Badan POM berkomitmen menjadi institusi pengawas obat dan makanan berbasis ilmiah. Peningkatan pengetahuan personil Badan POM tentang isu terkini di bidang obat dan makanan menjadi penting untuk memperkuat kapasitas ilmiah institusi. Sejalan dengan hal tersebut, Prof Seamus Fanning, pakar biologi molekuler internasional yang juga Director of WHO Collaborating Center for Research, Reference and Training on Cronobacter-University College Dublin (UCD) Center for Food Safety, dan Prof Francis Butler, Head of School of Biosystem Engineering UCD berbagi ilmu bagi staf Badan POM sebagai rangkaian kegiatan kunjungannya di Badan POM. Kedua pakar ini menyampaikan kuliah tentang Update on Global Food Safety Issues of Concern pada tanggal 15 Januari 2014 yang dilanjutkan dengan kuliah Quantitative Risk Assessment dan An update on Cronobacter: risk management in the infant formula production environment pada tanggal 17 Januari 2014. Kuliah dihadiri oleh sekitar 30 staf dari lima Direktorat di Kedeputian Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Pusat Informasi Obat dan Makanan (PIOM), Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPOMN), Pusat Riset Obat dan Makanan (PROM), dan Biro Umum.
Prof Fanning menyampaikan dua isu yang menjadi tantangan keamanan pangan global yaitu resistensi antibiotik, yang banyak digunakan pada ternak penghasil pangan asal hewan, dan surveilan dengan metode molekuler. Metode molekuler mempermudah penelusuran penyebab suatu kejadian luar biasa (keracunan atau penyakit akibat pangan) karena dapat menambah pemahaman kita tentang adaptasi bakteri di sepanjang rantai pangan serta keterkaitannya dengan kemampuan bertahan di lingkungan dan patogenisitasnya. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi resistensi antibiotika pada hewan dan rantai pangan di antaranya penerapan higiene, biosekuritas, dan vaksinasi; akses sistem surveilan pada rantai pangan yang lebih baik; meningkatkan pendidikan dan pelatihan; dan memperkuat kolaborasi internasional. Selain kedua isu tersebut, Prof Fanning juga menyampaikan kuliah keduanya tentang perkembangan terkini Cronobacter pada susu formula. Tidak semua spesies Cronobacter sama namun sebagian strain dapat beradaptasi pada lingkungan produksi susu formula. Genome sequencing menjadi salah satu metode yang dapat memberikan informasi lebih detil sehingga menambah pemahaman kita tentang bakteri ini.
Pengetahuan peserta kuliah semakin diperkaya oleh Prof Butler yang menyampaikan materi kajian risiko keamanan pangan (kuantitatif) dan food authenticity (‘keaslian’ pangan). Kajian risiko dikenal sebagai landasan ilmiah dalam proses analisis risiko. Secara khusus, kajian risiko kuantitatif memerlukan proses kuantifikasi pada kajian paparan (berapa banyak bahaya mikrobiologi maupun kimia yang tertelan), database konsumsi (untuk perkiraan porsi saji yang lebih baik), dan karakterisasi bahaya secara kuantitatif pada pangan. Berbagai sumber informasi dan perangkat, tersedia gratis maupun berbayar, dapat dimanfaatkan untuk mempermudah pemahaman dalam kajian risiko seperti situs (www.combase.cc, www.foodrisk.org), FAO/WHO risk assessment model for Cronobacter sakazakii in powdered infant formula, predictive modelling, @risk, the USDA Integrated Pathogen Modelling Program (PMP), dsb. Selain ini, Prof Butler juga berbagi cerita tentang kejadian penggunaan daging kuda secara sengaja dalam burger yang seharusnya berisi daging sapi di Eropa. Kejadian ini menyadarkan kita semua akan pentingnya food integrity- integritas di sepanjang rantai pangan, khususnya food authenticity, di mana bahan mentah maupun bahan tambahan yang sesuai harus digunakan saat proses produksi sehingga diperoleh spesifikasi produk akhir yang diinginkan. Kuliah umum oleh kedua pakar keamanan pangan bertaraf internasional semacam ini sangat bermanfaat untuk menambah wawasan staf Badan POM dan diharapkan kegiatan serupa dapat dilaksanakan kembali di masa mendatang dengan materi lain yang lebih beragam.
Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan
