Meet Market NUANSA Bantu UMK Penuhi Standar CPOTB

09-10-2024 Umum Dilihat 750 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Jakarta – BPOM menginisiasi kegiatan Meet Market “NUANSA” (Naik Kelas UMKM OT di Indonesia) yang diselenggarakan selama 2 hari pada Senin–Selasa, 7–8 Oktober 2024. Kegiatan ini diselenggarakan untuk membantu usaha mikro dan kecil (UMK) obat bahan alam (OBA) agar memenuhi standar cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB). Kegiatan yang digelar di Jakarta ini diikuti oleh 31 pelaku usaha UMK obat tradisional yang telah memiliki izin edar maupun sertifkat CPOTB bertahap.

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik Mohamad Kashuri menjelaskan salah satu aspek teknis yang sangat penting dalam CPOTB adalah sistem bangunan dan fasilitas. Di dalam ketentuan mengenai sistem bangunan dan fasilitas tersebut mencakup juga aturan penggunaan Sistem Tata Udara (STU).

“Kualitas udara yang terjaga dengan baik adalah kunci untuk memastikan bahwa proses produksi berlangsung dalam kondisi yang optimal, mengurangi risiko kontaminasi, dan menjaga stabilitas bahan aktif dalam produk obat tradisional,” lanjut Kashuri.

Meet Market “NUANSA”  diharapkan dapat menjadi platform UMK dapat bertemu langsung dengan penyedia layanan STU yang andal dan dapat menemukan solusi yang tepat, efisien, dan sesuai dengan kapasitas masing-masing. “Kami berharap diskusi yang terjadi hari ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga mencakup solusi inovatif yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan UMK,” imbuh Kashuri lagi.

Pada kegiatan hari pertama, kegiatan diisi dengan paparan mengenai CPOTB dan sistem tata udara bagi para UMK. Narasumber yang memberikan materi, yaitu Direktur Pengawasan Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan Rustyawati, Tim Ahli CPOTB Widiastuti Adiputra, sharing session oleh Kepala Balai POM di Bogor Jeffeta Pradeko Putra, perwakilan Gabungan Pengusaha Jamu M. Fajaruddin, dan heating, ventilation, dan air-conditioning (HVAC) engineer Daniel Alam Subiru.

Dalam paparannya, Rustyawati menyampaikan obat bahan alam mempunyai risiko kontaminasi dalam produksi. Salah satu sumber kontaminasi adalah melalui udara dan dapat menyebabkan cross contamination dari bahan/produk yang berbeda dan cemaran mikrobiologi. Sementara Widiastuti menekankan bahwa desain fasilitas, HVAC, dan peralatan adalah langkah awal dan penting dalam mencegah kontaminasi dan kontaminasi silang.

Jeffeta memaparkan bahwa sistem HVAC ke fasilitas laboratorium/produksi memiliki dampak langsung kepada mutu produk. Hal-hal tersebut dipengaruhi beberapa faktor, antara lain suhu, kelembapan, tekanan, aliran udara, dan kebersihan udara (partikel dan mikroba). Sementara M. Fajaruddin mengingatkan 3 hal penting dalam menerapkan HVAC, yaitu perencanaan (analisis, kesiapan, dan kualifikasi vendor), penerapan (tahapan penerapan dengan berbagai tantangan dan peluang), dan perawatan (merawat keseluruh sistem HVAC dari kabel maupun filter).

Sedangkan Daniel Alam Subiru memberikan solusi desain HVAC yang cost-effective untuk desain baru maupun terhadap instalasi yang ditemukan tidak memenuhi persyaratan. Menurutnya, desain HVAC yang efektif dibuat dengan memastikan layout, kajian risiko produk, parameter, dan merek material beserta alternatifnya.

Pada hari kedua, para pelaku usaha UMK OBA dipertemukan dengan para vendor HVAC. Harapannya dengan penyediaan STU yang memadai, dapat menjadi salah satu upaya yang mendorong UMK untuk naik kelas dalam implementasi CPOTB. (HM-Maulvi)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana