CAMBRIDGE - Kepala Badan POM, Penny K. Lukito kunjungi Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Cambridge, Amerika Serikat (AS) untuk bertemu dengan Prof. Harvey Lodish. Harvey Lodish dikenal luas sebagai pakar riset bioteknologi yang berhasil mengubah riset di bidang bioteknologi menjadi inovasi kesehatan yang dapat diakses masyarakat luas.
Melalui pertemuan pada Selasa (24/4), pihak Badan POM menjajaki kemungkinan kolaborasi dengan MIT dalam pengembangan industri bioteknologi farmasi di Indonesia yang saat ini tengah menjadi fokus utama Badan POM yang bertujuan untuk meningkatkan akses dan ketersediaan obat berteknologi maju lebih cepat ke masyarakat berdasarkan hasil riset dan produksi dalam negeri.
Menurut Kepala Badan POM, model pusat pengembangan riset dan industri bioteknologi di AS yang dipusatkan di kawasan Kendall Square ini dapat menjadi referensi untuk ditindaklanjuti dalam konteks pengembangan bioteknologi farmasi di Indonesia. Hal ini diperlukan untuk mendukung implementasi Inpres No.6 tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.
“Kami yakin kolaborasi yang baik dengan berbagai pihak akan berkontribusi positif dalam peningkatan aspek mutu dan khasiat obat serta daya saing industri farmasi di pasar global. Dalam jangka pendek, fokus kolaborasi Badan POM relevan untuk industri farmasi berbasis bioteknologi yang telah berkembang di Indonesia,” tegasnya.
Pengembangan industri farmasi berbasis teknologi ini diharapkan berdampak pada penghematan devisa dengan mengurangi konten impor untuk bahan baku obat dalam 2 – 5 tahun mendatang. Untuk tujuan jangka panjang, pengembangan riset dan industri seperti di Kendall Square harus segera dimulai.
Menurut Harvey, kunci sukses untuk mandiri dalam bidang teknologi adalah perlunya integrasi antara pusat riset, universitas, pelaku bisnis dan pemerintah. Untuk itu, Kepala Badan POM menyatakan bahwa Badan POM dapat berperan bersama-sama Kemenristekdikti, lembaga-lembaga penelitian, Kementerian Kesehatan, Bappenas, industri dalam menyusun perencanaan riset dan industrialisasi yang saling terintegrasi, terencana, dan terukur dengan baik. “Bila AS perlu 20 tahun untuk sampai kepada industri biofarmasi yang kuat berbasis riset, maka infrastruktur yang mirip di Indonesia perlu segera disiapkan”, tukasnya lagi.
“Menyadari tantangan yang begitu kompleks dan untuk melaksanakan kerangka kerja industri farmasi berbasis bioteknologi yang efektif, penting untuk dapat memiliki gambaran menyeluruh tentang semua faktor. Dengan begitu, kita dapat membuat daftar kebutuhan untuk membuat langkah-langkah perencanaan yang tepat. Tantangan, sekaligus harapan”, tutupnya. HM-Herma
Biro Humas dan Dukungan Strategis Pimpinan
