Jakarta – “Pangan yang aman bukan hanya menjadi kebutuhan dasar manusia, tetapi juga merupakan hal yang penting untuk mewujudkan hidup yang sehat dan berkualitas sehingga keamanan pangan ini menjadi urusan kita semua. Semua orang bertanggung jawab terhadap keamanan pangan.” Hal ini dinyatakan dengan tegas oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPOM RI L. Rizka Andalusia dalam dialog interaktif bersama Radio Republik Indonesia Programa 3 (RRI Pro 3), Jumat (7/6/2024).
Dialog Interaktif hasil kerja sama BPOM dengan RRI Pro 3 ini mengawali peringatan World Food Safety Day (WSFD) Tahun 2024. Mengangkat tema “Prepare for the Unexpected” atau “Kesiapsiagaan Untuk Kondisi yang Tidak Terduga”, dialog diselenggarakan dengan tujuan memberikan perhatian terhadap krisis-krisis tak terduga yang dapat mengancam keamanan pangan, seperti pemadaman listrik, bencana alam, wabah penyakit akibat makanan yang dibawa dari daerah/negara lain, atau situasi tak terduga lainnya.
Tema ini dibahas untuk menyikapi beberapa isu baru terkait keamanan pangan yang tengah menjadi perhatian dunia. Pertama yaitu kontaminan baru dari perubahan praktik pertanian, peternakan, dan perikanan, serta teknologi produksi. Kedua yaitu perpindahan kontaminan akibat meningkatnya perdagangan dan perjalanan internasional. Selanjutnya perubahan gaya hidup pada kelompok tertentu rentan terhadap penyakit bawaan makanan dan terakhir perubahan iklim yang mempengaruhi pertumbuhan dan penyebaran kontaminasi.
Dalam dialog tersebut, Plt. Kepala BPOM menjelaskan bahwa pangan yang tidak aman tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, melainkan juga dapat merugikan bidang ekonomi, perdagangan, dan sosial. Misalnya ada suatu produk yang tidak aman dan harus dimusnahkan, maka tentunya ini akan menimbulkan kerugian ekonomi. Selain juga mungkin berdampak pada reputasi keamanan pangan suatu negara.
“Jika ini tidak diatasi, maka akan dapat menghambat pembangunan sosial dan ekonomi,” ungkapnya.
Karena itu, perlu dipastikan adanya peran aktif pemangku kepentingan di sepanjang rantai pasokan pangan. Dengan begitu, masyarakat akan siap mengatasi ancaman tak terduga terhadap keamanan pangan dalam pasokan pangan global.
Dalam sesi tanya jawab, Ridwan seorang pendengar dari Kalimantan Timur bertanya tentang keracunan makanan. “Tadi disebutkan beberapa kejadian keracunan. Nah, itu berasal dari makanan apa, apakah makanan siap saji atau makanan yang baru dibuat?” tanyanya.
Merespons pertanyaan tersebut, Plt. Kepala BPOM memberikan penjelasan tentang beberapa faktor yang dapat menyebabkan keracunan pangan, antara lain pengolahan yang tidak benar, proses produksi yang tidak bersih, atau masa penyimpanan yang terlalu lama. Masyarakat kemudian diajak untuk selalu ingat terhadap 5 kunci keamanan pangan, yaitu beli pangan yang aman, simpan pangan dengan aman, siapkan pangan dengan seksama, sajikan pangan yang aman, dan jaga kebersihan selalu.
Apabila masyarakat mengetahui atau menduga adanya keracunan pangan, hal yang dapat dilakukan adalah melaporkan ke pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), rumah sakit, atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat lainnya. Aduan masyarakat ini akan menjadi laporan kewaspadaan keracunan pangan dan dasar dilakukannya penyelidikan epidemiologi lebih lanjut oleh puskesmas dan dinas kesehatan.
Sebelum dialog berakhir, Plt, Kepala BPOM kembali mengajak semua pihak yang berkepentingan untuk menyadari pentingnya keamanan pangan. Setiap orang dapat menjalankan perannya dalam menjaga dan menjamin keamanan pangan yang diproduksi dan dikonsumsinya. “Karena keamanan pangan adalah tanggung jawab bersama,” tutupnya. (HM-Nelly)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
