Tantangan keamanan pangan terus meningkat. World Health Organisation (WHO) pada tahun 2015, melalui WHO Estimates of The Global Burden of Foodborne Diseases,menunjukkan bahwa di Asia Tenggara setiap tahun lebih dari 150 juta orang sakit, dan lebih dari 175.000 orang di antaranya meninggal, karena penyakit akibat pangan. Kematian terbesar disebabkan oleh kasus diare karena norovirus, salmonella non-typhoid, serta E coli patogen.
Dari segi perdagangan, penolakan ekspor pangan Indonesia masih terus terjadi, disebabkan karena pangan yang tidak memenuhi persyaratan keamanan. Melalui INRASFF, selama tahun 2015 telah diterima notifikasi penolakan ekspor sebanyak 38 notifikasi, karena cemaran mikrobiologi seperti Salmonella maupun karena cemaran kimia seperti bahan tambahan yang melebihi batas keamanan pangan.
Untuk itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) menginisiasi Pusat Kewaspadaan dan Respon Obat dan Makanan, untuk mengkoordinasikan kegiatan kewaspadaan dan respon obat dan makanan yang dilakukan Badan POM dan institusi lintas sektor terkait lainnya, termasuk Pemerintah Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota. Program ini bertujuan untuk meningkatkan perlindungan konsumen dari obat dan makanan yang berisiko terhadap kesehatan. Selain itu, diharapkan agar program ini dapat mendukung upaya peningkatan daya saing produk obat dan makanan di kancah perdagangan internasional. Hal ini disampaikan oleh Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Drs Suratmono, MP, dalam acara pembukaaan Lokakarya JKPN Pusat Kewaspadaan dan Respon Keamanan Pangan.
Lokakarya ini diselenggarakan oleh Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan di Jakarta pada hari Jumat tanggal, 18 Desember 2015. Acara diikuti sebanyak 80 orang peserta yang berasal dari Kementerian dan Lembaga terkait, seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Hadir pula pakar dari beberapa Universitas yaitu Prof. Dr. Siswanto Agus, Ketua Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UGM, Prof. Dr. Endang Sutriswati Rahayu Guru Besar Mikrobiologi Pangan UGM, dr. Citra Indriani, MPh dari Field Epidemiology Training Program (FETP) Universitas Gajah Mada, Dr. Ir. Martini M.Kes, dari Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Winiati Pudji Rahayu, Guru Besar Mikrobiologi IPB, dan Dr. Diana Waturangi Dekan Fakultas Teknobiologi Universitas Atmajaya Jakarta.
Workshop dibagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama, Direktur Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan menyampaikan konsep Pusat Kewaspadaan dan Respon Keamanan Pangan. Sesi selanjutnya diisi dengan diskusi kelompok untuk membahas rencana kegiatan tahun 2016 untuk program pusat kewaspadaan yang terdiri dari 3 topik yaitu jejaring lintas sektor, surveilan KLB keracunan pangan, dan kajian keamanan pangan.
Rekomendasi yang diperoleh dalam acara ini menjadi masukan yang positif bagi pelaksanaan program kewaspadaan dan respon keamanan pangan.
Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan
Efriza., MP
