Mitigasi dan Regulasi Novel Food atau Pangan Baru di Indonesia

30-07-2024 Kerjasama dan Humas Dilihat 1065 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Jakarta – BPOM melalui unit Direktorat Cegah Tangkal melakukan initial meeting dengan Good Meat Asia sebagai produsen cultivated chicken, Jumat (29/7/2024). Pertemuan tersebut dilakukan sebagai respons proaktif untuk memahami lebih dalam terkait novel foods atau pangan baru, khususnya pangan berbasis sel. 

Pertemuan dengan Good Meat Asia berlangsung secara daring dan dibuka oleh Deputi Bidang Penindakan (Deputi 4) Rizkal dan dihadiri oleh Founding Product Development Lead of Good Meat Asia Jeff Yew. Juga dihadiri oleh Direktur Registrasi Pangan Olahan Sintia Ramadhani, Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Pengawasan Peredaran Pangan Olahan Didik Joko Pursito, serta perwakilan dari Direktorat Cegah Tangkal, Direktorat Pengawasan Produksi Pangan Olahan, dan Direktorat Standardisasi Pangan Olahan.

“Pertemuan ini bertujuan untuk memahami lebih lanjut mengenai pangan berbasis sel di Singapura. Kami juga tertarik untuk mengetahui teknologi pangan, regulatory framework, persepsi publik, pengaruh terhadap ekonomi dan lingkungan, serta kemungkinan untuk mendapatkan sertifikat halal untuk produk pangan berbasis sel,” ujar Rizkal dalam sambutannya.

Pangan baru atau yang dikenal dengan istilah “novel foods” merupakan solusi alternatif dan berkelanjutan yang dapat memenuhi kebutuhan konsumsi pangan di dunia. Meningkatnya populasi manusia yang diproyeksikan mencapai 9,7 miliar pada tahun 2050 serta adanya dampak perubahan iklim, menjadi pendorong untuk mengubah sistem pangan ke arah yang lebih berkelanjutan secara global. 

Produksi pangan berbasis sel/cell-based food di dunia menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dengan nilai pasar global mencapai USD2,469 juta pada tahun 2022 dan proyeksi pertumbuhan tahunan sebesar 51,6% hingga tahun 2030. Beberapa negara seperti Singapura, Amerika Serikat, dan Uni Eropa telah mengadopsi regulasi yang berbeda-beda untuk mendukung pengembangan pangan berbasis sel.

Pertemuan ini juga membahas beberapa aspek, antara lain proses produksi yang melibatkan pendekatan pengawasan dengan perspektif baru (teknologi bioreaktor skala komersial), kesesuaian standardisasi dan nomenklatur produk, kemampuan traceability dan identifikasi titik kritis (critical control point/CCP). Utamanya fokus pada hal yang terkait dengan keamanan pangan serta menyangkut status halal di negara asal. 

“Hampir 90% dari kebutuhan pangan dan komoditas di Singapura berasal dari impor karena negara kami yang yang kecil. Tahun 2030, Singapura berinisiatif untuk menerapkan green plan, yaitu 30% dari komoditas dapat dikembangkan dan dipanen di dalam negeri sehingga Singapura tidak bergantungan pada bahan-bahan impor,” ungkap Jeff Yew.

Ke depannya, untuk mendapatkan gambaran yang utuh dan lebih komprehensif mengenai aspek regulatory science, BPOM akan terus berkolaborasi dalam benchmarking dengan berbagai pemangku kepentingan yang relevan. Harapannya, adopsi regulasi yang tepat sasaran yang didukung oleh komunikasi risiko optimal akan mendorong iklim inovasi pangan olahan berkelanjutan di Indonesia serta memitigasi lebih awal potensi risiko terjadinya pelanggaran hukum mengenai novel food.

“Di akhir diskusi ini, BPOM berharap tujuan pertemuan ini tercapai, yaitu menetapkan strategi definitif untuk regulatory framework dalam pangan berbasis sel. Kolaborasi di antara Indonesia dan Singapura sangat penting untuk secara efektif mengatur dan mendorong pengembangan pangan berbasis sel di Indonesia. Selanjutnya, perlu adanya langkah-langkah berkelanjutan untuk BPOM, termasuk penelitian lebih lanjut, pengembangan regulasi, dan keterlibatan dengan stakeholder industri,” pungkas Rizkal. 

Regulasi yang adaptif dibutuhkan untuk memitigasi fenomena Novel Foods serta mencegah potensi kejahatan di bidang pangan olahan. Adopsi regulasi yang tepat sasaran yang didukung oleh komunikasi risiko optimal akan mendorong iklim inovasi pangan olahan berkelanjutan di Indonesia. (Tim CT PO./HM-Rizky)

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana