Melalui Asistensi Regulatori, Badan POM Tingkatkan Pelayanan Publik serta Percepatan Akses Obat Bermutu dan Aman

14-02-2020 Kerjasama dan Humas Dilihat 2571 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

Bandung - Sebagai upaya peningkatan kualitas pelayanan publik dan kemudahan berusaha (ease of doing business) di Indonesia, Badan POM selaku regulator Obat dan Makanan terus melakukan pendampingan kepada para pelaku usaha. Hari ini, Jumat (14/02) Badan POM menyelenggarakan Asistensi Regulatori kepada para pelaku usaha di Bandung dengan mengangkat tema “Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik dalam Distribusi dan Iklan Mempercepat Akses Obat Bermutu dan Aman serta Membangun Masyarakat Cerdas Melalui Iklan Obat Edukatif”.

Acara dibuka dan diresmikan oleh Direktur Standardisasi Obat dan Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zar Adiktif (NAPPZA), Togi J. Hutadjulu. Turut hadir dalam acara ini Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Ketua Umum Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi, Executive Director International Pharmaceutical Manufacturers (IPMG), beserta tamu undangan lainnya.

Dalam paparannya, Togi J. Hutadjulu menjelaskan bahwa Badan POM telah melakukan berbagai upaya simplifikasi dan deregulasi, salah satunya melalui Sertifikasi Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB). “Saat ini di Indonesia terdapat 2.081 Pedagang Besar Farmasi (PBF), dimana 67,3% nya tersertifikasi CDOB," ujarnya. Proses pengajuan CDOB Badan POM telah terintegrasi Online Single Submission di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan SIMPONI di Kementerian Keuangan.

Selain itu, Togi J. Hutadjulu juga memaparkan bahwa Badan POM telah mengimplementasikan Tanda Tangan Elektronik (TTE), sehingga mampu mempercepat penerbitan sertifikat CDOB dari 79 Hari Kerja (HK) menjadi 49 HK. Upaya ini dilakukan agar memudahkan PBF yang akan mengajukan sertifikasi CDOB.

"Selamat mengikuti kegiatan Asistensi Regulatori, semoga bermanfaat untuk mempercepat akses obat bermutu, serta membangun masyarakat cerdas melalui iklan obat edukatif." tukas Togi J. Hutadjulu

Salah satu pelaku usaha dari Bekasi yang mengikuti acara ini menyampaikan pengalamannya. "Saya sangat terbantu dalam pengurusan CDOB di Badan POM, juga dengan adanya desk Corrective and Preventive Action (CAPA), saya mendapatkan solusi terbaik dari Badan POM, dan penerbitan sertifikat-nya pun cepat,” ujarnya. “Harapannya, semoga Badan POM terus mengadakan pelatihan serupa agar membantu mereka tersertifikasi dengan cepat,” tambahnya.

Hal yang senada juga diamini oleh salah satu perwakilan PBF dari Bogor. "Dengan adaya pelatihan mengenai CDOB dan desk CAPA, kami merasa terbantu dalam mengidentifikasi kekurangan kami, dan memotivasi kami agar PBF menjadi lebih baik," tegasnya. Ia juga berharap agar diadakan pertemuan rutin membahas seputar PBF agar industri farmasi di Indonesia menjadi lebih baik. (HM-Rizky)

Biro Hubungan Masyarakat dan Hubungan Strategis Pimpinan

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana