Yogyakarta – BPOM menerima kunjungan dari Programma Uitzending Manager (PUM) dalam rangka pelaksanaan kerja sama antara BPOM dengan PUM. Dalam kunjungannya selama dua minggu di Indonesia, BPOM bersama PUM menyelenggarakan serangkaian kegiatan untuk peningkatan kapasitas dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kegiatan ini diikuti secara hybrid oleh lebih kurang 1000 peserta dari UMKM hingga Unit Pelaksana Teknis (UPT) BPOM.
Programma Uitzending Manager (PUM) adalah organisasi non-profit yang dibiayai oleh Pemerintah Belanda dan bekerja sama dengan pensiunan pengusaha dengan pengalaman lebih dari 30 tahun. PUM berkantor pusat di Den Haag, Belanda dan memiliki staf dan senior expert dalam berbagai bidang, serta memiliki 170 perwakilan lokal. Salah satunya adalah Local Representative Yogyakarta, Yuyun Yuniastuti.
Pada minggu pertama, dilaksanakan kegiatan Good Manufacturing Practices (GMP) Strategy for Processed Food Micro, Small, & Medium Enterprise (MSME) Workshop. Deputi Bidang Pangan Olahan BPOM, Rita Endang hadir secara langsung membuka kegiatan tersebut pada Senin (17/10/2022).
Dalam sambutannya, Rita Endang menuturkan terkait pentingnya pemenuhan GMP atau Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) dalam produksi pangan olahan. “Semua produksi pangan olahan harus memenuhi CPPOB. Mengingat adanya keterbatasan UMKM dalam hal Sumber Daya Manusia dan sarana prasarana produksi, UMKM harus terus didampingi BPOM agar mereka mampu memenuhi persyaratan GMP dan CPPOB,” ujar Rita Endang.
Pada kesempatan ini, BPOM berkesempatan mendatangkan PUM Expert bidang Pangan Olahan, Wim Husselman. Wim Husselman merupakan praktisi berpengalaman selama hampir 10 Tahun dalam Bidang Kepatuhan Nutrisi dan Keamanan Pangan di Abbott Laboratories. Dalam materinya, ia memberikan penjelasan tentang GMP sebagai sistem yang digunakan untuk memastikan bahwa produk diproduksi dan dikendalikan secara konsisten sesuai dengan standar kualitas.
Wim Husselman bersama 30 peserta dari perwakilan UPT BPOM juga mengunjungi beberapa UMKM pangan olahan. UMKM yang disambagi di antaranya adalah CV Karya Produksi Kamto sebagai produsen pangan beku, CV Buana Citra Sentosa dan PT Risquna Dewaksara sebagai produsen pangan kaleng, serta CV Sahabat Ternak sebagai produsen pangan bubuk.
Dalam kunjungan tersebut, Wim Husselman memberikan arahan mengenai proses dan kontrol dalam pengemasan pangan olahan, serta bagaimana menjaga nutrisi dalam pangan olahan tersebut. Selain itu, ia juga melakukan pembinaan secara langsung tentang kekurangan yang ada pada UMKM yang dikunjungi, antara lain terkait hygiene dan sanitasi yang perlu dipenuhi UMKM demi menjaga kualitas pangan olahan yang diproduksinya.
Pada hari terakhir kegiatan Workshop ini, dilakukan coaching clinic untuk diikuti oleh perwakilan UMKM. Pada kesempatan ini, UMKM yang hadir dapat berkonsultasi secara langsung kepada perwakilan UPT BPOM tentang cara mengurus perizinan dan standardisasi ekspor pangan olahan. Kegiatan ini juga dihadiri oleh narasumber dari Diaspora di Amerika Serikat, Jon Masli. Ia ikut menyampaikan informasi tentang bagaimana pengemasan pangan olahan yang berpotensi atau yang disukai oleh para Diaspora, sehingga dapat diekspor ke Amerika Serikat dan negara lain yang memiliki regulasi cukup ketat.
Dengan adanya program ini, diharapkan dapat menjadi media informasi bagi UMKM untuk dapat meningkatkan kemampuan dan teknologi dalam proses dan kontrol pangan olahan. Dengan begitu, UMKM pangan olahan dapat memenuhi persyaratan dan standar produksi pangan olahan yang dimiliki oleh berbagai negara agar dapat bersaing secara global. (HM-Rasyad)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
