World Health Organisation (WHO) mendefinisikan bahwa tindakan keamanan pangan memiliki tujuan untuk memastikan bahwa semua pangan aman untuk dikonsumsi. Tindakan maupun kebijakan keamanan pangan yang dilakukan harus mencakup keseluruhan mata rantai pangan, dari produksi hingga siap dikonsumsi. Badan POM bekerjasama dengan International Life Sciences Institute of Southeast Asian Region (ILSI-SEAR), menyelenggarakan kegiatan peningkatan capacity building di bidang keamanan pangan pada tanggal 11 April 2016 di Hotel Grand Mercure, Jakarta. Workshop ini mengangkat topik Global Network and Multi-disclipines Approach to Strengthen National Food Safety yang disampaikan oleh Prof. Jorgen Schlundt, Michael Fam Chair Professor Food Science and Technology, Nanyang Technological University. Prof. Schlundt adalah salah satu pakar yang pernah bergabung di WHO serta aktif sebagai peneliti di bidang chemical food safety, microbiological food safety, antimicrobial resistance, foodborne diseases, dan biotechnology.
Kegiatan sharing experiences ini bertujuan untuk: 1) Membagi pengalaman mengenai kerangka pola pikir internasional terkait keamanan pangan, 2) Membagi informasi mengenai isu-isu keamanan pangan terkini serta program monitoring dan surveilan di tingkat internasional, serta 3) Mengembangkan perkuatan keamanan pangan nasional melalui multi-disclipines approach dan peran jejaring keamanan pangan global. Workshop ini diikuti oleh sejumlah peserta yaitu perwakilan dari Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner – Kementerian Pertanian, Badan Karantina Pertanian - Kementerian Pertanian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Daya Saing Produk dan Bioteknologi – Balitbang Kementerian Perikanan, Direktorat Gizi Masyarakat – Kementerian Kesehatan, Direktorat Produksi dan Distribusi Kefarmasian – Kementerian Kesehatan, Direktorat Kesehatan Lingkungan – Kementerian Kesehatan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Komunikasi dan Informasi, ILSI, perwakilan dari Direktorat di Kedeputian III Badan POM, Pusat Informasi Obat dan Makanan, Pusat Riset Obat dan Makanan, serta Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional. Drs. Halim Nababan, MM, selaku Direktur Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan, Badan POM memberikan sambutan pengantar pada kegiatan ini.
Prof. Schlundt dalam pemaparannya menyampaikan pola pikir internasional pada ranah keamanan pangan saat ini, yaitu berdasarkan kerangka analisis risiko dimana kebijakan dan keputusan yang diambil harus mengacu pada dasar ilmiah dan independen, dengan mengutamakan transparansi, manajemen integrasi dan kolaborasi inter-sektoral serta fokus pada area yang memiliki risiko tinggi. Dalam hal ini pihak akademisi sebagai risk assessor harus mampu memberikan masukan dan saran ilmiah kepada pemerintah selaku risk manager, selain itu pihak regulator pun dituntut untuk mampu mengkomunikasikan dengan cepat dan tepat melalui komunikasi risiko. Banyak sekali data-data hasil penelitian ilmiah yang sudah dilakukan ditingkatan universitas/akademisi, namun seringkali belum dapat merefleksikan permasalah-permasalahan yang terjadi pada masyarakat karena kurangnya komunikasi antara ranah peneliti dan pemerintah selaku regulator.
Selain itu perkembangan keamanan pangan terkini adalah penggunaan new genetic fingerprinting dan memanfaatkan jejaring internasional untuk mewaspadai bahaya yang timbul pada pangan di wilayah manapun di dunia. Sebagai contoh implementasi yang sudah dilakukan, Prof. Schlundt menyampaikan pentingnya subtyping of Salmonella for source attribution yaitu sequence-based typing pada mikroorganisme, terutama untuk penelusuran kasus-kasus sporadis. Data mikrobiologi molekular merupakan informasi esensial bagi efektivitas program monitoring dan surveilan keamanan pangan. Prof. Schlundt juga menjelaskan bahwa terdapat 2 (dua) jejaring keamanan pangan internasional, yaitu Global Foodborne Infections Network (GFN) dan International Food Safety Authorities Network (INFOSAN). GFN memiliki misi untuk membantu peningkatan kapasitas negara-negara anggota untuk mendeteksi, merespon dan melakukan tindakan pencegahan terhadap foodborne dan enteric infections. Selain itu GFN membantu memfasilitasi kolaborasi intersektoral antara bidang kesehatan manusia, veteriner dan pemangku kepentingan lainnya, dan GFN juga mempromosikan intergrasi serta membangun sistem laboratorium berdasarkan pada program surveilan. Sedangkan INFOSAN merupakan jejaring global sebagai wadah dari para pemangku kewenangan dibidang keamanan pangan dengan beranggotakan sekitar 177 negara yang melakukan berbagai aktifitas dengan tujuan untuk pencegahan foodborne diseases. INFOSAN memberikan informasi dan pendampingan terhadap anggotanya serta memfasilitasi interaksi dan pertukaran informasi diantara pemangku kewenangan keamanan pangan baik pada tingkatan emergency alerts maupun aktivitas non-emergency.
Pada sesi tanya jawab, peserta antusias menanyakan beberapa program keamanan pangan yang sudah diimplementasikan secara internasional, antara lain mengenai penerapan program Antimicrobials Resistance (AMR) yang sebenarnya sudah dilakukan di beberapa area pemangku kepentingan di Indonesia namun data hasil penelitian yang dilakukan masih tersebar sehingga belum dapat menggambarkan profil from farm to fork secara nasional. Terkait hal tersebut Prof. Schlundt menegaskan kembali pentingnya melakukan kolaborasi inter-sektoral melalui perkuatan jejaring, karena dengan mengintegrasikan berbagai tindakan dan respon akan menghasilkan suatu upaya efektif untuk menyelesaikan berbagai permasalahan keamanan pangan dan menjamin pangan aman bagi semua orang.
Dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran pentingnya perkuatan jejaring keamanan pangan pada tataran nasional dengan mengacu dan berkolaborasi dengan jejaring keamanan pangan global untuk menelusur dan mencegah terjadinya foodborne diseases. Selain itu, mengingatkan kembali perlunya dibangun multi-disciplines approach dengan melibatkan inter-sektoral linkage untuk memperoleh keterpaduan data maupun program dalam membangun sistem keamanan pangan di Indonesia. Kegiatan peningkatan kapasitas dibidang keamanan pangan ini berjalan baik, dengan adanya pertukaran pengetahuan dan interaksi yang komunikatif antara narasumber dan peserta. Diharapkan rekomendasi yang dihasilkan pada kegiatan ini dapat ditindaklanjuti untuk memperkuat sistem keamanan pangan, baik di tataran nasional maupun global.
