Kepala BPOM Kunjungi PT Equilab International: Dorong Standardisasi Laboratorium dan Penguatan Pengujian Klinis

24-01-2025 Kerjasama dan Humas Dilihat 1231 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Jakarta - Kepala BPOM Taruna Ikrar mengunjungi fasilitas laboratorium PT Equilab International, salah satu laboratorium pengujian independen di Indonesia, untuk meninjau kapasitas dan kontribusinya dalam mendukung pengawasan mutu obat dan makanan (24/1/2025). Kunjungan ini turut dihadiri oleh sejumlah pejabat BPOM, termasuk Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif Rita Mahyona; Kepala Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Susan Gracia Arpan; Direktur Registrasi Obat Ria Christine Siagian; serta Kepala Balai Pengujian Khusus Obat dan Makanan Dwi Damayanti.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama PT Equilab International Ronal Simanjuntak, memaparkan capaian dan peran Equilab sejak berdiri pada tahun 2003. “Kami telah berkembang menjadi laboratorium yang mampu menguji hingga 278 molekul, termasuk molekul imunologi dan penyakit menular, serta mendukung pengembangan obat inovatif. Layanan ini membantu industri dalam negeri memenuhi persyaratan ekspor sekaligus mendukung regulasi BPOM,” jelas Ronal.

Equilab juga telah mengantongi sertifikasi internasional dari WHO, United Kingdom Medicinal and Healthcare products Regulatory Agency (MHRA), dan Malaysia National Pharmaceutical Regulatory Agency (NPRA), menjadikannya laboratorium pengujian bioekuivalensi (BE) pertama di luar Malaysia yang diinspeksi pada 2013. "Kami berharap BPOM dapat mempertimbangkan mekanisme sertifikasi khusus untuk laboratorium uji BE di Indonesia guna menciptakan standar yang seragam," tambah Ronal.

Kepala BPOM Taruna Ikrar memberikan arahan terkait peluang dan tantangan di sektor farmasi. “Saat ini, 65% produk farmasi global adalah produk biologi dan ini akan terus berkembang. Equilab perlu meningkatkan kapasitas uji klinis di bidang ini. Selain itu, kami juga mendorong investasi industri farmasi untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku obat yang masih mencapai 94%,” ujar Taruna Ikrar.

Taruna juga menekankan pentingnya laboratorium, seperti Equilab, dalam mendukung riset dan pengembangan obat herbal Indonesia. “Kita memiliki lebih dari 17 ribu bahan alam untuk obat, tetapi baru 97 yang mencapai status obat herbal terstandar dan hanya 21 produk yang menjadi fitofarmaka. Diperlukan laboratorium uji klinik yang kompeten untuk mempercepat proses ini,” tambahnya.

Dalam peninjauan ke fasilitas laboratorium Equilab, Kepala BPOM menyoroti kesiapan Equilab untuk menghadapi audit WHO sebagai bagian dari upaya BPOM menjadi WHO Listed Authority (WLA). “Equilab memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu site yang dikunjungi tim WHO. Kami optimis kehadiran Equilab dapat memperkuat posisi Indonesia di mata dunia,” lanjut Taruna Ikrar.

Ronal Simanjuntak menyambut baik arahan ini dan menyatakan kesiapan Equilab mendukung BPOM. “Kami terus berkomitmen untuk mendukung penguatan pengawasan mutu obat dan makanan, termasuk berkontribusi dalam pengembangan kapasitas UMKM di sektor ini,” tutup Ronal.

Kunjungan kali ini menegaskan sinergi antara BPOM dan PT Equilab International dalam meningkatkan kualitas pengawasan dan pengujian klinis di Indonesia. Hal tersebut sejalan dengan visi BPOM untuk bergerak sebagai otoritas yang diakui secara internasional. (HM-Benny)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

 

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana