Bandung - Setelah mengunjungi Biofarma, Kamis (16/1/2025), Kepala BPOM Taruna Ikrar berkunjung dan berdiskusi dengan jajaran PT Cendo Pharmaceutical Industries (PT Cendo) di daerah Cisirung Bandung. Direktur PT Cendo Donny Hardiana yang menyambut kedatangan Kepala BPOM menyampaikan kunjungan BPOM ini menjadi motivasi untuk terus berkomitmen dalam mendukung perkembangan industri farmasi nasional yang lebih maju dan berdaya saing.
Dalam paparan sambutannya, Donny Hardiana menyampaikan komitmen PT Cendo untuk mendukung agenda peningkatan maturitas industri farmasi Indonesia melalui penerapan teknologi mutakhir, inovasi berkelanjutan, dan penguatan manajemen mutu. Selama 25 tahun terakhir, PT Cendo khusus mengembangkan inovasi penting, yaitu produk sediaan tetes mata tanpa pengawet yang aman digunakan hingga 3×24 jam setelah dibuka.
Sepakat dengan Kepala BPOM yang menekankan pentingnya kolaborasi pentaheliks, PT Cendo juga menjadikan kolaborasi dengan institusi akademis sebagai salah satu pilar penting dalam strategi inovasi. PT Cendo telah menjalin kerja sama dengan Universitas Padjajaran, Universitas Indonesia, dan perguruan tinggi lainnya melalui berbagai program seperti pemberian beasiswa, hilirisasi kayu secang hingga obat diabetes, serta pelaksanaan uji klinis untuk memastikan keandalan produk PT Cendo.
“Sinergi antara akademisi dan industri tidak hanya membuka peluang riset yang lebih mendalam, tetapi juga membantu mencetak generasi baru yang siap menghadapi tantangan global di bidang farmasi,” jelas Donny Hardiana. Pada kesempatan ini, Kepala BPOM meninjau langsung fasilitas steril dan non steril yang dimiliki PT Cendo.
Saat ditanya media mengenai kesannya setelah meninjau fasilitas PT Cendo, Kepala BPOM mengungkapkan bahwa ada 2 hal yang menonjol. “Saya mendapatkan poin inovasi PT Cendo berbeda dengan inovasi perusahaan lain. Hal ini dapat dilihat dari jumlah paten yang dimiliki,” tutur Taruna Ikrar. Yang kedua terkait teknologi, Kepala BPOM menyebut PT Cendo tidak kalah dengan perusahaan multinasional, kaitannya dengan spesialisasi PT Cendo, yaitu beragam produk untuk mata.
Kepala BPOM menyatakan dukungannya agar PT Cendo membuka diri untuk ekspor ke luar negeri. “Kalau pasar Indonesia sudah dikuasai, coba untuk ekspor. Cendo mempunyai potensi tidak hanya di lingkup nasional melainkan juga di internasional karena sangat spesifik sekali,” ujarnya.
Dari PT Cendo, Kepala BPOM bertolak menuju PT Sanbe Farma. Kunjungan diterima langsung oleh owner PT Sanbe Farma Jahja Santoso. “Kunjungan ini sangatlah berarti, mengingat kita dalam tujuan dan visi yang sama, yaitu dalam rangka meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia,” tutur Jahja Santoso menyambut kehadiran Kepala BPOM di Sanbe Farma.
Di usianya yang ke-50 tahun, Sanbe Farma bertekad untuk terus berinovasi mengembangkan produk-produk yang sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia, khususnya produk-produk yang kompleks dan sulit diproduksi secara lokal. Jahja Santoso mengungkapkan bahwa dalam mendukung program kemandirian obat oleh pemerintah, Sanbe Farma sudah mulai membuat pabrik mononoclonal antibody drug substance/mAbs DS (active pharmaceutical ingredients/API)/bahan baku. “Baik proses downstream maupun upstream yang mudah-mudahan mulai beroperasi di medio tahun 2026. Dengan bimbingan BPOM, maka diharapkan ini akan menjadi pabrik pembuat bahan baku monoclonal antibody yang pertama di Indonesia,’ tuturnya.
Monoclonal antibody merupakan salah satu inovasi terdepan dalam terapi medis modern. Teknologi ini telah memberikan dampak besar dalam pengobatan berbagai penyakit, seperti kanker, penyakit autoimun, dan infeksi berat. Dengan keberadaan fasilitas produksi ini di dalam negeri, tidak hanya mendukung percepatan akses masyarakat terhadap obat esensial dan terapi inovatif tetapi juga mengurangi ketergantungan impor produk bioteknologi.
Jahja Santoso menyatakan tidak tertarik melakukan joint venture dengan perusahaan internasional. Lebih baik membeli teknologi yang akan digunakan agar hasil produksinya nanti benar-benar menjadi produk asli Indonesia. Selain teknologi, PT Sanbe Farma juga fokus terhadap pengembangan kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia (SDM). Setidaknya terdapat 300 lebih apoteker yang mendukung keberhasilan PT Sanbe Farma.
BPOM menyambut baik inisiatif Sanbe Farma tersebut. “Berbicara tentang pengembangan industri farmasi, ada 3 hal yang penting dan diperlukan, yaitu SDM, teknologi berkelanjutan, dan inovasi. Indonesia memiliki ketiganya,” ujar Taruna Ikrar. Agar Indonesia dapat mengembangkan dan meningkatkan kemandirian di bidang farmasi, diperlukan kolaborasi antar pemangku kepentingan, terutama akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah.
Sebagai lembaga pemerintah, BPOM menegaskan komitmennya untuk memberikan pendampingan dan dukungan penuh, terutama dalam proses regulasi, evaluasi, dan sertifikasi produk. Terlebih saat ini, BPOM sedang berjuang memperoleh status World Health Organization (WHO) Listed Authority/WLA. Salah satu poin yang dinilai adalah sejauh mana industri mematuhi dan memenuhi ketentuan sesuai dengan regulasi yang ditetapkan BPOM.
Di Sanbe Farma, Kepala BPOM meninjau ruangan produksi monoclonal antibody drug substance, ruangan pengolahan air murni, laboratorium quality control (QC), ruangan produksi large volume parenteralLVP, ruangan produksi oncology sterile, dan ruangan produksi oncology non-sterile. Setelah kunjungan dan diskusi, Taruna Ikrar juga berkesempatan melakukan tanya jawab dengan rekan media.
Setelah kunjungan, baik PT Cendo maupun PT Sanbe Farma meyakini bimbingan dan dukungan BPOM mampu membantu kemampuan industri farmasi nasional untuk berkontribusi dalam penyediaan produk farmasi nasional. Hal ini sangat diperlukan dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia.
Sinergi antara BPOM dengan PT Cendo maupun PT Sanbe Farma sangat penting untuk menciptakan ekosistem yang sehat dan berkelanjutan. Sekaligus menjawab tantangan dan peluang di sektor farmasi dalam menghadapi kebutuhan global untuk produk-produk kesehatan mata, obat esensial dan inovasi yang aman, berkhasiat, dan bermutu. Hal ini juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan komitmen untuk memperkuat sektor kesehatan dan teknologi nasional demi kesejahteraan rakyat dan menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang mandiri dan berdaya saing tinggi. (HM-Nelly)
