“Kosmetika yang aman, bermanfaat, dan bermutu sangat dipengaruhi oleh bahan baku yang digunakan. Percuma menerapkan Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB) kalau bahan bakunya tidak berkualitas”. Demikian sepenggal penuturan Kepala Badan POM, Roy Sparringa saat membuka acara Pameran dan Seminar Indonesia Cosmetic Ingredients (ICI) 2016 pada hari Rabu (11/5) lalu.
Bertempat di Hall D Jakarta International Expo, Kemayoran, Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) menyelenggarakan acara Pameran dan Seminar ICI 2016 yang berlangsung dari tanggal 10 hingga 13 Mei 2016. Acara ini diadakan dalam rangka memperkenalkan tren produk dan teknologi terbaru di bidang kosmetika. Turut hadir dalam acara tersebut adalah Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetika, dan Produk Komplemen Badan POM, Ketua Umum Perkosmi, perwakilan dari Kementerian Perindustrian dan Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, serta para pelaku industri kosmetika dari Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya.
Ketua Umum Perkosmi, Nurhayati Subakat dalam kata sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata dalam upaya mendorong kemajuan industri dan pasar kosmetika di Indonesia yang saat ini sedang mengalami pertumbuhan pesat. Pesatnya perkembangan tersebut menjadikan industri kosmetika sebagai salah satu industri prioritas yang diandalkan sebagai penggerak utama perekonomian di masa mendatang.
Walaupun demikian ada beberapa tantangan besar yang harus diatasi, salah satunya adalah ketersediaan bahan baku lokal. Bahan baku kosmetika saat ini 90% masih menggunakan bahan baku impor. Ini mengindikasikan bahwa peluang industri kosmetika dalam negeri untuk melakukan perluasan produksi di bidang bahan baku kosmetika lokal masih sangat besar. “Tantangan ini perlu dihadapi, salah satunya dengan cara meningkatkan integrasi yang baik antar industri-industri kosmetika dari tingkat hulu hingga ke hilir”, ujar Herman Supriyadi, Direktur Industri Kimia Hilir Kementerian Perindustrian yang turut hadir di pembukaan acara Rabu lalu.
Untuk itu, Pameran dan Seminar ICI 2016 ini hadir sebagai salah satu sarana untuk membangun networking yang lebih baik antar pelaku industri kosmetika agar mampu memaksimalkan potensi lokal dalam mengembangkan industri kosmetika Indonesia yang lebih mandiri. Dengan kegiaran ini diharapkan dapat menggugah motivasi pemain industri baru dan menyadarkan pemain industri lama untuk terus mengembangkan kompetensi dan kemampuan yang ada, terutama potensi di dalam negeri, untuk menghasilkan produk kosmetika Indonesia yang aman, bermanfaat, dan berkualitas serta mampu bersaing di pasar lokal maupun global.
Pada hari pertama acara ini, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik, dan Produk Komplemen Badan POM, Ondri Dwi Sampurno berkesempatan menjadi narasumber pada salah satu sesi seminar. Beliau menyampaikan informasi mengenai debirokratisasi dan deregulasi dari Badan POM untuk mendukung perkembangan industri kosmetika di Indonesia. Selain itu, Badan POM sebagai lembaga regulator dan pengawas di bidang Obat dan Makanan termasuk kosmetika juga diundang untuk ikut berpartisipasi membuka booth di area pameran. Pengunjung yang sebagian besar berasal dari kalangan pelaku usaha kosmetika terlihat antusias mengunjungi stand dan menanyakan informasi seputar peraturan-peraturan yang harus diperhatikan dalam menjalankan usaha di bidang kosmetika. (HM-Herma)
Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat
