Pastikan Proses Produksi Berjalan Baik, Kepala Badan POM Tinjau Langsung Sarana Produksi dan Distribusi Produk Biosimilar dan Produk Pangan

18-01-2017 Hukmas Dilihat 4366 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

CIKARANG – Kepala Badan POM, Penny K. Lukito beserta jajaran lakukan tinjauan langsung ke  PT. Kalbio Global Medika (KGM) yang memproduksi produk Biosimilar di daerah kawasan Industri Cikarang dan PT. Kalbe Morinaga Indonesia (KMI) yang memproduksi produk pangan di Cikampek, Rabu (18/01). Tinjauan ini dilakukan dalam upaya Badan POM untuk menjamin bahwa obat dan pangan  yang diproduksi dan diedarkan di Indonesia telah memenuhi standar dan persyaratan keamanan, manfaat, dan mutu.


Kunjungan pertama Kepala Badan POM  ke PT. KGM dimulai dengan presentasi sejumlah Pimpinan PT. KGM yang dilanjutkan kunjungan ke beberapa sarana produksi dan distribusi. Dalam paparannya, Irawati Setiady selaku presiden direktur PT. KGM menyampaikan bahwa setahun ini KGM sudah bekerja keras untuk mempersiapkan segala sesuatu terkait pemenuhan persyaratan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). PT. KGM bekerja sama dengan China dan Korea Selatan mempelajari teknologi pembuatan obat biosimilar.


"Diharapkan pada tahun 2018 dapat memproduksi obat biosimilar yang pertama", pungkas Irawati.


Dalam sambutannya, Penny merespon bahwa Badan POM sangat mendukung pelaku usaha di bidang farmasi nasional untuk investasi di bidang biosimilar.


Saat ini pasar biosimilar di dunia telah mencapai 16%  dari total market farmasi global. Produk biosimilar telah menjadi tren di pasar kelas menengah ke atas seperti produk insulin, anti kanker, dan lainnya.

 

Diketahui bahwa perdagangan bebas selain memberikan pengaruh positif, juga memiliki dampak negatif karena  berpotensi masuknya berbagai produk Obat dan Makanan ilegal juga palsu. Oleh karenanya pengawasan pre dan post market harus senantiasa ditingkatkan melalui kerja sama sinergi dengan jajaran terkait.


"Badan POM telah menerbitkan pedoman penilaian produk biosimilar serta pedoman tentang tata laksana dan penilaian obat pengembangan baru yang bertujuan untuk melakukan bimbingan dan pengawalan selama proses pengembangan obat baru", lanjut Penny.

 

Kunjungan dilanjutkan Kepala Badan POM beserta jajaran  ke lokasi kedua yaitu pabrik PT. KMI, dimana keduanya merupakan anak perusahaan PT. Kalbe. Tidak jauh berbeda dengan kegiatan sebelumnya, acara tersebut dimulai dengan presentasi pimpinan PT. KMI dilanjutkan diskusi dan tinjauan ke sarana produksi dan distribusi.


Ke depan Badan POM akan membuat sistem QR Code, terutama untuk produk obat yang berdampak besar, seperti vaksin. Dengan demikian, masyarakat juga bisa ikut melakukan pengawasan. "Sistem  QR Code ini perlu kerja sama dengan industri karena nanti industri yang akan membuat barcodenya. Sistem ini kan dilakukan secara bertahap, dengan vaksin sebagai prioritas dan juga produk obat yang sering dipalsukan", imbuh Penny.


Badan POM dalam melaksananakan tugas pengawasan terhadap produk yang beredar, tidak mungkin efektif bila hanya mengandalkan Badan POM sebagai single player, mengingat produk yang diawasi merupakan produk yang menguasai hajat hidup orang banyak, dengan jenis produk mencapai ribuan yang harus diawasi secara full spectrum yaitu pengawasan mulai dari bahan baku, proses produksi, distribusi, hingga dikonsumsi. "Badan POM membutuhkan bantuan, kerja sama dan sinergisme dengan instansi/stakeholders terkait sesuai dengan kewenangan dan bidang tugas masing-masing dalam rangka memberikan perlindungan kepada masyarakat dari produk yang membahayakan kesehatan", tegasnya. HM-Rahman

 

Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana