Jakarta – “Pandemi COVID-19 merupakan momentum kebangkitan kemandirian riset dan inovasi tanah air. Kami mendorong para peneliti untuk terus melakukan riset sesuai kebutuhan masyarakat karena hasil riset berperan penting dan strategis dalam membentuk keunggulan kompetitif dan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa,” ujar Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito dalam Diskusi Publik (Webinar) dengan tema “Semangat Membangun Negeri dalam Harmoni Keberagaman Indonesia” yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia bersama Harmoni Indonesia, Kamis (28/10).
Lebih lanjut, Penny K. Lukito mencontohkan inovasi yang dilakukan Badan POM dalam kemandirian obat dan vaksin, yaitu dengan menyusun kebijakan dan standar mengikuti dinamika dan perkembangan ilmu pengetahuan. “Sebagai contoh dalam menghadapi pandemi ini, Badan POM menyusun standar dan kriteria yang digunakan dalam memberikan persetujuan obat dan vaksin untuk mengatasi pandemi dengan modifikasi tahapan proses, sehingga dapat dilakukan secara paralel (adaptive trial design),” jelas Penny.
Dari sisi pengembangan obat herbal, industri jamu atau Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) turut berinovasi melalui riset dan pengembangan obat herbal untuk penanganan COVID-19. Saat ini, Badan POM mendampingi tim peneliti dan pelaku usaha pada 15 riset obat herbal untuk penanggulangan COVID-19, yaitu 4 riset pada tahap uji praklinik dan 11 riset pada tahap uji klinik. Selain riset obat herbal untuk COVID-19, Badan POM juga mengawal 68 penelitian obat herbal non-COVID-19, terdiri dari 41 penelitian pada tahap praklinik dan 27 lainnya telah memasuki uji klinik.
Di samping peningkatan kemandirian obat dan pengembangan potensi obat modern asli Indonesia, inovasi pangan Indonesia aman dan bermutu juga terus diupayakan. “Dalam hal ini, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pangan sebagai salah satu pemasok kebutuhan pangan masyarakat perlu difasilitasi untuk meningkatkan kapasitasnya agar dapat memenuhi standar keamanan dan mutu produk, serta berinovasi sebagai sektor ekonomi kreatif yang berdaya saing,” papar Penny lagi.
Penny K. Lukito juga menjabarkan bahwa sebagai bentuk keberpihakan terhadap pengembangan UMKM, Badan POM memberikan berbagai insentif seperti (1) percepatan perizinan, (2) penyederhanaan prosedur/persyaratan, dan (3) pendampingan intensif untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing produk UMKM. Badan POM memberikan bimbingan teknis dan desk yang proaktif terkait sertifikasi Cara Pembuatan produk yang Baik serta persyaratan registrasi untuk mendukung percepatan penerbitan nomor izin edar (NIE) bagi UMKM. Keringanan 50% atas tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) diberlakukan pada pendaftaran produk usaha mikro kecil (UMK) Pangan Olahan, Obat Tradisional, dan Kosmetik.
Webinar pada hari ini dibuka oleh Rektor Universitas Indonesia, Ari Kuncoro. Selain Kepala Badan POM, kegiatan ini dihadiri oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Zamali dan Ketua Harmoni Indonesia, Sidarto Danusubroto sebagai Keynote Speakers. Juga menghadirkan beberapa narasumber, yaitu Menteri Agama RI; Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN); Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi; serta Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 1.000 peserta yang berasal dari kalangan kementerian/lembaga, pelaku usaha, lembaga swadaya masyarakat, hingga diplomat dan atlet, serta masyarakat umum.
Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, dalam kesempatan ini Badan POM mendorong spirit partisipasi kaum muda untuk ambil bagian pada pengawalan keamanan serta mutu obat dan makanan sesuai peran masing-masing. “Sebagai upaya bersama melindungi kesehatan masyarakat dan bangkit dari pandemi ini, mari kita terus memberikan yang terbaik untuk membangun bangsa Indonesia semakin tangguh dan mandiri,” tutup Kepala Badan POM. (HM-Maulvi)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
