ini, Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito menyatakan bahwa kolaborasi dalam pengembangan Vaksin Merah Putih ini tentunya akan mendapat pengawalan secara intensif oleh Badan POM. Termasuk pengawalan terhadap fasilitas produksi vaksin COVID-19 di Biotis, dan juga pada fasilitas produksi obat inovasi lainnya, termasuk produk bioteknologi. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan dan mewujudkan kapasitas serta kemandirian industri farmasi nasional untuk memperkuat pembangunan kesehatan dan ekonomi nasional.
“Badan POM akan selalu mendampingi dengan penuh ketegasan dan keterbukaan, serta memfasilitasi kebutuhan yang diperlukan dalam pengembangan vaksin merah putih ini.” Demikian ditekankan Penny K. Lukito saat berdiskusi tentang progress Vaksin Merah Putih.
Biotis juga menyatakan dukungan dan komitmennya dalam memenuhi persyaratan dari Badan POM, sebagaimana disampaikan oleh Osbal Saragi, Komisaris Utama Biotis. “Kami sangat commit untuk mendukung produksi vaksin nasional ini sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang ditetapkan oleh Badan POM. Jika pun ada kekurangan-kekurangan, kami akan kejar terus supaya penelitian dan produksi ini dapat berjalan dengan baik,” ujar Osbal Saragi.
Pembuatan Vaksin Merah Putih COVID-19 yang sedang dikembangkan oleh UNAIR dan Biotis ini akan mencakup serangkaian proses, mulai dari upstream-downstream untuk pembuatan drug substance (DS) hingga dilanjutkan dengan fill and finish Vaksin COVID-19. Pengawalan penyiapan fasilitas produksi fill and finish Vaksin COVID-19 di Biotis telah dilakukan sejak Desember 2020. Serangkaian kegiatan telah dilakukan meliputi kegiatan asistensi regulatori, diskusi dan konsultasi bersama Badan POM, serta pelatihan dalam rangka meningkatkan kompetensi personel agar dapat meningkatkan pemahaman persyaratan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).
“Saya percaya sekali kalo penelitian ini sudah berjalan dengan sangat valid. Kami tentunya bangga karena melalui penelitian ini akan diperoleh vaksin pertama dalam negeri,” ujar Penny K. Lukito menanggapi laporan kemajuan penelitian vaksin tersebut.
Kerja sama penelitian vaksin ini menjadi contoh kolaborasi penelitian yang dilakukan oleh Academic, Business, Government (ABG) atau dikenal dengan “triple-helix”. Untuk itu, kerja sama ini perlu terus dibangun untuk menghasilkan satu produk yang tentunya membanggakan Indonesia karena dengan ini, Indonesia akan masuk ke level yang lebih jauh lagi, yaitu sebagai produsen vaksin yang pengembangannya dari awal dilaksanakan di Indonesia.
“Terima kasih atas segala kerja samanya, kami akan terus menantikan progress, sehingga dengan percaya diri kami akan memberikan percepatan atau fasilitas lainnya yang bisa kami berikan pada tim vaksin merah putih UNAIR dan Biotis ini,” tutup Kepala Badan POM. (HM-Devi)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
