Manfaat Puasa dari Perspektif Kesehatan dan Neurosains, Menurut Kepala BPOM

14-03-2025 Kerjasama dan Humas Dilihat 518 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Makassar - Kepala BPOM Taruna Ikrar memberikan ceramah inspiratif di hadapan jamaah Salat Isya dan Salat Tarawih di Masjid Al Markaz Al Islami, Makassar pada Kamis (13/3/2025). Pada ceramah yang juga diikuti oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan Prof. Nadjamuddin Abd. Safa, Kepala BPOM mengulas mengenai mukjizat puasa bagi kesehatan dan dari perspektif neurosains. Hal ini sejalan dengan komitmen BPOM dalam mengedukasi masyarakat mengenai pola konsumsi obat dan makanan sehat selama Ramadan.

Dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 183, disebutkan bahwa berpuasa diwajibkan bagi umat manusia bagi orang-orang yang beriman. Taruna Ikrar menyoroti bahwa di balik kewajiban puasa yang diperintahkan ayat ini, terdapat hikmah di dalamnya dengan hasil akhirnya adalah peningkatan ketakwaan.

Hikmah pertama dari segi kesehatan, Taruna Ikrar menegaskan bahwa membuat tubuh menjadi lebih muda dan terhindar dari penyakit-penyakit yang membahayakan kesehatan. “Banyak ahli gizi yang menyarankan kita berpuasa, walaupun semangatnya hanya untuk menjadikan tubuh lebih sehat. Ini dikarenakan pada saat berpuasa selama lebih kurang 16 jam, ada 3 proses fisiologis yang terjadi di dalam tubuh kita,” tutur Taruna Ikrar. 

Proses pertama adakah glikolisis atau pemecahan glukosa. “Pada 8 jam pertama [puasa], tubuh kita akan menggunakan sumber asupan makan sahur untuk dipecah menjadi sari-sari makanan yang akan diserap tubuh, menjadi sumber energi. Pada 8 jam berikutnya, karena tidak ada lagi asupan makanan ke dalam tubuh, maka tubuh akan menggunakan “deposit” lemak di dalam tubuh, yang sudah tersimpan sebagai hasil pola makan kita selama 11 bulan sebelumnya, untuk menjadi sumber energi. Proses ini bisa membersihkan “simpanan” yang dapat menjadi sumber penyakit dari pembuluh darah kita,” jelas Taruna Ikrar.

Proses berikutnya yang terjadi selama berpuasa adalah terjadinya autofagi, yaitu proses alami tubuh untuk membuang sel-sel tubuh yang rusak dan tidak berfungsi. Proses tersebut kemudian dilanjutkan dengan penggantian dengan sel-sel tubuh yang baru melalui proses regenerasi. Rangkaian mekanisme fisiologis tersebut yang kemudian menjadikan tubuh lebih sehat dan terhindar dari penyakit metabolisme, seperti kelebihan berat badan (overweight); penyakit degeneratif, seperti diabetes melitus; penyakit koroner; kanker; atau lainnya yang dapat mengakibatkan kematian.

Di samping itu, berpuasa juga memberikan dampak positif dari perspektif neurosains. “Puasa dapat membantu mencegah penyakit neurodegeneratif, seperti Alzheimer dan Parkinson. Selain itu, puasa juga berperan dalam menyeimbangkan hormon, meningkatkan daya ingat, dan mengendalikan emosi, yang pada akhirnya memperkuat ketakwaan seseorang,” urainya.

Dampak positif tersebut berkaitan dengan 3 proses yang terjadi pada sistem koneksi saraf di saat berpuasa, yaitu proses neuroplastisitas, neurogenesis, dan neurokompensasi. “Neurosinaptik manusia itu bisa berubah strukturnya dalam waktu setidaknya 4 minggu (1 bulan). Jadi, kalau sebelum Ramadan pikiran kita seringkali dipenuhi dengan pikiran yang negatif, maka setelah berpuasa 1 bulan dengan diisi kegiatan ibadah dan hal-hal positif lainnya, itu [struktur neurosinaptik] bisa berubah. Kita jadi manusia yang berpikiran positif, optimis, lebih semangat,” lanjut Taruna Ikrar.

Dari penjelasannya tersebut, Taruna Ikrar menyimpulkan bahwa efek positif berpuasa adalah dapat menjadikan diri yang lebih sehat dengan dikeluarkannya hal-hal buruk dari dalam tubuh yang berpotensi menjadi penyakit. Selain itu, juga memberikan kesehatan jiwa dengan menjadikan otak lebih fresh, lebih muda, dan meningkatkan kemampuan untuk lebih fokus. Di samping juga memperoleh reward pahala dari Allah SWT sebagai hamba Allah yang beriman dan bertakwa dengan ganjaran tertinggi, yaitu surga-Nya.

Mengakhiri ceramahnya, Taruna Ikrar mengajak jamaah yang hadir pada kesempatan tersebut untuk lebih semangat menjalankan ibadah puasa hingga akhir untuk memperoleh manfaat dan keberkahan dari pelaksanaan ibadah puasa ini. Di samping juga terus memenuhi kebutuhan gizi tubuh dengan konsumsi makanan bergizi seimbang, perhatikan kandungan garam, gula, dan lemak pada pangan yang kita konsumsi. Kemudian, konsumsi obat jika diperlukan. Semua itu pilihlah yang memenuhi standar keamanan, manfaat, dan mutu.

“Kalau mau jadi manusia yang sehat, berbahagia, punya pemikiran yang bagus, maka berpuasalah. Semoga kita menjadi hamba-hamba yang bertakwa dan nantinya kembali menjadi manusia yang fitri di akhir bulan Ramadan,” tutup Taruna Ikrar. (HM-Herma)

 

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

 

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana