Kerja Sama BPOM-TNI Dukung Ketahanan Kesehatan Nasional

27-07-2024 Kerjasama dan Humas Dilihat 2166 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Bandung – Dalam asistensi regulatori yang digelar pada Jumat pagi (26/7/2024) di Labiovak Pusat Kesehatan Angkatan Darat (Puskesad), Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPOM RI L Rizka Andalusia menegaskan pentingnya percepatan proses sertifikasi cara pembuatan obat yang baik (CPOB). Khususnya untuk Labiovak Puskesad yang saat ini tengah berproses menjadi salah satu sarana produksi vaksin.

“BPOM melalui Direktorat Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor mengawal proses sertifikasi CPOB Labiovak. Kita membutuhkan produksi (vaksin) ini untuk ketahanan kesehatan di Indonesia,” ucap Plt. Kepala BPOM.

Asistensi regulatori pada hari itu dihadiri oleh jajaran Kedeputian Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif (Kedeputian 1) BPOM. Turut hadir pula lintas sektor yang terlibat dalam kesiapan sarana produksi vaksin di Labiovak Puskesad, yaitu perwakilan dari Kementerian Pertahanan dan Tentara Nasional Indonesia, serta mitra industri farmasi seperti PT Bio Farma dan PT Etana Biotechnologies Indonesia.

Kepala Labiovak Puskesad Kolonel Ckm Riboed Soemargo, dalam laporannya menyampaikan apresiasi kepada BPOM atas dukungan yang diberikan dalam menghasilkan produk vaksin berkualitas tinggi. “Hingga saat ini, kami tetap diasistensi oleh BPOM. Kami harap sertifikasi CPOB dapat berproses dengan cepat dan tepat tanpa mengurangi standarnya,” ujar Kolonel Ckm Riboed.

Direktur Umum Puskesad Brigadir Jenderal TNI dr. Bidik Catur Prasetya menerangkan bahwa TNI Angkatan Darat memiliki 101 rumah sakit di Indonesia. Namun, 80 di antaranya masih pada level tipe C. Belum lagi dari matra lainnya yang juga memiliki sarana pelayanan kesehatan yang cukup besar. Ia berharap lembaga kesehatan militer dapat memproduksi obat-obatan dan vaksin agar dapat menjadi penyangga kebutuhan internalnya dan masyarakat Indonesia.

Direktur Jenderal Kekuatan Pertahanan (Kuathan) Marsma TNI dr. Mukti Arja Berlian, Sp.PD., Sp.KP. pada kesempatan tersebut mengemukakan bahwa perkuatan ketahanan kesehatan saat ini menjadi salah satu fokus Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. “Kita butuh banyak obat-obatan. Ini merupakan salah satu dari 3 fokus Menteri Pertahanan, yaitu ketahanan kesehatan, pendidikan, dan pangan. Kami berharap Labiovak ini bisa memproduksi vaksin, namun tetap mengikuti aturan yang ada,” imbuhnya.

Merespons pernyataan dr. Mukti Arja Berlian tersebut, Plt. Kepala BPOM kembali menegaskan bahwa BPOM akan terus mengawal proses sertifikasi ini untuk mendukung upaya perkuatan ketahanan kesehatan di Indonesia. “Jangan sampai ada warga TNI dan keluarganya menderita karena kelangkaan vaksin. Kami berkomitmen mendampingi Labiovak untuk mencapai sertifikasi CPOB tanpa mengurangi standar kualitasnya,” tegas Rizka.

Selanjutnya, Plt. Kepala BPOM berbagi cerita mengenai keberhasilan vaksinasi COVID-19 yang kala itu prosesnya juga tidak lepas dari peran penting TNI dalam mendorong program tersebut. Plt. Kepala BPOM juga menyatakan dukungannya agar setiap Lembaga Farmasi (LAFI) TNI dari seluruh matra, baik Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), maupun Angkatan Udara (AU) terus bertumbuh. “Kami berharap bahwa LAFI terus bertumbuh. Tidak hanya AD saja, namun AU dan AL. Kami akan mendukung dan membina industri kesehatan TNI,” tutupnya. (HM-Benny)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

 

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana