Lokakarya Pelayanan Publik: Sinergi BPOM RI - Pelaku Usaha Wujudkan Obat dan Makanan Aman

06-11-2018 Kerjasama dan Humas Dilihat 2880 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

Semarang – Melanjutkan rangkaian lokakarya efektivitas pengawasan obat dan makanan di Bandung sepekan lalu, BPOM RI kembali mengadakan kegiatan serupa di Semarang (06/11). Kepala BPOM RI, Penny K Lukito membuka secara resmi lokakarya yang dihadiri oleh ratusan pelaku usaha bidang obat dan makanan, serta lintas sektor terkait di wilayah Jawa Tengah. 

Dalam sambutan pembukanya, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sri Puryono Karto Soedarmo mengucapkan sugeng rawuh di Semarang kepada seluruh peserta, dan berharap bisa menikmati suasana dan kuliner kota Semarang. Beliau menyambut baik pelaksanaan lokakarya sebagai upaya menyosialisasikan dan memberikan inovasi terobosan BPOM RI sekaligus menyerap masukan dari pelaku usaha untuk membangun sistem pelayan publik yang lebih baik.

Pihaknya sangat mengapresiasi BPOM RI cepat tanggap sehingga memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat dan pelaku usaha. Menurutnya peredaran obat dan makanan ilegal/palsu, kedaluwarsa, dan mengandung bahan kimia berbahaya efeknya dapat mengganggu kesehatan, bahkan jika digunakan jangka panjang dapat menyebabkan kematian. “Ini harus menjadi perhatian pelaku usaha dan pihak yang berkepentingan sesuai tema lokakarya ini. Maka mari bersinergi menertibkan diri bersama-sama,’’ imbaunya.

Untuk melindungi masyarakat dari peredaran obat dan makanan ilegal, beliau berharap semua pihak harus bergerak melakukan antisipasi dan pencegahan. Pelaku usaha dan masyarakat harus berperan aktif memberikan laporan dan informasi kepada pemerintah sebagai langkah strategis untuk menekan peredaran obat dan makanan ilegal. Selain itu pengembangan UMKM harus terus didorong dan penertiban terhadap keamanan produk harus diawasi secara ketat. “Upaya terintegrasi dari berbagai pihak terkait juga harus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat dalam memilih produk obat dan makanan bermutu,” lanjutnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Sido Muncul, Irwan Hidayat mengaku sempat kesal diaudit BPOM RI sebanyak tujuh kali setahun. Tapi kami menyadari semakin diaudit semakin baik, karena kami harus memperbaiki diri. Dengan begitu akhirnya kepercayaan masyarakat tumbuh. “Jadi kunci kesuksesan itu mengikuti peraturan pemerintah. Kalo kita ikuti aturan dengan niat baik dan tulus, saya rasa aturan pemerintah standar internasional, melindungi konsumen, dan toleran terhadap pelaku usaha,” ucapnya. 

Irwan sangat mengapresiasi BPOM RI karena selalu melibatkan pengusaha dalam pembuatan peraturan, dan menerima masukan dari pelaku usaha. Menurutnya saat ini BPOM RI lebih sering ke daerah dan ada terobosan salah satunya dengan adanya Deputi Bidang Penindakan. “Saya melihat pelayanan jemput bola ke daerah, saya ikut senang melihat pelayanan usaha kecil menengah membantu, kami pun bisa ikut mendaftar,” jelasnya.

Kepala BPOM RI, Penny K Lukito menyampaikan komitmennya untuk mendukung penguatan pelayanan publik tanpa menurunkan pemenuhan terhadap standar keamanan, khasiat, dan mutu obat dan makanan. Peningkatkan pelayanan publik dilakukan melalui percepatan registrasi/pendaftaran obat dan makanan dan penguatan pengawasan post market. “Rebranding BPOM, khususnya pelayanan publik adalah prioritas,” tegasnya.

Berbagai penghargaan diraih BPOM diantaranya dari WHO (NRA benchmarking) sebagai lembaga pengawas obat yang fungsional sesuai standar internasional. BPOM RI juga memperoleh penghargaan unit penyelenggara pelayanan publik terbaik dan penghargaan pembangunan zona integritas menuju wilayah bebas korupsi dari Kementerian PAN & RB, Kinerja Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dari Polri, serta meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dalam 4 tahun terakhir dari Badan Pemeriksa Keuangan.

Dalam kesempatan ini, BPOM RI juga menyerahkan Nomor Izin Edar (NIE) kepada UMKM Pangan kepada delapan pelaku usaha yaitu PT. Kurniawan Sejati Sejahtera, Dua Tani Barokah, Rumah Bandeng Juwana, UD. Dua Putra Makmur, UD. Sinar Garam Abadi, UD. Dinar Laut, KTT Sido Makmur, dan Marga Mulia. Penyerahan NIE juga dilakukan kepada UMKM Obat Tradisional yaitu PT. Brigit Biofarmaka Teknologi, CV. Super Prima, CV. Naturafit Thibbunabawi, dan UD. Wenas.

Selain itu juga terdapat penyerahan Sertifikat Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) kepada PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Tbk, PT. Capung Indah Abadi, dan PT. Dragon Prima Farma. Serta penyerahan Sertifikat Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB) kepada PT. Bukit Perak dan PT. Unza Vitalis. 

Peserta juga mengikuti sesi talkshow yang diisi oleh narasumber yaitu Auditor Utama Keuangan Negara VI BPK RI, Dori Santosa; Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplumen Kesehatan dan Kosmetik BPOM, Mayagustina Andarini; Plt. Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan BPOM, Tetty H Sihombing; dan Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Agus Tri Cahyono. “Kami juga menyediakan desk konsultasi pendaftaran serta menggelar pameran untuk mempromosikan produk UMKM sebagai wujud keberpihakan kepada UMKM,’’ tutup Kepala BPOM RI. HM-Fathan

Biro Hubungan Masyarakat dan Dukungan Strategis Pimpinan

 

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana